27• Plester Bintang

1.9K 120 1
                                        

Bodoh! Mungkin memang itu ungkapan yang tepat untukku saat ini. Karena aku bahagia saat terluka, kenapa? Karena kamu alasannya.

•Millynea Alsava•

🐾🐾🐾

Selama ulangan kimia berlangsung, hingga jam pelajaran ke empat selesai, Milen terus saja duduk dengan gelisah pikirannya menerawang jauh kesana, ia sendiri bingung akan hal itu.

Dihukum apaan tuh anak?

Sedari tadi Milen terus membatin, pertanyaaan itu terus berputar dalam otaknya.

Beruntunglah dia karena bisa mengikuti ulangan kimia kali ini berkat Milly, dan masih untungnya karena guru kimia itu telat masuk, jadi Milen tidak perlu susah payah menjelaskan apapun.

Bella yang kini sudah memiliki banyak teman pun nampak sibuk dengan mereka.

"Oy!! Cepet kumpul di lapangan sekarang, Pak Ega udah nungguin noh." seruan Zaki sang ketua kelas membuyarkan lamunan Milen.

Segera ia bangkit dan melangkahkan kakinya menuju lapangan.

...

Entah untuk kesekian kalinya Milly menyeka keringat yang terus berjatuhan diwajahnya, bahkan rambutnya yang ia kuncir kuda sekarang pun sudah lepek karena keringat.

Masih ada tiga putaran lagi, dan ia harus segera menyelesaikan itu jika ia ingin cepat istirahat. Maka dengan sisa tenaganya Milly terus berlari memutari lapangan utama yang luasnya seluas lapangan GBK kalau lagi saat-saat dihukum begini.

Detik disisa larinya Milly tersandung batu dan membuatnya jatuh terjerembab, bahkan kakinya sampai tergores. Akibatnya ia harus terpaksa berhenti dan menepi.

Tanpa Milly sadari dari arah lain, tepatnya dilapangan basket, ada seseorang yang terus memperhatikannya dalam diam.

"Oyy!! Bengong mulu dah, lalerin tau rasa lu."

"Ck. Gue gak bau kaya lo, jadi gak mungkin laleran." ketus Milen, sebelum ia memutuskan tuk beranjak.

"Eh, kemana? Bentar lagi giliran lo main, kalo Pak Ega tau lo kabur, abis entar." celoteh Darren.

"Boker, " jawab Milen asal.

"Oh, jangan lupa siram pake air dan tutup kran setelahnya, boy! " disusul gelak tawa Darren, padahal tidak ada lucunya sama sekali bagi Milen.

Kembali pada Milly yang terus merintih karena mata kakinya ternyata mengeluarkan darah, bahkan berdiri pun ia susah, gimana mau lanjut lari coba?

Detik berikutnya sebuah uluran tangan memberinya plester bergambar Bintang kesukaannya.

Dengan kebingungan Milly memberanikan diri melihat siapa yang memberinya uluran itu. Demi ayam gorengnya Ipin, Milly rela beliin 2 ringgit dari Mail, buat kasih makan. Karena apa?

"Pake ini. "

"Milen beli plester buat Milly?"

Milen yang mendengar pertanyaan itu mendengus kesal, memang siapa lagi menurutnya yang lagi luka sekarang? Unfaedah bukan?

"Buat tikus di gorong-gorong."

Senyum Milly meredup seketika, menyadari pertanyaan bodohnya itu.

"Ck. Nih pake sendiri, yang luka kaki kan? Gak sampe tangan." tukas Milen.

Milly menerima plester tersebut. Setelah membersihkan darah yang masih keluar dengan alkohol dan obat merah yang Milen bawa, Milly menutup lukanya sendiri dengan plester yang Milen bawa juga.

Milen masih menungguinya sampai ia selesai, tapi enggan untuk membantu atau bersuara sekalipun. Masih dengan gaya culasnya, Milen yang dingin.

"Gue terima permintaan lo buat ajarin matem," mendengar kata itu keluar dari mulut Milen bagaikan petir disiang bolong, kesambet apa coba Milen bisa ngomong sedatar itu, tapi efeknya luarbiasa ini.

Milly masih shock, dia hanya menatap Milen dengan wajah minta penjelasan.

"Tapi gue cuma bakal ajarin tiap hari sabtu sama minggu, selain itu gue gak janji."

Sumpah, mimpi apa semalam Milly? Ini kalimat terpanjang yang pernah Milly dengar dari Milen selama ini.

Milly hanya mampu tersenyum senang, meski jantungnya sudah jungkir balik disana.

"Apa?" Milly hanya menggeleng. Tidak mau membuang waktunya terlalu lama lagi, Milen memutuskan untuk beranjak. Sebelum pergi kembali ia menatap Milly diam.

"Kenapa?" tanya Milly bingung.

"Jangan lupa buang sampahnya, kalo gak mau kena hukum lagi." lekas mengatakan itu Milen melanjutkan langkahnya yanh tertunda.

Milly diam-diam tersenyum, memandang mata kaki telanjangnya yang dibalut plester pemberian Milen, lalu menatap punggung Milen yang mulai menjauh.

"Leno" panggilnya.

Milen berhenti tapi enggan berbalik, untuk pertama kalinya lagi ia mendengar panggilan itu. Rasanya... Ada suatu yang aneh bagi Milen.

"Makasih,"

Menghembuskan napas kasar, Milen berdehem untuk menjawab kata "terimakasih" Milly.

Setelah Milen kembali ke kerumunan anak kelasnya, Milly masih senyam-senyum tidak jelas, bahkan rasanya ia ingin berjingkrak kegirangan sekarang juga, kalau ia lupa kakinya tengah luka sekarang.

Milen dan sifatnya yang tidak pernah bisa ia tebak adalah misteri yang tidak pernah ingin ia buka, tapi selalu ingin ia tahu meski berulangkali Milen mengelaknya.

Milen masih punya hati kan?


🐾🐾🐾

14 July'18

TBC ⇨

Aiii... Maapkan Lucy yang ngaret dari up selama berbulan" ini dan tiba-tiba muncul menuhin notif kalian lagi 🐨

Jadi, apa masih ada yang rindu sama MilMel ini?? Uhh.. Lanjut baca lagi kuy, kalo lupa baca lagi dari awal 👽 oke, males pasti 😁 yaudah vote sama komen aja yang jelasnya. Dan terus stay dulu sampe bener" kelar yahh..

Calam tayang pacalnya kooki 🐰

INTUISICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang