Delapan

486 35 0
                                        

"Kamu udah di mana, Ra?" Suara Beri terdengar sangat jelas begitu volume suara gawai aku tambah.

"Masih di rumah," jawabku memakai sepatu.

"Kamu gak lupa kan sama jadwal kita hari ini?"

"Gak, Lan. Ini baru selesai pakai sepatu, udah mau berangkat."

"Oh, oke! Aku tunggu di tempat biasa."

"Iya."

Tut! Panggilan berakhir.

Aku berdiri dan meraih gawaiku yang tergelatak di atas meja. Sekilas kulihat layar depan menunjukkan angka 08.17 WITA, masih ada 43 menit untuk tiba di sana.

Bismillahi tawakkaltu 'alallahi wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahi. Dengan menyebut nama Allah. Aku bertawakkal kepada-Nya, dan tiada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah.

Doa yang aku sematkan dalam hati sebelum akhirnya langkah kakiku meninggalkan teras rumah. Berharap agar perjalananku hari ini selalu dalam lindungan-Nya hingga sampai di tempat tujuanku.

♥♥♥

"Kok pada sepi, ya?" tanyaku begitu sampai di Rumah Literasi begitu mendapati belum ada anak-anak yang datang.

"Tunggu aja, Ra. Mungkin mereka lagi mandi dan sarapan, baru jam sembilan," jawab Beri naik ke Rumah Literasi menghampiri Nada yang datang lebih awal. Aku pun mengikuti Beri.

"Maya mana, Nad?" tanyaku lagi begitu sampai di atas.

"Kemungkinan Maya terlambat, hari ini kan hari Minggu."

"Loh, emang kenapa kalau hari ini hari Ahad?" tanyaku semakin penasaran.

Beri menepuk bahuku, "Maya pergi ke gereja, Sayang," jawabnya.

"Oh."

"Ya sudah. Daripada gak ada kerjaan, mending kita beresin aja nih buku-buku," usul Beri yang sudah mulai memungut beberapa buku yang berserakan.

Aku dan Nada pun menyetujuinya.

Menata buku-buku di rak adalah pilihan terbaik, tak banyak memang hanya kirasan lima puluh buku. Hasil pengumpulanku dengan Beri setahun lalu. Tapi biar bagaimana pun buku itu amatlah berarti bagi anak-anak di sekitar sini, setidaknya itu bisa membantu dalam meningkatkan minat baca dan pengetahuan mereka.

Tak lama kemudian, suara anak-anak yang berdatangan memecah keheningan di antara kami bertiga. Suara mereka adalah melodi yang paling merdu kudengar, menenangkan. Aku tersenyum, mendapati mereka yang berebutan naik dan mengambil posisi duduk paling depan.

Beri segera memberikan mereka intruksi agar tidak ribut, Nada pun ikut membantunya. Sedang aku? Ah! Aku tak perlu melakukan apa-apa sekarang, aku hanya duduk di depan memperhatikan mereka.

Hari ini, kami tidak akan mengajari mereka membaca, menulis, ataupun berhitung. Karena hari ini kami akan memperdengarkan mereka sebuah dongeng. Sebuah cerita yang mungkin tak pernah mereka dengar sebelum tidur dari ayah-ibu mereka, kebiasaan seorang anak yang saat ini sudah diabaikan karena kemajuan teknologi.

Maka dengan program ini, kami berharap agar anak-anak dapat mendapatkan hak mereka—mendengar dongeng setiap sebelum tidur. Meski bukan saat menjelang tidur, setidaknya mereka mengetahui beberapa dongeng dari berbagai daerah di Nusantara.

"Ra, sekarang giliran kamu," ucapan Beri seketika membuat lamunanku perihal mendongeng buyar.

"Eh, iya," kataku.

Aku berdiri di hadapan mereka—anak-anak literasi. Anak polos yang butuh perhatian lebih akan pentingnya sebuah pengetahuan. Aku menghirup udara dalam-dalam, lalu melepaskannya secara perlahan. Ada ketenangan yang kurasa.

Di luar sana, sinar mentari hampir berada tepat di atas kepala. Teriknya yang panas kalah dengan hembusan angin yang lembut menyentuh kami.

Aku pun mulai bercerita. Kali ini aku menceritakan sebuah dongeng berjudul Kisah Musafir dan Peri Duyung, cerita ini tidak ada di dalam buku Kumpulan Dongeng Nusantara yang banyak diperjualbelikan di pasaran atau di toko buku karena cerita ini karanganku sendiri.

Mengisahkan seorang musafir yang tak sengaja bertemu dengan peri duyung yang terperangkap dalam sebuah jaring di pesisir pantai. Peri duyung itu meminta pertolongan kepada sang musafir untuk dibebaskan, namun sang musafir enggan menolongnya. Namun bukan peri duyung namanya bila ia tak punya banyak cara agar bisa dibebaskan oleh sang musafir. Dengan segala cara akhirnya sang musafir pun menolong peri duyung. Tak butuh waktu lama baginya untuk melepaskan putri duyung dari jaring. Begitu terlepas, peri duyung memberikan sebuah sisiknya kepada sang musafir sebagai ucapan terima kasih karena telah ditolongnya. Sang musafir pun menerimanya, peri duyung berpesan bahwa sisik tersebut tidak sembarangan. Apabila kamu dalam kesusahan dan kamu menggosokkan sisik tersebut niscaya kamu akan mendapatkan kemudahan, tapi sisik itu hanya bekerja apabila sang musafir merahasiakan keberadaan peri duyung dan apabila musafir menceritakan perihal peri duyung ke orang lain maka sirnalah keajaiban sisik peri duyung.

Aku sengaja menceritakan ini kepada anak-anak Rumah Literasi, selain untuk meningkatkan keterampilan berbicaraku juga memotivasiku dalam menulis cerita begitu melihat tanggapan anak-anak mendengar ceritaku. Wajah mereka yang berbinar adalah alasan kuat untukku dalam mengembangkan kesenanganku dalam dunia menulis.

♥♥♥

Filosofi Penantian || TERBITCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang