Suasana kelas XI Bahasa 2 terlihat tenang. Bagaimana tidak tenang, Bu Cecill guru PPkN yang terkenal tegas dan disiplin itu selalu menampakan wajah berwibawanya.
Semua anak juga tahu, kalau ada yang berisik saja di waktu pelajaran berlangsung bakalan kena akibatnya sendiri. Palingan disuruh bersihin toilet atau bahkan disuruh menggantikannya menerangkan di depan murid kelas itu.
Tapi sebenarnya maksud dari itu semua baik, agar tidak ada yang mengacuhkan orang yang sedang berbicara. Coba bayangkan, kalau teman yang diajak ngobrol malah cuekin kita, rasanya gak enak, kan?
Kali ini materinya tentang Pelanggaran HAM di Indonesia. Awalnya kondisi kelas masih kondusif, dan tenang. Tapi menjelang pergantian jam ke-3 pelajaran, dan begitu Bu Cecill mengakhirinya dengan salam, kemudian keluar, kelas berubah seperti di pasar.
Pasalanya setelah ini mereka akan mengadakan ulangan harian matematika.
Bayangkan saja, setelah bahas tentang pasal-pasal kini harus berputar 360° menjadi deretan angka-angka matrik?
Dari suasana kelas yang sunyi berubah menjadi mencekam. Sudah seperti film horor, bukan?
Apalagi tak sedikit dari mereka yang baru tahu kalau hari ini akan diadakan ulangan harian. Banyak yang sudah berteriak-teriak pinjam catatan yang lengkap, ada juga yang mulutnya komat-kamit bak dukun, tapi kali ini yang dirapalkan bukan mantra, melainkan rumus-rumus matriks.
Suasana semakin gaduh, Milly sama seperti mereka. Sibuk mengingat-ingat rumus yang sejak tadi tak bisa ia pahami.
Meski ia tau, kalau matematika itu seharusnya dipahami bukan cuma diingat rumusnya saja. Tapi apa boleh buat, dia memang lemah dalam segala hal.
Kalau ia jago matematika, pasti sudah dari dulu ia masuk IPA. Tapi baru disuguhi rumus matriks saja sudah membuat kepalanya beruap.
Tak tahan lagi, sudah cukup membuatnya kenyang melihat deretan angka dan rumus. Milly beranjak dari tempat duduknya, kantung kemihnya terasa penuh kali ini.
Milly izin pada ketua kelas untuk pergi ke toilet. Deby masih sibuk berkutat dengan rumus-rumus, tak menghiraukan Milly yang keluar kelas.
Tak butuh waktu lama bagi Milly di toilet, karena setelah ini akan di adakan ulangan maka dia harus datang tepat waktu, kalau tidak, habislah dia.
Baru saja dia akan kembali ke kelas, tapi suara perbincangan dua anak putri yang sedang bercermin di toilet menyita perhatiannya.
Milly diam di depan pintu toilet, sambil mendengarkan percakapan mereka.
"Lo tau gak? Sekolah kita ada anak baru, loh."
"Serius?"
"Iya, dia pindahan dari Australia. Kelas XI IPA 1."
Kelas Milen.
"Katanya sih anaknya cantik. Makanya sekarang banyak yang kerumunin tuh kelas cuma mau liat murid baru."
"Wah.. Tumbenan anak baru dikerubutin kayak semut. Saking cantiknya apa? Masih mending gue kemana-mana lah ya."
"Mending gak usah dibawa kemana-mana. Badan lo kan gede kek gentong, nyesekin tempat mah iya." mereka tertawa bersama setelahnya.
Milly mengabaikan celotehan terakhir mereka. Tapi ia juga dibuat penasaran akan kebenarannya. Siapa anak baru itu?
Memikirkan pembicaraan mereka membuatnya lupa kalau dia sekarang berdiri tepat ditengah-tengah pintu.
"Woi! Lo mau jadi penunggu pintu toilet?" kalau bukan karena teguran itu, ia mungkin masih berdiri konyol didepan pintu masuk toilet.
Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Milly memilih memutar jalannya melewati kelas IPA. Ia penasaran dengan anak baru yang dibicarakan siswi tadi di toilet.
KAMU SEDANG MEMBACA
INTUISI
Teen Fiction"Kenapa lo selalu mengusik hidup gue!" "Karena aku suka sama kamu." "Jauh-jauh dari hidup gue!" "Gak bisa. Intuisiku ngarahnya ke kamu, apa masih kurang jelas?" ~~~ Ini adalah kisah dimana perjuangan, pengorbanan, dan pengharapan seorang -Millynea A...
