"Kak, Firman boleh minta biodata Kakak, gak?" tanya Firman begitu masuk ke dalam kamarku tanpa ketuk pintu.
Aku menoleh ke arahnya, jemariku terhenti menari di atas keyboard. "Untuk?" Aku mengerutkan dahi tak mengerti jalan pikiran adikku yang satu ini.
Dia duduk di atas kasurku, segera aku balik menghadap ke arahnya penuh curiga.
"Tadi Firman berkunjung ke pesantren ketemu Gurutta Umar—pengurus Pondok Pesantren." Firman mulai bercerita.
"Terus?" Aku memotong cerita Firman.
"Kakak dengar dulu, Firman belum selesai." Ia menatapku tajam.
"Iya," kataku tak berselera.
"Firman konsul sama beliau mengenai perkembangan pesantren beberapa tahun ini, juga rencana beliau mendirikan cabang di beberapa tempat luar kabupaten. Firman ditunjuk sebagai pengelolah salah satu dari cabang tersebut nantinya kalau sudah lulus. Firman iyain aja, sebab cita-cita Firman ingin mengabdi pada pondok pesantren sambil menunaikan wasiat almarhum Ayah."
Aku mengangguk mendengar cerita Firman, adikku ini memang pernah di beri amanah dari almarhum ayah.
"Bukan hanya perihal pesantren, Gurutta juga membahas kehidupan anak-anaknya dan keponankannya."
"Kalau masalah itu, udah biasa, Dik. Gak usah ngomongin ke Kakak juga kali." Lagi aku memotong perkataan Firman, jujur saja aku bosan mendengar ucapannya yang berbelit-belit. Aku membalikkan badanku menghadap laptop ingin melanjutkan tulisanku.
"Gurutta minta biodata Kakak, ia ingin mengenalkan Kakak dengan salah satu keponakan beliau."
Deg! Seketika jemariku terhenti di udara, kaget mendengar ucapan Firman barusan. Aku kembali membalikkan badan ke arahnya.
"Apa?"
"Gurutta minta biodata Kakak, beliau ingin memberikannya kepada salah satu keponakan beliau."
Seketika aku tertawa kencang. "Kalau bercanda jangan berlebihanlah, Dik." Aku menepuk-nepuk bahunya, tak percaya.
"Aku serius, Kak. Aku gak pernah bercanda dengan Kakak, terlebih lagi ini mengenai Gurutta."
Kulihat wajahnya memang meyakinkan, dan benar bicara soal lingkup pesantren ia tak pernah bercanda.
"Bagaimana Gurutta tahu kalau kau punya Kakak?" tanyaku akhirnya.
"Kakak lupa ya, dulu Kakak sering berkunjung ke pesantren aku, sering ikut keliling pesantren. Perlu Kakak tahu ya, setiap Kakak pulang ke rumah setelah menjenguk aku, Gurutta sering memanggilku ke ruangannya dan bertanya mengenai Kakak."
"Oh ya?"
Satu fakta lagi yang kutahui bahwa ternyata Gurutta sering bertanya perihal diriku kepada Firman—adik nyebelin tapi ngangenin.
"Ya, begitulah. Awalnya aku pikir Gurutta ingin menjadikan Kakak istri kedua, ternyata untuk keponakannya."
Aku memanyungkan mulutku begitu ia menyebut istri kedua. Enak saja! Lantas berubah menjadi bercahaya begitu menyebut keponakannya. Seketika aku teringat dengan dia, bukankah dia salah satu keponakan Gurutta? Tiba-tiba dadaku berdebar kencang, apakah inilah jawaban atas penantianku? Ya Allah, kuharap jawabannya iya.
"Keponakan yang mana?" Aku memperbaiki intonasi suaraku.
"Aku gak tahu, Kak. Setahuku keponakan Gurutta itu ada delapan, enam cowok dan dua cewek. Dari enam cowok ini, sudah dua yang menikah, satunya lagi sementara lamaran, dan masih ada tiga dalam pencarian. Jadi kemungkinan di antara ketiganya, Kak," jelasnya.
"Yang sudah menikah itu bukannya pas kamu masih mondokkan?"
"Iya, Kak. Yang nikah waktu itu putra Gurutta, jadi keponakannya yang di luar kota atau negeri kembali. Bukannya Kakak udah nanyain waktu itu ya?"
"Cuma memperjelas, Dik."
"Jadi bagaimana, Kak?"
"Apanya?"
"Biodatanya. Mau ngasih apa enggak nih?"
Aku balik lagi menghadap laptopku, mencari file yang berisikan biodataku lengkap dengan visi-misi kehidupanku. Kemudian aku print, sebelum menyerahkan pada Firman.
"Nih!" Aku menyerahkan lembaran yang baru saja ku-print padanya.
"Wuih, banyak banget, Kak. Aku cuma minta biodata loh."
"Udah, ambil aja. Serahin sama Gurutta, anggap saja itu adalah proposal jodohku. Kalau sudah gak ada keperluan, bisa keluar? Aku ingin menulis."
"Iya deh, iya. Keluar ini, Bu," ucapnya.
"Jangan lupa tutup pintu!"
"Siap, Bu Bos."
Aku mulai menarikan jari jemariku di atas keyboard, namun Firman kembali mengintip ke dalam kamarku.
"Apa?" tanyaku galak sebab telah mengganggu konsentrasiku dalam menulis.
"Dari tiga keponakan Gurutta yang kusebutkan tadi, kayaknya yang pernah studi di Maroko deh. Soalnya tadi siang, ia baru tiba. Kalau gak salah nih ya, Kak."
Usai mengucapkan kalimat itu, ia menutup pintu.
Benarkah? Itu artinya penantianku selama ini tidak sia-sia kan? Ya Allah.
Aku cekikikan. Masih belum percaya, rasanya aku seperti bermimpi. Aduh, aku gak tahu bagaimana harus mencurahkan perasaan bahagia ini. Intinya aku bahagia. Titik! Ah, ya. Aku harus memberi tahu Bulan, ia pasti akan senang mendengar kabar ini. Dialah yang paling tersiksa melihat aku menanti, menolak semua orang yang melamarku demi keyakinanku bahwa dia, maksudku Musafir itu akan datang ke mari.
♥♥♥
KAMU SEDANG MEMBACA
Filosofi Penantian || TERBIT
Teen Fiction[AWAS!! CERITA INI MENGANDUNG KENYESEKAN, HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!] Apalah arti penantian, bila yang ditunggu tanpa kepastian? Apalah arti penantian, bila yang ditunggu tak jua datang? Namaku Kejora. Gadis yang bodoh, sebab menanti sosok yang ta...
