Apa sih definisi bahagia?
🐾🐾🐾
Sebagai warga Negara Indonesia yang baik, kalo kalian liat trotoar khusus pejalan kaki tapi banyak pengguna kendaraan yang melanggar. Apa reaksi kalian selanjutnya?
Kan kesel sendiri, kalo lagi jalan santai-santai terus ada motor lewat trotoar, siapa yang mau ngalah? Siapa yang salah coba?
Milly memikirkan semua hal itu sejak 3 menit berhenti tepat di depan motor sport hitam yang terparkir apik di trotoar jalan, khusus pejalan kaki itu.
Yang punya motor, niat parkir ga sih?
Diam. Mengamati seperkian detik apa yang harus dilakukannya pada motor itu. Detik selanjutnya ia menjentakan jari, menandakan kalau ia menemukan ide cemerlang. Milly berjalan mendekati motor, mulai berjongkok tepat didepan roda motor bagian belakang.
"Mau apa lo?" tanya Deby bingung.
"Lo mau liat mahakarya terbaru gak?" jawab Milly tanpa perlu repot menengok kebelakang.
Kening Deby mengernyit, apalagi yang akan dilakukan sahabat tergilanya ini coba. Tapi dia hanya diam memperhatikan Milly yang mulai beraksi.
Milly membuka tutup angin pada roda motor. Angin dalam ban mulai berhembus keluar dan ban pun mulai mengempes. Apalagi kalau bukan mengempeskan roda motor yang entah milik siapa itu.
Hal yang sama ia lakukan juga pada roda depan motor. Sekarang keduanya sudah benar-benar kempes sempurna. Tapi seperti masih ada yang kurang, Milly menimang-nimang sejenak. Hingga ide lain pun muncul kembali.
Segera ia berdiri, memutar tubuhnya untuk menghadap Deby yang masih setia berdiri dengan mulut mangap, persis kek kuda nil. Tapi gak selebar itu juga.
Milly tau, sahabatnya ini pasti masih terkagum akan ulahnya. Makanya masih berdiri kaku kek patung.
"Gincu lo mana?" satu tangannya menengadah, membuka dan tutup, menanti barang yang dia minta.
Deby menatap tangan Milly dengan alis yang bertaut. Masih belum sepenuhnya sadar dari keterkejutannya.
"Ck. Lo ga tau gincu? Lipstik Deb, lipstik. Mana sini!" pintanya lagi, kali ini agak gak sabaran.
"Buat apaan coba?" tapi tangannya tetap mengambil barang yang dipinta Milly dalam tasnya.
Setelah mendapatkan apa yang ia minta, Milly berbalik. Menatap kembali motor didepannya. Senyumnya kembali mengembang penuh makna.
"Buat seni," jawabnya terlewat santai. Kini tangannya mulai terulur ke jok motor, menulis sesuatu disana, beralih ke kaca spion.
Deby dibuat melongo melihat apa yang dilakukan Milly pada lipstiknya yang tak berdosa itu. Padahal benda itu baru saja dibelikam oleh Mamanya kemarin. Katanya biar Deby bisa belajar dandan, padahal tujuan aslinya biar gak ketahuan Papahnya kalau Mamanya beli lipstik baru. Alhasil Deby lah yang diminta menyimpannya.
Dan kini ia harus merelakan lipstiknya sudah tak berbentuk akibat ulah Milly yang kurang ajarnya itu. Apa katanya pada sang Mama coba? Ah menyusahkan kali.
"Gimana? Baguskan mahakarya gue? Pastinya, Milly gitu." Bangga Milly pada dirinya sambil menepuk dada, tersenyum puas melihat karyanya memenuhi hampir seluruh body motor.
"Lo apain lipstik gue!" seakan tersadar dari mimpi buruk. Deby berteriak heboh.
"Lo tau kan, itu punya emak gue. Apa kat–" Protesnya terhenti karena Milly menempelkan telunjuknya yang berwarna merah, berlumur lipstik tepat di bibirnya. Ia mengoleskan bekas lipstik itu dibibir Deby.
KAMU SEDANG MEMBACA
INTUISI
Teen Fiction"Kenapa lo selalu mengusik hidup gue!" "Karena aku suka sama kamu." "Jauh-jauh dari hidup gue!" "Gak bisa. Intuisiku ngarahnya ke kamu, apa masih kurang jelas?" ~~~ Ini adalah kisah dimana perjuangan, pengorbanan, dan pengharapan seorang -Millynea A...
