Aku diam bukan berati tidak peduli. Aku diam supaya kamu berhenti. Berhenti buat berharap yang tidak pasti.
•Mileno Adhyastha•
💦💦💦
Milly bernapas lega di dalam taxi setelah berhasil lepas dari Agam.
"Dia anak Pertiwi kan? Tapi kok gue gak asing sama tuh cowok, ya." celetuk Deby tiba-tiba.
"Yap. Gue yakin banget, dia pasti cowok yang waktu itu di warung bakso."
Milly mengingat-ingat kembali. Dan kalo ini ia setuju dengan Deby.
"Tapi kok lo bisa kenal sih? Sampe nyamperin ke sekolah lagi." tanya Deby penasaran.
"Ceritanya panjang."
"Lo harus cerita sama gue." putusnya.
Milly menghela napas panjang.
"Eh, tapi traktirannya jangan lupa, ya."
"Gak ikhlas baget sih tolonginnya."
"Yey, janji adalah hutang, dan hutang harus dibayar."
Tapi nyatanya kalo diri sendiri yang utang mah amnesia, kalo di tagih ngomongnya pasti lupa mulu. Masa sih gue punya utang? Ah, kalo gitu ikhlasin aja ya. Anggap udah lunas.
Itu tuh, yang bikin Milly kesel kadang-kadang.
🐾🐾🐾
Milen baru saja sampai dirumah. Ia memarkirkan motornya di garasi.
Sekilas Milen memperhatikan rumah di depannya.
Pacaran dulu kali. Milen membatin dan memilih tak peduli. Kenapa juga dia harus peduli?
Milen teringat kejadian di depan gerbang gerbang sekolah tadi. Sebenarnya ia tak bermaksud untuk memarahi Milly. Tapi entah kenapa, Milly selalu saja bisa membuatnya emosi.
Sejak pertama kali ketemu setelah 10 tahun, masih saja sama. Milly selalu saja membuat masalah dalam hidupnya.
Dari kecil dia tak pernah berubah. Selalu saja rusuh, berantakan, dan melanggar aturan. Milen benci dengan orang seperti itu.
Bahkan mereka satu sekolah pun, Milen tidak tahu itu. Yang ia tahu, ada anak yang sering melanggar. Samar-samar juga ia tahu namanya. Tapi tak pernah berpikir kalau orang yang sering dibicarakan dan suka membuat masalah disekolahnya itu orang yang sama. Millynea Alsava.
Kalaupun ia tau, Milen tak akan pernah peduli. Karena selama 10 tahun ini, ia sudah melupakan semua kenangan masa kecil. Baginya itu hanya kisah masa kecil, cukup tau saja dan simpan saja dengan rapi.
Ia tak mau lagi berurusan dengan hal-hal yang membuang waktu, penuh main-main dan tidak teratur. Karena baginya itu hanya akan menghambat masa depan.
Ia tahu Milly gadis seperti apa. Dari kecil, dia selalu manja, cengeng, suka rusuh, melanggar, telat, tak teratur.
Sepuluh tahun sudah Milen menjalani hidupnya dengan tenang dan damai. Kini semenjak kepindahan rumahnya dia dipertemukan kembali dengan gadis yang selalu ingin ia hindari.
Gadis perusuh, entah ini berkah atau malah musibah. Ia senang, tahu kalau teman kecilnya baik-baik saja, meski perpisahan mereka tak bisa dibilang baik.
Tapi mungkin Milen harus waspada untuk hari-harinya kedepan. Karena Milly pasti akan mengusik hidupnya lagi dengan segala tingkahnya itu.
Entahlah, Milen hanya ingin terhindar dari segala masalah. Menjadi anak yang baik di sekolah dan tidak berurusan dengan segala masalah, kemudian lulus dengan nilai sempurna lalu melanjutkan pendidikannya.
Milen suka dengan kerapihan, tertib, dan disiplin. Bahkan ia dijuluki Mr. Perfect oleh teman-temannya. Tapi dia tak pernah meminta, merekalah yang memberikan nama itu padanya.
Baginya, berurusan dengan Milly kembali adalah hal yang harus dihindari. Bukan hanya karena alasan tadi, tapi juga ada alasan lain yang masih bercokol dihatinya.
Meski sebenarnya, terkadang rasa tak tega datang ketika melihat Milly dihukum, atau ia yang harus selalu marah ketika menghadapi kelakuan Milly.
Milen tak sejahat itu sebenarnya. Biar bagaimanapun Milly pernah menjadi teman kecilnya dulu.
Tapi sebisa mungkin ia menekan semua perasaan itu. Menurutnya Milly harus merubah sikapnya yang buruk menjadi lebih baik lagi. Jadi ia membiarkan saja Milly yang sedang dihukum, berharap dia bisa mengambil pelajaran dari itu semua dan menjadi lebih baik lagi.
Milen juga sengaja mengabaikan setiap panggilan Milly. Karena itu akan memicu banyak gosip di sekolahnya. Ia tak mau berurusan dengan itu semua. Kembali lagi, ia tidak ingin menempatkan dirinya dalam masalah.
Lebih baik jika tak banyak anak di sekolahnya yang tahu tentang hubungannya dengan Milly.
Ia tak mau membuang waktu masa mudanya untul hal-hal yang tidak bermanfaat. Karena ia tau, penyesalan datangnya di akhir, dan dia tak ingin menyesal nantinya.
Bukan hanya itu, mati-matian ia ingin melupakan kejadian sepuluh tahun lalu.
Kejadian yang tak ingin ia ingat kembali. Dimana ia harus kehilangan sesuatu yang selalu ia impikan, menjauh dari sesuatu yang selalu ia harapkan. Itu semua karena Milly.
Karena Milly ia kehilangan separuh rasa dihatinya. Memang kecil masa itu, tapi Milen tak pernah bisa melupakan dengan mudah. Beruntung dia menemukan kembali kepingan yang hilang itu, mulai merajutnya agar kembali utuh.
Milen tidak suka dengan Milly.
Milen tidak mau berurusan dengan Milly.
Milen tidak mau terlibat apapun dengan Milly.
Milen benci Milly. Sangat.
Sebuah getaran ponsel di saku jaketnya menyadarkan Milen dari lamunan.
Ia meraih ponsel itu, membaca pesan dari pengirim diseberang sana dengan hati yang tenang dan damai.
Rasanya, semua unek-unek dan kesal meluap begitu saja setelah membaca pesan itu.
Aku udah ada di Jakarta.
Satu kalimat itu membuatnya melupakan sejenak penat yang ada di otaknya.
Milen kembali menyimpan ponselnya dalam saku jaket. Memakai helm, lalu menstater motornya.
Milen bahkan belum masuk rumah sama sekali. Bunda yang sedari tadi di dalam pun sampai keluar untuk menemui Milen. Baru saja Iren membuka pintu, tapi putranya sudah meninggalkan pekarangan rumah.
Milen bahkan tak mengindahkan seruan Bunda. Hanya membalasnya lewat klakson.
Satu tujuan Milen sekarang, menemui si pengirim pesan dan meluapkan segala kerinduannya selama ini.
💦💦💦
TBC
04 Jan'18
Yuhuu.. Nyut up lagi, jangan bosen2 baca MillMel ya. Vote sama komen di tunggu oke 😉
Ps.1 mau ikut lomba buat meriahin HUT sekolah. Doakan menang, yey. Tapi hujan padahal. Ya kena 😂
KAMU SEDANG MEMBACA
INTUISI
Teen Fiction"Kenapa lo selalu mengusik hidup gue!" "Karena aku suka sama kamu." "Jauh-jauh dari hidup gue!" "Gak bisa. Intuisiku ngarahnya ke kamu, apa masih kurang jelas?" ~~~ Ini adalah kisah dimana perjuangan, pengorbanan, dan pengharapan seorang -Millynea A...
