***
Tak perlu reservasi. Bisma hanya tinggal meminta 2 kunci kamar yang nomornya berurutan kemudian memberikan salah satunya padaku.
"Kamar kita di lantai 2. Ayo!"ujarnya kemudian berjalan santai mendahuluiku
Aku berlari kecil untuk menyetarakan langkah kami kemudian berjalan beriringan dengannya.
***
Aku membuka pintu kamar hotel yang akan ku tempati hingga besok siang.
Aku menganga tak percaya dengan apa yang ku lihat sekarang.
Sebuah kamar yang ku yakini ini adalah suite room yang harga per malamnya pasti lebih dari 10 juta. Besarnya mungkin 3 kali lebih besar dari kamarku.
Setelah cukup puas berkeliling kamar, aku menata pakaianku di almari dan kemudian merebahkan tubuhku di tempat tidur. Aku memejamkan mata dan terlelap ke alam bawah sadarku.
Deringan ponselku memaksaku kembali ke dunia nyata. Aku membaca sekilas nama yang kini tertera di layar hand phoneku itu.
Bisma
"Hallo"
"Kenapa lama sekali?"
Aku menyeritkan alisku sembari menyandarkan punggungku.
"Apanya?"
"Astaga! Jadi kamu belum buka pesan dariku?"terdengar suaranya yang mulai kesal
Aku semakin menyerit bingung. Apakah sesuatu yang penting?
"Dan sekarang...suaramu seperti orang baru bangun tidur. Kau belum mandi dan bersiap?"
"Bersiap kemana sih? Bukankah acaranya nanti malam?"bingungku
"Kita akan keluar mencari angin segar. Cepat mandi dan bersiap!"balasnya dengan suara dingin
Aku menghela napas kemudian memutuskan sambungan telepon kami.
Aku mengecek aplikasi what's app dan menemukan banyak pesan dari Bisma. Ternyata sedari tadi ia telah menunggu di depan kamarku.
Aku merasa bersalah padanya. Seorang Bisma rela menunggu begitu lama di depan pintu hotel gadis sepertiku?
"Kembalilah ke kamarmu dulu! Aku akan menghubungimu setelah aku siap"
Setelah memencet tombol sand, aku segera meletakkan hand phone ku di nakas kemudian beralih ke kamar mandi.
30 menit berlalu. Aku keluar dari kamar hotelku dan menemukan Bisma berdiri tepat di hadapanku.
Dia menatapku datar. Mungkin karena kecerobohanku tadi.
"Maaf tadi aku benar-benar lelah jadi ketiduran"ujarku dengan nada begitu tulus
Bisma mengangguk. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia menggandeng tanganku dan menarikku.
"Eh" aku sempat tersentak namun detik berikutnya aku menyamakan langkahku dengannya dan berjalan ke arah lift.
Aku harap dia tidak marah.
*
Bisma menghentikan langkahnya saat kamo tiba di tepi pantai.
Dan lagi, aku di buat terpesona oleh apa yang ada di hadapanku kini. Pantai berpasir putih yang tak begitu ramai, seakan ini adalah pantai pribadi.
Bisma melepas gandengan tangannya kemudian menatapku.
"Gimana? Bagus kan?"tanyanya
Belum sempat aku menjawab, ia kembali mengeluarkan suaranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY BELOVED FIANCE (LovelyChick1) (Completed✔)
ChickLit#44 in chicklit (16-12-2017) #68 in chicklit (24-12-2017) #69 in chicklit (13-12-2017) Usia 19 tahun dan aku di jodohkan? Fine. Karena aku tak dapat menolak, atau ayah pasti akan memarahiku habis-habisan. BISMA. Seorang pria dengan wajah santainya...
