Hidup Elena tanpa Kynnan terasa berubah seratus delapanpuluh derajat. Pada mulanya semua terasa sulit; Elena merasa kesepian, dan mudah merasa bosan karena belum mendapatkan pekerjaan. Namun seiring berjalannya waktu, Elena mulai bisa beradaptasi dengan keadaan barunya dan ia pun telah mendapatkan pekerjaan. Menjadi seorang tenaga pengajar di sekolah khusus anak dibawah lima tahun menjadi kesenangan tersendiri bagi Elena. Ia bisa bertemu dengan anak-anak lucu setiap harinya. Dengan melihat tingkah mereka saja, rasa lelah yang ia rasakan hilang seketika.
"Kau pulang cepat hari ini, Elena?" tanya Suci, yang merupakan salah satu tenaga pengajar juga.
"Tidak," kata Elena. "Aku masih harus mempersiapkan susunan acara secara matang yang akan digunakan di Surabaya."
"Apa ada yang bisa kubantu?"
"Dengan kau membawa satu porsi martabak keju itu sudah sangat membantuku."
"Baiklah," Suci menahan tawanya. "Jangan sampai kau kelelahan, Elena. Aku tidak ingin kau sampai meyusahkan dirimu sendiri."
"Baiklah, Ibu Suci." Kata Elena lalu mereka tertawa bersama.
Semenjak Elena memilih untuk pergi dari kehidupan Kynnan enam bulan yang lalu, hanya ada kebahagiaan dalam hidupnya. Semua ini seakan menjadi bayaran atas kehidupan pahit yang Elena rasakan selama dua tahun. Selama enam bulan ini pula Elena terus berusaha mencicil uang yang telah ia ambil dari tabungan Kynnan, namun Kynnan selalu mengirimkannya kembali pada Elena. Kesal? Sudah jelas. Ia merasa direndahkan atas hal ini, tapi Elena berusaha meredam emosinya dan tetap mengisi hari dengan kebahagiaan.
"Apa tiket dan transportasi kita selama di Surabaya sudah kau urus?" tanya Elena tanpa mengalihkan padangannya dari layar komputer.
"Sudah," jawab Suci. "Hanya saja aku tidak setuju dengan perintah kepala sekolah yang hanya memperbolehkan lima guru untuk berangkat."
"Tidak usah kau pikirkan, kita akan berangkat," kata Elena. "Aku akan sangat marah jika aku tidak ikut karena aku yang sudah bekerja banyak selama ini."
"Aku akan jadi sangat marah yang kedua jika kau tidak berangkat."
"Aku tidak bisa mempercayaimu, Suci."
"Ya, ya, aku sadar aku tidak memiliki keberanian besar seperti dirimu."
Elena tersenyum. "Aku mau mencoba restoran baru tidak jauh dari sini, apa kau mau ikut?"
"Sejak kapan Suci menolak kalau kau ajak makan?"
***
Hari sudah semakin sore saat Elena dan Suci telah selesai makan. Martabak keju yang ia makan siang tadi beserta nasi goreng dan beberapa macam makanan berat lainnya yang ia coba bersama Suci cukup membuat Elena kenyang sampai besok pagi.
"Terimakasih." Kata Elena seraya tersenyum sembari menerima seikat bunga lily dari sang penjual.
Elena melewati gerbang besar dan tinggi berwarna hitam, menyusuri jalan setapak sampai tiba disebuah makam yang berada dibawah pohon besar dan rindang. Ya, Elena mengunjungi makam Kyandra. Sudah menjadi kebiasaan Elena selama beberapa bulan terakhir ia selalu mengunjungi Kyandra dua kali dalam seminggu. Membersihkannya, dan memberi bunga.
Satu ikat bunga lily ia letakkan tepat didepan nisan bertuliskan nama Kyandra, lalu ia mengusapnya. Senyuman kecil langsung menghiasi wajah Elena.
"Selamat sore, Kyandra." Sapa Elena sembari terus mengusap nisan milik Kyandra.
"Sudah beberapa bulan ini aku selalu mengunjungimu, agar aku bisa mengembalikan memoriku bersamamu," kata Elena. "Hanya sedikit yang kuingat. Mungkin jika kau masih ada disisiku, aku bisa dengan cepat mengingat semuanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kylena
General Fiction[COMPLETED] Bagaimana jika tiba-tiba kau diajak menikah oleh seseorang yang bahkan baru kau kenal? Bagaimana kehidupanmu selanjutnya? Bahagiakah, atau malah sebaliknya? cover pict source: pinterest
