1• Kesan Pertama

7.2K 410 3
                                        

"Milly! Berhenti ga lo! "

"Ga mau, wlekk!"

Pemandangan seperti ini sudah biasa terlihat bukan? Apalagi kalau bukan aksi kejar-kejaran di koridor sekolah akibat keusilan teman sendiri.

Seperti yang saat ini dilakukan Deby dengan sisa tenaganya, karena sejak tadi ia lari sambil terus meneriaki nama temannya itu.

Dan pastinya Milly yang sekarang bak tersangka tidak mau menyerah semudah itu, masa bodo dengan teriakan dasyatnya Deby. Baginya ini suatu kebahagian tersendiri, kapan lagi bisa jailin teman bukan?

"Ish, ngeselin banget sih lo!"

"Balikin coklat gue, woy!"

"Boleh, kejar dulu tapi!" Milly membalikan tubuhnya sejenak, balas berteriak, sambil tertawa mengejek.

Yah, bagi Milly jail itu tak mengenal tempat dan waktu. Seperti sekarang, ia berlari mundur sepanjang koridor yang sepi sambil menggoyangkan coklat hasil rampasannya.

Saat ini sebenarnya sedang berlangsung KBM jam ke-3 tapi ia merasa bosan dengan guru mapel yang suaranya pelan, baginya itu seperti suara batin, lantas bagaimana siswa bisa memahaminya coba? Jadi jangan salahkan dia jika keluar kelas dengan alasan ke toilet. Alasan yang klise memang, tapi masih sering digunakan kan?

Karena lari mundur dan bertepatan saat ada belokan, Milly membalikan tubuhnya tapi tanpa sengaja ia menabrak sesuatu yang keras.

Tak seperti adegan di film-film korea yang dia tonton, tak seperti cerita-cerita yang dibacanya pada novel. Ia terpental dan jatuh kelantai yang sama kerasnya. Sakit? Jangan ditanya lagi. Itu sudah pasti.

Tak

"Adaw.. Pantat gue, shh.." ia tersungkur ke lantai dengan awalan yang tak elok.

"Heh, lo pikir sekolah taman bermain apa?" si pemilik bola berjongkok tepat dihadapan Milly mangambil bolanya yang jatuh.

Milly mendongakkan kepalanya, melihat sosok yang tadi ia tabrak. Sedetik kemudian ia terpaku akan sosok dihadapannya ini.

Seorang cowok dengan mata coklatnya yang lekat, bak kopi. Begitu meneduhkan, hidungnya yang mancung, kulit putih dan alis yang tebal.

Persis karakter-karakter tokoh di novel fiksinya. Biasanya sih jadi cassanova gitu. Satu kata buat gambarin nih cowok.

Sempurna.

Tanpa ia sadari, sudah lebih dari 5 detik Milly terus memandang cowok dihadapnnya tanpa kedip.

Mungkin sekarang ada satu cupid yang tengah dilepaskan tepat mengenai jantungnya.

Kalau saja cowok itu tidak beranjak berdiri, Milly pasti masih tetap memandanginya.

"Maaf namanya juga ga liat,"

"Terus apa gunanya tuh mata,heh?buat makan?"

Deg. Cupidnya kok nyakitin yah?
Milly paling tidak suka jika dibentak seperti ini, toh bukan salahnya saja kan? Dia juga salah, udah tau ada yang lari, kenapa gak menghidar coba.

"Lo kok sewot sih, gue kan ga sengaja."

Bukannya saling membantu malah berdebat, apalagi si cowok sedang dalam emosi yang tidak baik.

"Aduh, gawat mati dah lo Mill." Deby dari jauh hanya tepok jidat melihat kelakuan temannya yang tak mau kalah itu, padahal ia sedang dalam bahaya tingkat sianga.

Reflek, Deby menghampiri mereka.

"Aduh,sorry Len dia gak sengaja nambrak lo,"

"Deby, lo ngapain minta maaf? Dia tuh ga tau arti kata maaf." celetuk Milly karena emosi.

"Sst.. Diem, gue lagi selamatin hidup lo." bisiknya lirih.

Dikira Milly lagi perang kali yah? Pake acara selamat-selamatan. Kadang Milly heran sama pemikiran Deby ini.

"Lo bilang apa?" mereka berdua menoleh ke sumber suara.

"Apa!" bentak Milly pada cowok dihadapannya ini.

"Anak apa sih lo?"

"Manusia lah, yakali anak kambing," sungut Milly.

Hilang sudah kesan sempurna dimatanya. Kini kesan menyebalkanlah yang mendominasi penilaiannya.

"Lo! Mapel apa lo sekarang? Gue aduin ke guru,bukannya masuk kelas malah keluyuran" murka. Ia sudah tidak bisa menahan emosinya, apalagi gadis didepannya ini membuat geram.

"Udah lah Len, balik ke tim aja sekarang,"

Saran teman si cowok yang sedari tadi hanya bisa diam, bukanya tidak mau memisahkan. Tapi dia tau, jika temanya ini dalam emosi yang tidak baik. Bukannya selesai malah tambah nanti masalahnya. Daripada tambah berang, ia mulai menariknya menjauh meski tatapan tajamnya menghunus Milly.

Setelah tak terlihat, Deby menghela napas lega. Kembali fokusnya pada Milly yang masih setia nylemprok di lantai, mulai membantu berdiri.

"Coklatnya mana? " todong Deby langsung. Lekas membatu Milly berdiri.

"Bukannya tanya ada yang lecet apa engga, ini malah tanya coklat. Ga ada perhatiannya banget sih." tak urung Milly memberikan coklatnya.

"Ah, itu ga penting. Lagian salah lo sendiri kan"

"Ishh, nyebelin baget sih lo. Lagian siapa sih itu cowok? songong banget dah,"

Deby melongo mendengar pertanyaan sahabatnya ini, mereka sudah sekolah hampir 2 tahun disini, seantero sekolah juga tau siapa cowok tadi.

"Lo ga tau dia siapa?" Milly hanya geleng kepala.

"Serius ga tau?" masih geleng kepala.

"Beneran lo ga tau?" tetap geleng kepala.

"Ya ampun Milly, lo sekolah disini udah berapa taun coba? Masa lo ga kenal sih?" heran Deby sambil menggelengkan kepala.

Ini Milly yang kudet apa kagak peka sama sekitar sih?

Ah, iya. Deby lupa, Milly kan emang cuek sama sekitar. Kan, dia langganannya dihukum. Kalo gak karena telat, ya pasti buat onar. Kadang Deby heran, kenapa bisa berteman dengannya.

"Harus gue tau? Dia anak Kepsek? Donatur? Presiden? Punya kekuatan super kek super dede?"

Tanya Milly beruntun, dan semua pertanyaanya juga hanya dapat gelengan kepala dari Deby, membuatnya berdecak malas.

"Ih, ya bukan itu juga kali. Dia itu salah satu anak osis, dan lo tau resikonya kan kalo.. Woy! Mau kemana lo! " belum selesai Deby ngomong, Milly sudah main kabur saja.

Malas dengat ocehan Deby, Milly memilih pergi.

"Kantin, laper denger lo ngoceh"

"Eh, nanti ketauan lagi gimana?"

"Peraturan dibuat untuk dilanggar bukan?" jawabnya tanpa repot berbalik.

"Dasar Miss. Freak somplak" Geurutu Deby. Tak urung ia juga mengikuti jejak Milly yang kabur ke kantin.

So, bagi anak sekolah macam mereka, peraturan ada itu gunanya untuk dilanggar. Biar kelak ada kesan tak terlupakan saat masa sekolah.

🐾🐾🐾

Budidayakan Voment biar berkembang 😊

24 Oktober 2017

P.s Btw, di sekolahku lagi ada donor darah nih, pengin donor tapi aku gak bisa donor.. BB kurang,😔

TBC

INTUISICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang