Sudah dua minggu berlalu sejak terakhir kali Elena mengunjungi rumah keluarga Orlando. Tidak ada telepon, video call, dan kabar apapun yang Kynnan dapat dari Elena. Berulang kali ia berusaha menghubungi Elena, namun semuanya tidak membuahkan hasil. Tidak hanya Kynnan, Jonathan dan Jenniferpun ikut panik. Mereka takut Elena akan pergi dari Jakarta dan tidak akan kembali lagi.
"Aku akan mencarinya lagi hari ini," kata Kynnan sembari memakai sepatunya. "Maafkan aku tidak mengurus kantor beberapa hari belakangan ini."
"Tidak apa. Aku lebih senang kau seperti ini, karena kau lebih mengedepankan urusan keluarga dibanding dengan urusan kantor." Kata Jonathan seraya menepuk pundak Kynnan.
"Kau ingin aku temani, Kynnan?" tanya Jennifer.
"Tidak, lebih baik mama mencarinya bersama Taylor atau supir pribadi mama sendiri."
Jennifer mengangguk. "Hati-hati, sayang. Cepat kabari kami jika ada kabar tentang Elena.
Kynnan mencium pipi kanan Jennifer lalu ia berjalan menuju mobilnya. Sesungguhnya ia tidak tahu lagi harus mencari Elena dimana lagi. Baginya, Jakarta itu kecil dan seluruh sudut kota telah ia datangi meski hasilnya nihil. Mungkin, Elena baru datang kesatu tempat setelah Kynnan pergi dari sana. Mungkin saja.
"Bagaimana cara agar aku bisa bertemu denganmu, Elena." Kata Kynnan sembari matanya terus mengamati setiap sudut jalan, berharap sosok Elena berdiri disana.
Burger dan dua potong ayam yang Kynnan beli sebelumnya pun hanya menjadi teman perjalanannya tanpa Kynnan sentuh sedikitpun. Nafsu makan Kynnan hilang entah sejak kapan. Saat ini ia hanya ingin bertemu Elena dan menggendong Mikha. Hanya itu.
Kynnan menyesali dirinya yang hari ini baru mulai mencari setelah pukul duabelas siang, sehingga ia hanya bisa mencarinya sebentar. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, pertanda ia akan terjebak kemacetan jika memaksakan diri untuk pulang sekarang. Kynnan membelokkan mobilnya menuju tempat para penjual bunga. Membeli beberapa jenis bunga, lalu kembali melanjutkan perjalanan.
"Kyandra,"
Ya, Kynnan memilih untuk mengunjungi saudara kembarnya sore ini. Kynnan meletakkan bunga yang ia beli tadi diatas makam Kyandra, lalu duduk diatas sebuah batu besar ditemani hembusan angin sore. Kynnan memang selalu datang mengunjungi Kyandra setiap akhir minggu. Menceritakan seluruh perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan dengan orang lain.
"Dimana sebenarnya Elena saat ini?" tanya Kynnan lalu menundukkan kepalannya. "Aku rasa kau tidak pernah seperti ini selama berpacaran dengannya. Kenapa saat denganku, semua terasa sulit?"
Kynnan mengacak kasar rambutnya. Ia merasa sangat kesal, amarahnya terasa sudah sampai dipuncak kepala.
"Kynnan?"
Kynnan mengangkat kepalanya cepat saat mendengar seseorang memanggilnya. Ia langsung memutar kepala untuk mencari sumber suara itu. Segera Kynnan berlari saat melihat Elena dengan Mikha yang tenang dalam dekapannya berdiri tidak jauh dari tempatnya sekarang.
"Kau kemana saja? Aku hampir gila mencarimu!" kata Kynnan lalu memeluk Elena erat. "Mengapa kau bawa Mikha kemari?"
"Kau ingin Mikha diculik karena aku tinggal dia sendirian dirumah?" tanya Elena. "Lagipula usianya sudah hampir dua bulan, Mikha sudah boleh pergi kemanapun yang ibunya inginkan."
Kynnan mengambil Mikha dari gendongan Elena, lalu mulai menghujani Mikha dengan ciuman diseluruh wajahnya. "Kau belum menjawabku, kemana saja kau selama dua minggu ini?"
"Dirumah, menenangkan diri." Jawab Elena sembari menaruh beberapa batang bunga mawar diatas makam Kyandra.
"Kau sering datang kemari?" Elena mengangguk sebagai jawabannya. "Kalau saja aku tahu, mungkin aku akan terus menunggumu disini."
Kynnan dan Elena kemudian tidak saling berbicara. Hening. Kynnan yang senang karena bisa kembali bersama Mikha, dan Elena yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Apa kau sudah menerima surat panggilan dari pengadilan?" tanya Elena kembali bersuara.
Kynnan mengalihkan perhatiannya dari Mikha. Ia menatap Elena sejenak lalu mengangguk pelan. "Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu? Apa kau sudah memikirkan tentang Mikha jika kita benar berpisah?"
Elena mengangguk pelan. "Semua akan baik-baik saja setelah kita berpisah. Mikha akan tetap mendapat perhatian dari orangtua dan keluarganya, yang membedakan hanyalah ia hanya tinggal bersamaku."
"Kenapa kau mempersulit keadaan, Elena?" tanya Kynnan. "Kita bisa membuatnya mudah dengan cara membatalkan sidang perceraian besok. Kita bisa kembali memulainya dari awal—hidup bersama, mengurus Mikha bersama, tanpa harus ada jarak yang memisahkan aku dengan kau dan Mikha."
Elena terdiam mendengarnya. Ia hanya tertunduk menatap makam Kyandra yang menjadi saksi bisu Kynnan yang sedang memperjuangkan rumah tangganya.
"Kau sudah mengetahui semuanya, Elena. Kenapa kau tidak berani memulainya kembali bersamaku?"
"Karena aku tidak mencintaimu, Kynnan."
"Kau bohong." Potong Kynnan. "Begitu pula aku yang berbohong tentang perasaanku padamu."
Elena mengangkat kepalanya mendengar ucapan Kynnan. "Jangan coba membohongiku lagi, Kynnan."
"Aku mencintaimu, Elena. Selama kita bersama, rasa cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Niat awalku yang hanya ingin membuatmu kembali mengingat semua kejadian yang kau lupakan berubah menjadi rasa ingin melindungi dan membuatmu bahagia setiap harinya. Berulang kali aku mencoba menepisnya dengan berbagai cara karena aku tahu kau milik Kyandra, namun semua usahaku sia-sia." Jelas Kynnan seraya menatap Mikha yang tertidur pulas dalam dekapannya. "Aku ingin terus bersamamu, Elena. Apa tidak ada kesempatan lagi untukku memperbaiki semuanya?"
Elena menyeka bulir air mata yang mulai mengganggu pandangannya. "Kurasa sudah cukup aku memberimu kesempatan, Kynnan. Aku ingin bebas, menjalani hidup sesuai dengan kehendakku sendiri."
"Tapi sekarang bayang-bayangku akan tetap bersamamu, Elena. Bagaimanapun kehendakmu, aku akan tetap memiliki hak untuk ikut campur. Sejauh apapun kau pergi, Mikha akan menjadi alasanmu untuk kembali padaku."
"Kynnan, mengertilah..." Elena memohon. "Aku ingin lepas darimu."
Penekanan pada setiap kata yang Elena ucapkan sukses mengunci mulut Kynnan. Entah benar atau tidak apa yang Elena ucapkan, namun satu hal yang Kynnan tahu adalah Elena tidak akan merubah keputusannya. Meski itu artinya dia akan menyakiti dirinya sendiri.
"Kau tetap bisa bertemu Mikha, bermain dengannya, mengajaknya jalan-jalan, dan bahkan aku akan mengizinkan Mikha untuk menginap dirumahmu. Aku tidak akan menyusahkan segala urusan tentang anak kita," Kata Elena. "Lagipula, kau sendiri yang bilang kalau kau tidak bisa merubah keputusanku, bukan?"
Elena menatap mata Kynnan, terjun kedalam kelamnya warna bola mata Kynnan. Ia memaksakan sebuah senyum hadir diwajahnya. "Kita tidak ditakdirkan untuk hidup bersama, Kynnan."
"Aku menyesal telah berjanji untuk menandatangani surat perceraian itu."
"Penyesalan memang selalu datang belakangan, dan kau harus menghadapinya sekarang.
Kynnan menghela napas panjang. "Jika itu yang kau inginkan, baiklah. Aku pun tidak akan hadir dipersidangan besok untuk memudahkanmu mendapatkan kebebasan."
Elena mengambil Mikha dari pelukan Kynnan. "Terimakasih, Kynnan."
Hari sudah semakin gelap, seperti menggambarkan perasaan dua insan manusia yang memiliki perasaan yang sama namun tidak memiliki keinginan bersatu yang sama. Elena sudah menjatuhkan keputusannya, begitu pula Kynnan.
"Selamat tinggal, Kynnan."
"Sampai berjumpa lagi, Elena."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kylena
Fiksi Umum[COMPLETED] Bagaimana jika tiba-tiba kau diajak menikah oleh seseorang yang bahkan baru kau kenal? Bagaimana kehidupanmu selanjutnya? Bahagiakah, atau malah sebaliknya? cover pict source: pinterest
