Dua Puluh Lima

82 18 0
                                        

Setelah semua kegiatanku rampung, dan beristirahat beberapa pekan. Kini aku mulai disibukkan dengan kegiatan semester akhir, mulai PPL, pembuatan proposal penelitian, dan beberapa kegiatan lainnya.

Aku sudah jarang berkunjung ke RL, pun dengan Beri. Bukan karena kami malas, hanya saja kami tidak ada waktu ke sana. Kami hanya berharap agar Maya dan Nada bisa meneruskan perjuangan kami dalam meningkatkan budaya literasi. Untuk saat ini, hanya merekalah yang kami andalkan.

Bulan sudah kembali bekerja, jatah liburnya telah habis. Dia kini disibukkan dengan pekerjaan yang hampir setiap hari akan menyita waktunya, kemungkinan ia tidak ada waktu luang untukku bila aku berkunjung ke kosnya. Baiklah, tak apa. Bagaimana pun hidup terus berlanjut.

Di tengah-tengah kesibukanku, aku sesekali mampir ke toko buku kemudian mengecek buku terbaru dari penulis yang kini menjadi favoritku—Sri Wahyuni. Sejak Sam memperkenalkanku buku Definisi Patah Hati—buku perdana beliau, aku menjadi kecanduan. Aku selalu mengintip media sosialnya mencari tahu buku apa yang sedang ia garap. Diam-diam, aku pun mulai menulis cerita bergenre remaja bukan lagi dongeng. Meski aku tak bisa menulis sebagus tulisan Kak Sri Wahyuni. Namun, aku selalu percaya bahwa tak ada seseorang yang langsung menjadi hebat. Semua berawal dari titik terendah, kemudian pelan-pelan merangkak naik hingga sampai pada puncak.

Karena kesibukanku ini, aku sudah tak sesering dulu mengingatnya maksudku Musafir itu. Bisa dikatakan lupa sementara. Hingga tak terasa, waktu cepat sekali berputar. Berotasi, mengganti hari demi hari.

♥♥♥

Filosofi Penantian || TERBITCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang