Sembilan Belas

114 20 8
                                        

"... Maaf, Kak. Ra gak bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya."

Selesai sudah kalimat yang aku ucapkan, ada perasaan lega yang kurasa. Mama hanya diam, sepertinya ia pasrah dengan keputusanku meski beliau mungkin saat menginginkan aku melanjutkan hingga akad. Namun, inilah keputusanku.

Kak Hafidz tampak manggut-manggut mendengar pernyataanku. "Baiklah, Dik. Kakak terima keputusanmu, sepertinya kita memang tidak berjodoh, Dik. Terima kasih atas waktunya selama ini," ucap Kak Hafiz.

"Maafin Ra, Kak. Ra sudah menunaikan salat Istikharah, namun Ra masih ragu."

"Iya, Dik. Kakak mengerti." Tak ada gurat kecewa yang tergambar di wajah Kak Hafiz. Kak Hafiz benar-benar dewasa, seharusnya ia kecewa dan membuatnya menunggu hingga berminggu-minggu. Namun, ia tetap tenang bahkan menanggapinya dengan baik.

Aku menghela napas lega begitu Kak Hafiz pamit dan nyandarkan punggungku di sofa.

"Lantas orang seperti apa yang kamu tunggu, Ra? Jika pemuda seperti Hafiz saja kamu tolak?" Mama bertanya setelah sejak tadi diam mendengar percakapan aku dengan Kak Hafiz, dan pertanyaan yang seketika membuatku bungkam.

Mama benar, jika pemuda seperti Hafiz saja aku tolak. Bagaimana dengan yang lain? Kak Hafiz adalah putra Pak Sultan. Wajahnya rupawan tidak jauh beda dengan salah satu artis Korea—Lee Min Ho. Hafal 30 juz, lulusan terbaik Kairo, sekarang mendapat beasiswa S2 ke Turki, punya usaha pula. Apalagi yang aku harapkan? Bukankah Kak Hafiz sudah masuk dalam kriteria calon suami idaman? Tapi, bukan yang itu aku harapkan. Aku mengharapkan Musafir yang selama ini aku nanti. Hingga saat ini, masih menantinya.

Aku menggelengkan kepala. Bukan jawaban tidak tahu. Itu hanya isyarat bahwa aku bingung apa yang harus aku katakan.

"Jujur Mama kecewa padamu, Ra." Kalimat itu berhasil membuatku sesak. Wajar bila Mama kecewa, sebab dari awal mamalah yang antusias mengenai proses taaruf ini hingga aku mengakhirinya seperti ini.

Aku tak menanggapi pernyataan Mama, mataku berair yang mati-matian kutahan agar tak jatuh membahasahi pipiku.

"Tapi, tidak apa, Ra. Barang kali Hafiz memang bukan jodohmu dan Mama harap semoga keputusanmu ini terbaik, Ra. Mama akan terus dukung kamu," ucap Mama menepuk bahuku.

♥♥♥

Filosofi Penantian || TERBITCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang