Dua Puluh Dua

89 18 0
                                        

Aku membalikkan halaman buku, pena yang kuselipkan di telingaku sesekali kugunakan untuk menandai hal-hal yang penting dalam buku catatanku. Kadang aku mengembalikan ke halaman sebelumnya jika terlupa atau masih belum mengerti.

Di atas kasur, Bulan berbaring di sana sibuk memerhatikan gawainya. Lebih tepatnya mengotak-atik seluruh media sosial yang dia miliki. Kadang aku mendengar tawa cekikikannya. Tapi masa bodoh dengan itu, lebih baik aku fokus dengan buku yang ada di hadapanku sekarang.

Aku memegang kepalaku yang agak pusing, entah mengapa materi kuliah yang satu ini tak bisa masuk ke dalam memori otakku. Padahal sejak selesai salat Isya tadi aku mempelajarinya, sekarang jam menunjukkan angka 9. Itu artinya kurang lebih 2 jam aku telah belajar.

"Aku kabar penting, Ra," pekik Bulan bangkit dari pembaringannya.

Belum sempat aku berbalik ke arahnya, dia sudah ada di sampingku. "Lihat, Ra!" Bulan memberikan ponselnya padaku. Tanpa ba-bi-bu, aku mengambil ponselnya.

Tak ada yang menarik di sana–aplikasi dominan biru. "Apa, Lan?" tanyaku keheranan.

"Coba baca ini!" tunjuknya pada sebuah status di beranda media sosial itu. Aku menuruti perintah Bulan. Usai membacanya aku beralih menatap Bulan, dahiku berkerut tak mengerti.

"Ini, Ra!" tunjuk Bulan begitu melihat wajah kebingunganku.

Aku memperjelas penglihatanku pada pengguna yang di-tag pengguna sosial media itu yang bertuliskan 'Lancar sampai hari H, Kak J'.

"Boleh jadi saudaranya, Lan," ucapku positif thingking.

"Yakin saudaranya?"

Aku diam. Tak mampu menjawab pertanyaan Bulan. Jujur aku juga ragu dengan jawaban yang aku berikan padanya.

"Boleh jadi kan? Kita gak boleh mengambil kesimpulan begitu saja tanpa ada fakta."

"Jadi maksudnya status ini bukan fakta, Ra?"

"Aku gak mengklaim seperti itu, tapi ada baiknya kita berpikir positif saja. apa yang kita lihat belum tentu itu kenyataannya."

"Hmmm, bener juga sih," kata Bulan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Media sosial juga luas, gak ada batasannya. Jadi gak bisa bedain mana hoax mana fakta," lanjutnya.

"Nah, itu tahu." Aku melanjutkan membaca materiku.

"Eh, gimana kalau kita tanya sama Firman. Kemungkinan besar ia tahu."

"Hmm, boleh juga. Nantilah kalau dia nelepon ke sini."

Bulan mengangguk setuju kemudian kembali ke kasur melanjutkan aktivitasnya mengotak-atik media sosial.

Jarum jam terus berputar, tak terasa telah menunjukkan angka 12. Aku menutup bukuku, mataku sudah lelah. Saatnya aku memulihkan tenaga mempersiapkan mental untuk UPM besok. Kulihat Bulan terlihat nyenyak sekali tidurnya yang sejak tadi dia sudah tidur. Aku menarik selimut, mencoba berbaring di sisi Bulan. Di luar sana, sayup-sayup kudengar suara hewan malam yang kini menjadi pengantar tidurku.

"Ra!"

Langsung saja mataku terbuka mendengar Bulan memanggil namaku, aku berbalik menatapnya. Rupanya dia belum tidur.

"Ya?"

"Gimana kalau yang menikah itu beneran dia?"

Deg!

Pertanyaan yang selama ini aku hindari akhirnya terucap juga.

Bagaimana kalau dia menikah?

Jujur, sepertinya aku tak bisa menerima kenyataan itu, namun jika Semesta menggariskannya demikian? Aku bisa apa?

Aku tersenyum menatap Bulan, "Itu artinya penantianku terhadapnya telah selesai."

♥♥♥

Filosofi Penantian || TERBITCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang