Dua Puluh Tiga

83 15 1
                                        

Akhirnya aku bisa bernapas lega.

Final yang diselenggarakan selama 5 hari, kini berakhir hari ini sebelum melihat pengumuman nilai yang keluar untuk semester ini beberapa pekan ke depan.

"Ya, Ber."

"Ingat besok pertemuan terakhir kita di Rumah Literasi."

"Besok udah terakhir?"

"Iya, Maya sama Nada mau final juga. Lagi pula besok kita kedatangan tamu yang dimaksud Maya dan Nada."'

"Ah, ya! Maaf, aku lupa, Ber."

"No problem, Ra, kudengar suaramu sepertinya kau butuh refreshing deh."

"Hmm, begitulah."

"Baiklah, sampai ketemu besok di RL."'

"Ya," ucapku menutup telepon kemudian melanjutkan perjalananku pergi ke suatu tempat yang benar-benar membuat pikiranku tenang.

Tak banyak yang bisa kulakukan untuk diri ini, aku hanya ingin menyendiri. Menguapkan sesak yang selama ini bertumpuk. Sebagai seorang perempuan, hal yang paling mujarab untuk menenangkan pikiran hanya ada dua yaitu, menangis dan kesunyian. Sepertinya aku tahu tempat yang bisa membuatku melakukan hal itu. Dengan cepat, kulangkahkan kakiku. Menyegarkan pikiran seperti kata Beri barusan.

♥♥♥

Aku tiba di Rumah Literasi sekitar pukul 8. Mengamati setiap sudut area tersebut. Bunga-bunga yang bermekaran disetiap pinggir jalan sangat cantik. Sepi. Ya, suasana rumah literasi masih sepi. Sepi banget malah. Sehubung kelas mendongeng dimulai pada pukul 9. Mungkin anak-anak masih sibuk dengan sarapan pagi mereka di rumah masing-masing.

Beri masih sempat-sempatnya mengambil gambar di sisi jalan dengan latar lapangan kecil dan bunga disetiap sisinya. Tak lupa pula ia meng-upload-nya ke semua medsos-nya, dengan caption "Minggu, menanti malaikat kecilku".

"Bagus gak, Ra?" tanya Beri memperlihatkan gambarnya, belum sempat kumelihatnya langsung ia ganti dengan membuka aplikasi dominan biru.

Beri sibuk dengan dunia mayanya, sementara aku sibuk dengan mengedarkan pandanganku sembari memain-mainkan ujung jilbabku.

"Eh, itu Maya sama Nada sudah datang," ucapku mengarahkan jari telunjukku pada dua perempuan yang berjalan menuju ke arah kami. Seketika Beri menghentikan kegiatannya di dunia maya.

"Kalian sudah datang dari tadi?" tanya Maya ketika sampai.

"Hm, baru seperempat jam yang lalu kok." Senyumku mengembang.

"Oh."

"Tamu yang kalian maksud mana?" tanya Beri kemudian.

"Sementara perjalanan ke sini, mungkin agak terlambat," jawab Nada.

"Katamu dia orang sini, kok terlambat?" Beri masih saja bertanya, seakan belum puas dengan jawaban Nada tadi.

Kulihat Nada tersenyum, kemudian menanggapi, "Iya. Hanya saja beberapa hari ini dia lagi di luar kota, jadi sekarang perjalanan pulang ke sini."

Aku dan Beri pun mengangguk paham. Satu dua kulihat anak-anak sudah berdatangan, dan langsung mengambil tempat duduk di depan kami semua. Sementara menunggu tamu yang dimaksud Maya dan Nada, kami mengisi kekosongan ini dengan mendongeng.

Kali ini yang mendongeng adalah aku dengan judul Sawerigading. Bagiku, memberikan pengetahuan lewat dongeng yang kubawakan adalah sebuah kebajikan. Melihat tawa mereka sudah cukup membuat hatiku menjadi damai. Senyum kebahagiaan yang terpancar dari wajah anak-anak di Rumah Literasi adalah anugerah Tuhan yang terindah. Wajah polos itu tertawa seakan tak ada dosa yang mereka perbuat, seakan tiada luka yang membalut tubuh anak-anak itu. Berbeda dengan diriku yang harus bersandiwara untuk menutupi luka, sakit hati, dan perih dalam penantian. Tertutup dengan senyum yang selalu kubagi pada semua orang, senyum seakan semuanya akan baik-baik saja.

Tiba-tiba, semua mobil terparkir di depan Rumah Literasi bersamaan dengan berakhirnya dongeng yang kubawakan. Pandanganku mengarah ke sana, pun dengan Maya, Nada, Beri, dan anak-anak.

Dari dalam mobil, keluar sosok pemuda dengan kemeja kotak-kotak yang digulung sampai lengan, dan kacamata hitam yang ia kenakan. Tunggu dulu, sepertinya aku kenal dengan pemuda itu. Pemuda itu kini berjalan ke arah kami, naik ke Rumah Literasi.

"Aku minta maaf kepada kalian semua atas keterlambatanku hari ini," ucap pemuda itu seraya membuka kacamatanya.

Dan saat itulah aku menutup mulutku tidak percaya, sebab aku kenal pemuda itu.

♥♥♥

Filosofi Penantian || TERBITCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang