Dua Puluh Satu

97 21 0
                                        

"Hati-hati ya!" ucapku begitu anak-anak menyalami tanganku.

Hari sudah sore, jarum jam di tanganku telah menunjukkan angka 5 lebih. Begitu anak-anak telah kembali, aku menuruni tangga menyusul Beri, Nada, dan Maya yang sudah ada di bawah.

"Terima kasih atas kerja samanya hari ini, Teman-teman," ucap Beri begitu kami berkumpul di depan Rumah Literasi.

"Iya, sama-sama," kata kami serempak.

"Oh ya. Jangan lupa pekan depan ya, May."

"Siap, Kak Ber. Saya sudah bicara sama orangnya, kok."

"Syukurlah kalau begitu. Baiklah, cukup sampai di sini. Sampai jumpa pekan berikutnya," tutup Beri.

Kami pun bubar.

Meninggalkan Rumah Literasi yang telah sepi. Maya dan Nada sepertinya telah sampai rumah, di lorong dua tadi kami berpisah. Wajar saja, mereka berdua adalah warga dari desa tempat kami mengabdi. Sementara aku dan Beri masih berjalan beberapa meter lagi untuk sampai di jalan raya–menunggu angkutan terakhir.

Ting!

Sebuah pesan masuk ke ponselku. Segera kubuka, barangkali ada pemberitahuan penting. Terlebih lagi sudah tiga hari ini aku tidak aktif di grup chat. Siapa tahu pesan itu berasal dari ketua tingkatku.

Kak Hafiz:

Assalamualaikum, Dik Ra. Melalui pesan ini Kakak hanya ingin memberitahukan bahwa insyaallah besok subuh Kakak akan berangkat ke Turki melanjutkan studi Kakak. Titip salam buat Tante dan Bulan di sana, juga doanya.

Oh ya, semoga perkuliahan Dik Ra juga berjalan lancar tanpa hambatan. Terima kasih atas waktunya selama ini.

Wassalam.

Aku mendesah. Rupanya keberangkatan Kak Hafiz dimajukan. Ya, sudah dua pekan berlalu sejak kedatangan Kak Hafiz ke rumah mendengar jawabanku perihal kelanjutan dari taaruf kami. Tak kusangka, setelah kejadian itu Kak Hafiz dengan cepat mempersiapkan keberangkatannya ke Turki. Padahal, sebelumnya ia mengatakan keberangkatannya 2 bulan lagi.

Apa mungkin Kak Hafiz buru-buru berangkat karena memutuskan taaruf itu? Ah! Tidak mungkin! Kak Hafiz orangnya tak seperti itu, ia tak menunjukkan rasa kecewanya pada saat kunjungan terakhir beliau ke rumah.

"Ra?" Beri menyentuh bahuku, seketika aku tersadar dari lamunanku.

Aku berbalik ke arahnya yang berada di sampingku.

"Kamu kenapa?" tanyanya.

"Gak apa-apa, Ber."

"Dari tadi aku perhatiin kamu melamun."

"Ah! Itu, aku hanya memperhatikan pepohonan di luar sana." Elakku sembari menunjuk ke luar.

Beri mengangguk, tak bertanya lagi. Suasana di dalam angkutan kembali sepi. Angkutan terakhir ini memang hanya aku dan Beri penumpangnya, ditambah seorang ibu yang sepertinya pergi atau balik kampung. Melihat hampir setengah angkutan ini diisi dengan barang-barang ibu itu.

Aku kembali mengecek ponselku. Lagi kedua kalinya aku membaca isi pesan dari Kak Hafiz, aku belum membalas pesan tersebut. Entahlah, apakah Kak Hafiz membutuhkan balasan atau tidak. Namun, sepertinya tidak sopan jika aku mengacuhkan pesan Kak Hafiz kali ini. Maka dari itu dengan segenap keberanian, aku mulai mengetik beberapa kata guna membalas pesan Kak Hafiz. Setidaknya ini adalah pesan terakhirku.

"Kiri, Bang!" ucapku.

Setelah membayar ongkos, aku kemudian turun. "Dah, Ber. Hati-hati!" kataku melambaikan tangan pada Beri. Beri membalas lambaikan tanganku, samar-samar kudengar kata 'iya'.

Begitu angkutan itu pergi, aku langsung balik kanan. Bergegas sampai di rumah, sebentar lagi azan Magrib akan dikumandangkan.

♥♥♥

Filosofi Penantian || TERBITCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang