34. Meluluh

964 51 9
                                        

Sedikit pedulimu itu nyenengin :)

Tik tok tik tok.

Denting jam diruang tamu terasa menggema di telinga. Suasana saat ini begitu hening, tiada satupun dari dua manusia yang mencoba untuk fokus tapi otak mereka penuh dengan pertanyaan yang buntu akan jawaban.

Hoamm,

Milly menguap entah untuk yang keberkian kalinya. Dia sudah lelah. Otaknya meminta untuk tidur, mata Milly sudah berat, bahkan kelopak matanya sudah tidak sanggup untuk berjaga. Lain halnya dengan Milen, ia begitu fokus mengerjakan beberapa latihan soal selagi menunggu Milly selesai mengerjakan.

"Leno, Milly ngantuk."

Milen meletakan pulpen dan bukunya diatas meja, beralih menatap Milly yang bisa dibilang mirip dengan zombie hidup.

Beralih menatap jam dinding yang masih setia menemani keheningan malam.

22.10 pm.

Milen sedikit terkejut untuk dua detik. Berpikir, waktu bertamunya sudah melebihi batas yang ia tentukan.

Salahkan saja Milly yang ngaretnya keterlaluan.

Milen menghembuskan napas lelah. Cukup untuk hari ini.

"Oke. Kita masih ada satu sesi pertemuan sebelum ujian. Gue harap lo bakal tepat waktu." Ucapnya sembari merapikan peralatan tulis dan buku-buku yang berserakan.

Milly tersenyum lega. Bayangan akan kasur yang nyaman sudah menantinya.

Dengan semangat Ia menganggukam kepala.

"Ayay captain."

Milen sudah bersiap untuk pamit. Tapi Milly menahan lengannya.

Berkata lirih namun masih dapat Milen dengar dengan jelas. "Maaf untuk keterlambatannya. Tadi Milly rampungin tugas dari Raka dulu."

Milen tau.

Milen melihat Milly yang tengah sibuk berkutat dengan banyaknya kertas-kertas yg berserakan di meja, ruang jurnalistik. Kebetulan ruangan itu bersebelahan dengan ruang OSIS yang hendak ia sambangi.

Milen juga melihat raut keputus asaan Milly yang sangat ketara.

Dia jadi merasa bersalah,

Tunggu. Milen hanya simpati.

Jadi anggap saja begitu. Dan sekarang Milen sudah pamit untuk pulang, tinggal Milly yang berusaha bangun menuju kamar. Kakinya terasa berat,

"Oh kasur, I miss u so much," teriaknya nyaring. Rasanya ia ingin langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur saat ini juga.

🐾🐾🐾

Pagi ini Milen merasa tenang kembali menjalani kehidupan normalnya.

Sudah 2 hari ini, Milly sedang anteng. Mungkin dia sibuk memoersiapkan segala sesuatu untuk perlombaan sekaligus bazar yang sengaja di adakan pihak sekolah untuk menarik perhatian para donatur.

Jadi, Milen bisa merasa bebas dari segala gangguan Milly.

"Len, pinjem pulpen dong, gue punya seret nih. Susah nulisnya."

Daren terus saja menggoyangkan kusri Milen dari belakang.

Ck. Dasar gak modal. Untung temen. Batin Milen terus mengumpati.

"Buruan len, nyari pulpen aja kek nyari jodoh lu. Keburu Pak Sumo masuk nih."

"Berisik." Milen melepar pulpen kebelakang tanpa perlu repot-repot memikirkan kemana jatuhnya.

Naas sekali, jika kepala Darren yang jadi korban, sampai ia meringis sakit.

"Duh. Ga ikhlas bener dah. Kepala ini bukan kelapa batu!" Sungut Darren.

"Makanya belajar. Nyontek mulu kapan bener."

Milen memang sensitif. Tapi dia tidak jahat. Hanya sedikit, kejam. Ya.

"Bodoamat."

Milen hanya geleng kepala, meratapi bagaimana ia memiliki teman seperti Darren yang kebangetan ini.

Tangan Milen kembali meraba loker meja, mencari simpanan pulpen lain untuknya menulis, tanpa sengaja ia menjatuhkan sesuatu dari sana.

Pandangannya beralih pada seonggok kertas origami berbentuk pesawat "lagi" yang kini tergeletak di lantai.

Milen meraihnya, membuka lalu dibaca nya dalam diam.

Nekat. Sejauh mana aku berjuang,
Sejauh kamu terbang tinggi di langit dan aku menatap dari kejauhan.

Sedikit pedulimu itu nyenengin :)

Sedikit. Sudut bibir Milen terangat, membuat segaris senyum meski tak terang.

Apa dia mulai peduli pada semua post it itu? Apa ia hanya tertarik karena bentuknya pesawat?

Milen mencoba mempercayai opsi keduanya.

Kembali Milen melipat kertas origami tersebut. Menyimpannya dalam lekukan buku paket tebal, miliknya.

Apa Milen mulai mencair sedikit?

Semoga.

Lain halnya dengan Agam yang saat ini tengah berdiskusi dengan dokter yang menangani Mamanya.

Mendengarkan dengan saksama setiap kalimat yang keluar dari bibir sang dokter tanpa mau menyanggah, beberapa ekspresi ia keluarkan sebagai respon.

Setelah hampir satu jam lamanya ia mendengarkan. Agam keluar dari ruangan berpalang Dr. Bagiana tersebut dengan wajah tertunduk, menutup pintu dengan lirih.

Ia bahkan harus menguatkan dirinya sendiri sekarang. Mencari pegangan kokoh yang sanggup menopanganya.

Pandangan Agam menerawang jauh kedepan sana, tapi masih hampa.

"Gue butuh lo, Mentari."

🐾🐾🐾

20 March'20

Holaaa, apa kabar kalean semua yang sudah lama tergantung dengan MilMel?
Semoga sehat selalu. Jangan lupa jaga diri kalian dan sekitar agar tetap sehat💜.

Berhubung ada lockdown dan gaboleh kemana" yuk buka lagi buku lama, baca dan jangan lupa vote+komen nya.

Lupyu all,
pacal Jungkook pamit dulu. 🐰

INTUISITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang