Pekerjaan Kynnan untuk malam ini selesai saat jam sudah menunjukkan hampir jam sepuluh malam. Beberapa dokumen Kynnan biarkan terbuka agar bisa segera ia periksa kembali esok pagi.
Bel pintu dibunyikan beberapa kali saat Kynnan baru selesai mandi. Belum sempat ia memakai kaus yang telah diambil, segera Kynnan membuka pintunya hanya dengan memakai celana pendek. Berdirilah Austin sembari merangkul Elena yang terlihat sangat sedih tepat dihadapan Kynnan.
"Masuklah, Elena. Lebih baik kau istirahat sekarang." Kata Austin.
"Maafkan aku..." kata Elena pelan.
"Tidak apa." Jawab Austin seraya tersenyum.
Kynnan terus menatap Elena hingga masuk kedalam kamar. Segera ia kembali menatap Austin dengan penuh amarah. "Apa yang kau lakukan pada Elena?"
"Aku tidak melakukan apapun, Kynnan."
Emosi Kynnan yang sudah memuncak membuatnya berani menggenggam kerah kemeja Austin hingga jarak mereka semakin dekat. "Kau bilang tidak melakukan apapun? Lalu kenapa Elena sampai seperti itu?"
"Dengarkan aku dulu," Kynnan melepaskan kerah kemeja Austin kasar. "Kami hanya makan malam biasa. Semua berjalan baik, hingga saat kami akan pulang Elena melihat seorang wanita yang sedang membuang janinnya ditempat yang tidak jauh dari restoran yang kami kunjungi. Itu yang membuatnya sangat terpuruk, Kynnan."
"Jangan bohong kau!"
"Aku bersumpah, Kynnan! Aku bersumpah!" kata Austin dengan suara mulai meninggi. Emosinya juga mulai terpancing setelah Kynnan tidak mempercayainya.
Kynnan menghembuskan napasnya, berusaha meredam semua emosi yang sudah mencapai kepalanya. Ia menatap Austin yang masih berdiri didepannya, tidak seharusnya Elena kembali bertemu dengan Austin jika Kynnan tahu akan berakhir seperti ini.
"Lebih baik kau pergi sekarang, sebelum aku merubah pikiranku untuk menghajarmu." Kata Kynnan tanpa menatap Austin.
Austin mengangguk setuju. "Jaga Elena baik-baik."
"Tanpa kau katakan pun akan kujaga Elena." Kata Kynnan lalu menutup pintu dengan keras.
Dengan cepat Kynnan mematikan seluruh lampu lalu masuk ke kamar. Elena yang sudah berbaring ditempat tidur menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Kynnan meraih kaus yang ia ambil, ia pakai lalu segera naik keatas tempat tidur.
Perlahan Kynnan menurunkan selimut yang menutupi kepala Elena, terlihat Elena yang masih sesegukan dalam diam. Kynnan mengusap pelan kepala Elena, berusaha menenangkannya.
"Elena," kata Kynnan sembari mengusap kepala Elena lembut. "Berhentilah menangis, sayang."
"Kynnan," Elena menatap Kynnan dengan kedua matanya yang sudah membengkak karena menangis. "Orang itu..."
"Sudah, tidak usah kau pikirkan lagi." Kata Kynnan seraya menarik Elena kedalam pelukannya.
"Orang itu tidak waras, Kynnan. Dia membuang—"
"Diamlah," kata Kynnan. "Aku minta maaf karena masih belum bisa memenuhi keinginanmu sampai saat ini."
Elena mengeratkan pelukannya. Ia mengangguk pelan, kaus yang Kynnan pakai terasa basah—Elena kembali menangis. Kynnan menyandarkan kepalanya dipuncak kepala Elena, dada Kynnan terasa seperti terhujam oleh benda tajam. Dalam diam juga Kynnan menangis, merasa bersalah atas keputusannya.
***
Matahari pagi mulai menyinari seisi kamar, Elena pun terbangun masih dengan Kynnan yang memeluk dirinya sejak semalam. Bagi Elena, semalam merupakan kejadian terburuk yang ia alami sepanjang hidupnya. Beruntung baginya masih ada Austin dan Kynnan bersamanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kylena
Ficción General[COMPLETED] Bagaimana jika tiba-tiba kau diajak menikah oleh seseorang yang bahkan baru kau kenal? Bagaimana kehidupanmu selanjutnya? Bahagiakah, atau malah sebaliknya? cover pict source: pinterest
