***
Aku menatap kesal ke arah Bisma. Memalukan sekali dia.
"Kenapa? Dia terus saja menatapmu"ujar Bisma seakan tau isi otakku
Aku kembali menghela nafas kemudian beralih pada makanan dan minuman di hadapanku.
Abaikan saja, Mawar. Dia memang gila.
***
Waktu menunjukkan pukul 8.40. Bisma membawaku berkeliling ke daerah pedesaan Bali.
Aku membuka kaca di sebelahku dan mengarahkan wajahku ke arah luar. Menikmati semilir angin yang menerpa wajahku.
Aku menormalkan posisi dudukku setelah merasa pegal. Aku sedikit menoleh ke arah Bisma.
"Bis, boleh aku ngeluarin tanganku? Anginnya segar banget"ucapku meminta izin
Bisma balas menatapku sebentar kemudian mengangguk.
Akupun segera mengeluarkan tangan kiriku. Seakan menabrakan kulit tanganku pada angin yang melewatiku.
Mataku terpejam, menikmati desiran angin yang terasa sejuk khas pedesaan.
Tak lama kemudian, mataku terbuka saat merasakan mobil Bisma berhenti. Aku menoleh ke arah Bisma, melemparkan tatapan bingungku.
Bisma tersenyum ke arahku. Ia mencondongkan dagunya seolah menunjuk sesuatu di belakangku. Akupun mengikuti arah yang ia tunjuk.
"Wahhh...."
Aku tercengang melihat pemandangan di depan mataku. Sebuah padang cukup luas yang terbalut warna putih bak salju.
"Sampai kapan mau disitu terus? Ayo turun!"suara Bisma mengintrupsiku untuk segera turun dari mobil
Aku mengikuti langkahnya mendekat ke arah padang berwarna putih itu.
"Padang Bunga Kasna"ujarnya
Aku menoleh ke arahnya, detik berikutnya aku mengangguk mengerti.
"Kau belum pernah kesini?"tanyanya setelah menghentikan langkahnya
"Belum. Bahkan aku tak pernah tau jika ada tempat seperti ini"jawabku, masih fokus melihat pemandangan di hadapanku.
Sejenak, kami sama-sama terdiam. Ku rasa Bisma sengaja membiarkanku menikmati pemandangan langka ini.
"Bis.."panggilku
Bisma segera menoleh ke arahku.
"Kamu tidak ingin mengajakku bermain di sana?"tanyaku sembari menunjuk ke arah tengah padang bunga itu
Bisma terkekeh sembari mengacak-acak poniku.
"Aku sudah terlalu tua untuk bermain. Mainlah sendiri! Nikmati sesukamu biar aku mengambil gambarmu dari sini saja"Bisma
Aku menatap tak setuju ke arahnya.
"Ayolah, aneh rasanya kalau main sendirian. Kamu harus ikut. Kapan lagi kita bisa datang kesini? Pasti Fany ngiranya kita ke luar negeri"rengekku
Bisma terdiam. Dia menatapku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan.
Aku balas menatapnya. Melemparkan tatapan penuh tanyaku padanya.
Aku terpenjat saat ku rasakan sebuah tangan menggenggam jemariku dan menarikku memasuki area padang bunga kasna.
Ternyata itu adalah tangan Bisma.
Ia membimbingku untuk menuju tengah area padang.
Di sepanjang perjalanan, aku terus melihat tangannya yang menggandengku. Rasanya sangat nyaman, hampir sama seperti saat ibu memelukku.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY BELOVED FIANCE (LovelyChick1) (Completed✔)
ChickLit#44 in chicklit (16-12-2017) #68 in chicklit (24-12-2017) #69 in chicklit (13-12-2017) Usia 19 tahun dan aku di jodohkan? Fine. Karena aku tak dapat menolak, atau ayah pasti akan memarahiku habis-habisan. BISMA. Seorang pria dengan wajah santainya...
