Kamu baik. Saking baiknya, aku tidak bisa bedakan, mana hati mana empedu?
•Millynea Alsava•
"Len, bukannya itu anak SMA Pancasila juga ya? Tapi kok ada disini, kelasnya kan belum bubar"
Dia lagi
~~~~~~~~~~
Milen dan Darren temanya sedang berada di tempat fotocopy luar sekolah, tepatnya bersebrangan dengan halte bis.
Kata-kata Darren membuat Milen beralih fokus dari kertas yang sedang di fotocopy. Menatap halte bis yang ditunjuk oleh Darren.
Matanya memicing, disana ada dua cewek berseragam SMA Pancasila. Darren benar, meski sekarang guru sedang rapat, tapi jam sekolah belum bubar. Lantas sedang apa mereka disana? Milen kesal bukan main, ia benci orang yang melanggar. Apalagi dia mengenali salah satu cewek yang sedang duduk disana.
Setelah semua kertas selesai di fotocopy. Milen langsung menyebrang jalan tanpa menghiraukan Darren yang memanggilnya, tapi mengikutinya kemudian. Karena Darren tau apa yang akan dilakukan Milen selanjutnya, secepat mungkin Darren menyusul langkah Milen, antisipasi kemungkinan terburuknya.
🐾🐾🐾
"Mill, haus nih. Beli minum dulu yah,"
Milly juga merasakan hal yang sama, bagaimana tidak ngos-ngosan, mereka lari sepanjang jalan. Cukup jauh pula jaraknya.
"Hmm," Milly balas menggumam.
Deby langsung beranjak dari duduknya, meninggalkan Milly duduk sendirian di bangku halte.
Beruntung suasana halte lagi sepi, karena memang tak ada seorangpun yang menunggu bis disana, anak sekolahnya pun masih belum terlihat keluar dari lingkungan sekolah.
Seragam yang dikenakan Milly kini sudah berubah menjadi lusuh, basah karena keringat dan terasa lengket ditubuhnya. Milly mengeluarkan baju seragamnya. Tangannya mengipas-ngipas, berharap sedikit angin mampu menyejukannya sambil nunggu Deby kembali.
"Panas yah?"
Sumpah. Ini pertanyaan unfaedah sekali. Udah jelas-jelas mataharinya terang benderang gini, masih tanya panas atau enggak?
"Gak. Dingin, kayak di kutub." jawab Milly asal.
Dirinya sedang tidak berniat untuk bercanda sama sekali dengan siapapun. Baru tadi bilang kalau dia duduk sendirian, giliran ada orang lain malah nambah panas pikiran aja.
Setelah ada jeda seperkian detik, seorang tadi kembali bertanya padanya.
"Kok kaya cacing kepanasan?"
Sungguh. Menguji kesabaran seorang Millynea Alsava. Masa disamakan dengan hewan bernama cacing kepanasan. Hell
Sabar. Sabar. Orang sabar disayang Mama, Papah, Kakek, Nenek, dan Pac–.
Yang terakhir gak jadi. Milly Lupa masih jomblo dari lahir.
"Deb, gue tau itu lo. Mana minumnya?" pinta Milly, menengadahkan sebelah tangannya yang tak mengipas-ngipas.
Ia tak mau perlu repot-repot menengok siapa yang sedang diajak bicara sekarang.
Palingan juga Deby, pake gede-gedein suara segala biar mirip ama cowok. Beuh, gak mempan. Milly gak bakal ketipu.
KAMU SEDANG MEMBACA
INTUISI
Teen Fiction"Kenapa lo selalu mengusik hidup gue!" "Karena aku suka sama kamu." "Jauh-jauh dari hidup gue!" "Gak bisa. Intuisiku ngarahnya ke kamu, apa masih kurang jelas?" ~~~ Ini adalah kisah dimana perjuangan, pengorbanan, dan pengharapan seorang -Millynea A...
