Aku masih berdiri di atas bukit belakang rumah, menatap mentari yang sebentar lagi akan tenggelam. Aliran sungai di bawah mengalir dengan tenang, aku menutup mataku merasakan embusan angin yang menerpa wajahku. Menenangkan. Begitu yang aku rasakan. Pelan-pelan kurantangkan tanganku, menarik napas lalu menghempuskannya secara perlahan.
Aku membuka mataku, memandangi pemandangan di sekitarku. Ada keterteraman.
Kenapa masih bertahan, sedang yang siap untuk menyempurnakan ada di depan mata? Karena hati punya kenyakinan untuk menanti walau tanpa kepastian.
Kalimat itu dulu selalu menjadi peganganku. Selalu aku agung-agungkan, karena aku percaya dengan apa yang kuyakini. Namun, kemarin malam telah dipatahkan dengan kenyataan yang menyakitkan. Peganganku perlahan melonggar.
Aku mengusap air mataku. Sejak kemarin memang selalu tak berhenti untuk mengalir tanpa rasa malu.
Saat semesta mempertemukan kita, kupikir cerita kita akan menjadi kombinasi yang indah. Ternyata, anganku terlalu indah untuk menjadi nyata. Kita dua orang asing dengan kisah berbeda, ditakdirkan untuk bersinggungan. Bukan melebur melahirkan kisah baru bersama.
Aku bodoh!
Terlalu menafsirkan dengan sangat baik. Hingga lupa, jikalau aku hanyalah pemeran. Bukan sutradaranya.
"Aku juga gak nyangka ...." Bulan sudah berdiri di sampingku. "Kalau kenyataannya akan jadi seperti ini," lanjutnya.
Aku menghirup udara pelan.
"Kau tidak apa, Ra?"
"Apa masih tidak apa setelah mendapat kenyataan yang begitu menyakitkan, Lan?" tanyaku balik.
"Ya. Aku mengerti perasaanmu, Ra. Bagaimana pun ini sudah tujuh tahun, dan semua berakhir dengan sia-sia."
Aku tersenyum samar mendengar pernyataan Bulan. Pandanganku masih lurus ke depan, diam beberapa saat sebelum berbalik.
"Kau tak menunggu hingga mentari benar-benar tenggelam, Ra?" tanya Bulan begitu melihatku melangkah pulang.
Langkahku terhenti, "Untuk apa aku menanti, Lan? Dia akan tetap sama. Tenggelam di balik pegunungan sana, membawa serta mimpi-mimpiku bersemayam dengannya."
Pada akhirnya aku paham, goresan jingga yang selalu aku nanti ternyata bukan milikku. Hembusan angin yang selalu membawa serta pesan rinduku nyatanya malah berbelok entah kemana. Rindu yang selama ini aku selalu rapalkan, ternyata benar-benar tak sampai pada tuannya.
Aku melanjutkan langkahku. Tak seharusnya aku berada di sini dan rinduku sudah tak ada lagi di sini.
Kupikir semua perihal penantianku telah berakhir.
♥♥♥
KAMU SEDANG MEMBACA
Filosofi Penantian || TERBIT
Fiksi Remaja[AWAS!! CERITA INI MENGANDUNG KENYESEKAN, HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!] Apalah arti penantian, bila yang ditunggu tanpa kepastian? Apalah arti penantian, bila yang ditunggu tak jua datang? Namaku Kejora. Gadis yang bodoh, sebab menanti sosok yang ta...
