11

87.3K 3.9K 11
                                        

Setiap harinya berjalan sangat sempurna bagi Elena. Semenjak dirinya dan Kynnan pindah ke San Diego, seluruh kebahagiaan datang begitu saja dalam kehidupan Elena. Kini, Elena sudah merasa menjadi istri seutuhnya—memasak makanan untuk Kynnan, menyiapkan pakaian, menyaksikan televisi bersama, atau sekedar mengobrol dan minum teh sembari melihat matahari terbenam. Meski sesungguhnya itu hanya kegiatan biasa, Elena sudah merasa cukup. Mungkin nanti akan ada saatnya dimana mereka akan saling bercengkrama, atau bahkan berencana untuk memiliki keturunan.

Banyak hal baru yang Elena ketahui dari diri Kynnan. Kebanyakan adalah hal kecil seperti makanan apa yang Kynnan sukai dan apa saja kegiatan favoritnya saat waktu senggang. Namun yang sangat menarik perhatian Elena adalah sosok Kynnan dalam balutan baju santai—kaus dan celana pendek, Kynnan lebih terlihat sesuai dengan umurnya dibandingkan dengan saat dirinya menggunakan kemeja lengkap dengan jas. Janggut yang dipangkas seluruhnya pun membuat Kynnan terlihat lebih muda dari usianya.

Ada hal yang mengganggu Elena belakangan ini. Semenjak mereka berdua tidur di satu tempat tidur yang sama—selama satu minggu Kynnan memilih untuk tidur di sofa yang berada di sisi tempat tidur dan saat Elena telah terlelap—Kynnan selalu gelisah dalam tidurnya. Baju yang ia kenakan selalu basah oleh keringat. Mimpi buruk seperti terus hadir dalam tidurnya. Dan pada malam ini Elena berencana untuk mencari tahu apa sebenarnya yang Kynnan rasakan sampai tidurnya selalu terganggu.

"Ini tehmu," kata Elena seraya meletakkan secangkir teh diatas meja kerja Kynnan. "Lebih baik kau istirahat, Kynnan. Ini sudah hampir tengah malam. Pekerjaanmu bisa kau lanjutkan besok."

"Bukankah kau sudah tahu kalau aku lebih suka susu dibanding teh?"

"Jangan terlalu sering minum susu, kau akan semakin tinggi nantinya."

Kynnan tersenyum. "Aku tidak sedang bekerja, Elena. Selama disini tidak pernah sekalipun aku menyentuh pekerjaanku. Aku sedang mencari tempat yang nyaman untuk kita pergi berlibur."

"Berlibur?" tanya Elena. "Aku berada disini pun seperti sedang berlibur, Kynnan. Kau tidak perlu melakukan itu."

"San Diego adalah rumah kita, kau harus merasa berada dirumah. Sedangkan London sepertinya cocok menjadi tempat liburan kita."

Elena menggelengkan kepalanya cepat. "Ayo, habiskan tehmu dan pergi tidur."

"Kau duluan saja. Aku masih harus reservasi hotel dan pesawat untuk—"

"Bisakah kau sekali saja menuruti omonganku?"

Kynnan tersenyum menatap Elena yang berdiri disamping meja kerjanya dengan wajah kesal. Dengan cepat ia mematikan komputer dan menarik tangan Elena pergi dari ruang kerjanya.

Sebelum masuk kedalam kamar, Kynnan terlebih dahulu mematikan seluruh lampu yang masih menyala. Sedangkan Elena memilih segera naik keatas tempat tidur. Setelah tugasnya selesai, Kynnan naik ke sisi kanan tempat tidur dan menarik selimutnya.

"Kau menyuruhku tidur tapi kau sendiri malah membaca buku?" tanya Kynnan saat mendapati Elena malah bersandar dikepala tempat tidur.

Elena tersenyum pada Kynnan. "Kau duluan saja, aku masih harus menyelesaikan buku ini."

"Tidak," kata Kynnan sembari menarik buku yang sedang Elena pegang. "Kau juga harus tidur."

"Aku belum mau—"

Kynnan memotong pembicaraan Elena dengan segera mematikan lampu yang ada di sisi kiri dan kanan tempat tidur. "Selamat tidur, Elena."

"Selamat tidur, Kynnan. Mimpi indah."

Elena membuat posisi tidurnya senyaman mungkin dengan menghadapkan tubuhnya ke kiri, menghadap ke jendela besar tanpa tirai. Ia memandang lurus keluar, namun pikirannya terus ada pada Kynnan. Elena tahu kalau saat ini Kynnan masih belum tidur. Kynnan tidak pernah tidur dibawah pukul duabelas malam, sudah dapat dipastikan saat ini Kynnan juga sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.

KylenaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang