13.06 WITA.
Aku memasuki ruang perpustakaan daerah. Tak ada siapa-siapa di sana, kecuali penjaga perpustakaan. Aku melangkah menuju tempat penitipan barang menaruh tasku, lalu menulis daftar pengunjung, kemudian mencari buku yang menarik. Alasannya sih gitu, padahal nyatanya cuma ingin bertemu dengan Sam. Kami janjian ketemu di sana.
Setelah tiga tahun, perpustakaan ini masih saja sama. Tak ada perubahan yang berarti, bahkan sepertinya buku-bukunya masih itu-itu saja, tak ada tambahan. Aku berjalan ke arah rak yang berisikan novel-novel, iseng-iseng aja mencari buku perdanaku barangkali ada yang nyasar.
Aku membaca satu per satu nama buku yang tersusun rapi, kebanyakan buku yang tersusun di sana buku lama yang pernah kupinjam, dan beberapa karya terbaru Kak Sri Wahyuni. Agaknya anggapanku perihal tidak ada buku baru sepertinya salah. Dan, eh! Ini buku perdanaku, bukan? Aku meraih buku yang tersusun paling samping dekat buku terakhir karya Kak Sri Wahyuni.
Benar. Itu buku karyaku, ternyata di sini ada juga. Aku tersenyum senang, gak nyangka buku itu ada di sini. Padahal rencananya akan kusumbangkan setelah buku keduaku terbit. Gak jadi deh.
"Mandangin buku karya sendiri memang begitu ya?" Aku mendongak melihat sosok yang ada di depanku.
"Hai, Ra!"
Aku meletakkan jari telunjukku di depan mulutku dengan isyarat agar tidak mengeluarkan suara terlalu keras. Ia pun mengangguk, memberiku kode agar bisa keluar dari perpustakaan daerah, aku mengiyakan.
"Kau sudah lama menanti, Ra?" tanyanya begitu kami berada di luar perpustakaan daerah.
"Gak juga, Sam."
"Kau sudah salat?"
"Tentu saja, aku datang lewat jam 1 tadi."
"Baiklah. Kalau gitu kita cari tempat yang adem, bagaimana?"
"Boleh."
Kami pun berjalan mencari tempat yang nyaman, yang pada akhirnya terhenti di sebuah kafe tak jauh dari perpus. Kafe ini sepertinya baru, jelas dilihat dari bangunan dan desainnya. Kami memilih tempat duduk dekat dengan jendela, sembari melihat pemandangan kendaraan yang hilir-mudik tanpa jeda.
"Kamu ingin minum apa, Ra?" tanyanya.
"Apa saja, Sam," ucapku meraih tasku mengeluarkan sesuatu.
"Baik, sebentar aku pesan, ya." Sam berdiri melangkah menuju barista kafe.
Aku tak menanggapi, masih sibuk dengan tasku. Tak lama kemudian, Sam kembali membawa dua minuman dingin. Thai tea dan greean tea. Sam menyodorkan padaku minuman yang berisi greean tea. Seketika aku menyambutnya dengan senang, sebab itu minuman kesukaanku.
"Terima kasih," ucapku.
"Sama-sama," katanya duduk di depanku.
Aku menyeruput minuman dingin tersebut, adem, tenang, rileks, semua bercampur menjadi satu. Aku menikmatinya.
"Oh iya, ini swetermu, Sam. Terima kasih, dan maaf kembalinya baru sekarang. Udah lama banget." Aku menyerahkan bungkusan plastik hitam.
"Kamu masih ingat aja, Ra." Sam meraih bungkusan plastik hitam itu.
"Tentu saja, Sam." Aku kembali menyeruput minumanku.
"Itu artinya selama tiga tahun ini, kau selalu mengingatku. Bukan begitu?"
"Hahaha. Gak juga, aku hanya teringat saat melihat sweter itu. Teringat, kapan Semesta akan mempertemukan kita sehingga sweter itu bisa kembali."
"Sekarang Semesta sedang memainkan skenario-Nya, Ra. Setelah tiga tahun, sweter ini akhirnya kembali juga, bukan?"
"Ya, kamu benar, Sam. Semesta memang bekerja dengan baik untu kita."
"Tapi, sepertinya aku tak bahagia, Ra."
"Kenapa?"
"Bukankah kembalinya sweter ini membuat kita tak bisa bertemu lagi? Sudah tak ada alasan untuk bertemu?"
"Hahaha. Sam.. Sam.., sepertinya kau terpengaruh dengan isi novelku. Kau jadi melankolis, sampai kau lupa dengan satu hal, Sam. Kau tahu, Sam. Kita hanyalah pemain, pemilik skenario bukan kita. Bahkan setelah swetermu kembali, bila Semesta masih menginginkan kita bertemu, kenapa tidak? Bisa jadi setelah ini, akan melahirkan banyak pertemuan-pertemuan yang tak kita duga, pun mungkin juga sebaliknya. Intinya kita tetap jalani saja, apapun skenario itu," kataku panjang kali lebar.
"Ucapanmu keren, Ra. Kau membuatku kembali bersemangat."
"Benarkah?"
"Iya."
"Kalau begitu, boleh aku menagih janjimu? Bukankah pertemuan kita kali ini ingin menuntaskan pertanyaanku yang belum terjawab?"
"Tentu saja, Ra. Dengan senang hati."
Aku menyeruput minumanku sekali lagi, sebelum Sam bercerita.
Selama 3 tahun ini, ia ternyata menetap di London melanjutkan S3-nya. Pertemuan kami yang terakhir di Rumah Literasi dulu ternyata hari terakhir ia di Indonesia, sebab usai dari sana ia langsung bertolak ke bandara menuju London. Tak ada yang berubah dari dia, dia masih seperti dulu. Hanya saja, wajahnya tampak bercahaya. Kemungkinan karena pengaruh dari sana. Ia baru tiba di Indonesia beberapa hari yang lalu, dan langsung bertolak ke kampusku begitu tahu bahwa ada acara kepenulisan yang mendatangkan diriku sebagai narasumber. Itulah pertemuan pertama kami setelah terpisah tiga tahun lamanya.
Sam juga menceritakan kehidupannya selama di London, menyaksikan pergantian empat musim, dan berkunjung ke tempat-tempat yang indah. Tak lupa pula ia menyinggung soal masyarakat muslim di sana, penyebarannya, dan sejarah perkembangan Islam. Pengetahuan Sam perihal Islam di London ternyata luas sekali, iri aku dibuatnya. Sebab, jangankan sejarah Islam di dunia bahkan di Indonesia saja sepertinya kurang.
Tak terasa azan telah berkumandang, aku segera bangkit guna menunaikan panggilannya. Sam pun demikian, sepertinya juga ingin balik.
"Tujuan kamu sekarang ke mana, Sam?" tanyaku basa-basi meraih tasku.
"Masjid," jawabnya mantap.
"Masjid?" Heranku, setahuku Sam itu non-muslim.
"Iya, Ra. Aku sudah jadi mualaf."
Satu fakta lagi yang kuketahui, Sam menjadi mualaf. Entah kenapa, sesuatu yang aneh menjalar di tubuhku. Semacam rasa bahagia.
♥♥♥
KAMU SEDANG MEMBACA
Filosofi Penantian || TERBIT
Teen Fiction[AWAS!! CERITA INI MENGANDUNG KENYESEKAN, HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!] Apalah arti penantian, bila yang ditunggu tanpa kepastian? Apalah arti penantian, bila yang ditunggu tak jua datang? Namaku Kejora. Gadis yang bodoh, sebab menanti sosok yang ta...
