3 tahun kemudian
"Selamat siang, Kak. Maaf kami dari panitia hanya ingin mengonfirmasikan, apakah Kakak bersedia hadir pada worskshop pekan depan?"
"Siang, Dik. Insyaallah, saya akan hadir. Di Kampus Uniprima, bukan?"
"Iya, Kak."
"Baik. Sampai jumpa di sana."
"Terima kasih, Kak."
"Sama-sama."
Panggilan terputus, aku memijit kepalaku. Pekan ini benar-benar padat. Malam ini aku harus berangkat ke Soppeng, lanjut lusa ke Bone, ke Pare-pare kalau tak salah di sana tiga hari untuk tiga kampus. Kemudian kembali lagi ke Wajo, tepat hari Ahad menjadi narasumber kepenulisan.
Entah kenapa, sejak peluncuran novel perdanaku setahun lalu. Ada banyak tawaran untukku dalam mengisi seminar, workshop, dan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kepenulisan. Dan sejak saat itu, waktuku banyak tersita dalam menghadiri undangan-undangan dari berbagai komunitas, kampus, dan lain-lain.
Dreett dreett.
Teleponku kembali berdering, segera kuangkat tanpa melihat siapa yang menelpon. "Halo!" sapaku.
"Halo, Ra. Apa kabar?"
"Alhamdulillah, baik. Kau sendiri?"
"Sama sepertimu, Ra. Dengar-dengar, saat ini kau jadi penulis terkenal ya? Punya undangan kepenulisan di mana-mana." Terdengar kekehan di seberang sana.
Seketika tawaku meledak mendengar perkataannya, "Dapat hoax dari mana, Ber? Nulis sih iya, tapi terkenal kagak. Dapat undangan sih iya, tapi undangan ke mana-mana, kagak."
"Tapi kan sudah dari narasumber bukan, ya?"
"Alhamdulillah."
"Sama saja, Ra. Aku tuh seneng banget pas tahu kalau sekarang kau jadi penulis. Cita-citamu yang dulu akhirnya terkabulkan juga."
"Hehehe. Kabar Marauke bagaimana?"
"Baik dong, Ra."
"Wah, jadi pengen ke sana."
"Hahaha. Ke sini sudah, ketemu dede bayi."
"Iya, nih. Sejak lulus, kita semua pada pisah. Kau di Marauke ikut suamimu dan tinggal di sana. Maya dan Nada, dengar-dengar mereka sedang di Kuala Lumpur lanjut S2. Tinggallah aku di sini. Parah banget kalian."
"Ya, aku setuju dengan pernyataanmu, Ra. Kita semua ninggalin kamu. Tapi, ada satu hal yang kamu lupa, Ra. Aku di Marauke, Maya dan Nada di Kuala Lumpur tidak bisa ke mana-mana sepertimu yang mempunyai undangan kepenulisan di berbagai tempat. Kupikir hidupmulah yang paling indah, Ra. Kau masih berinteraksi dengan banyak orang."
"Benar juga, sih."
"Nah, sadarkan kamu. Oh, ya. Udah dulu ya, kayaknya si dede bayi bangun. Hehehe."
"Iya-iya, ngerti kok yang udah jadi istri dan ibu."
"Hahaha. Suatu saat kau akan merasakannya, Ra. Cepat-cepatlah cari pendamping."
"Pa—"
Belum sempat aku menanggapi ucapan Beri, dia sudah memutuskan panggilan sepihak tanpa ucapan salam. Dasar Beri! Kebiasaannya gak pernah berubah.
Aku meletakkan telepon genggamku di atas meja tepat di samping laptopku, kemudian meraih secangkir green tea yang tinggal separuh—menyesapnya berharap dapat mengurangi penat.
Aku menatap layar laptopku. Lembar kerja Microsoft Word-ku masih terlihat kosong, tak ada tulisan di sana. Hanya tanda kursor yang berkedip-kedip. Aku menarik napas, lantas menghembuskannya. Merenggangkan jari-jemariku, saatnya aku menulis buku keduaku.
Bagiku, menulis adalah terapi. Setidaknya dengan menulis, aku dapat mencurahkan segala perasaanku yang tak bisa kuucapkan. Barang kali dengan menulis, aku pelan-pelan menyamarkan luka.
Aku masih ingat perkataan Bulan beberapa bulan yang lalu sebelum ia menikah, "Cobalah buka hatimu, Ra. Kau tak boleh seperti ini."
Saat itu aku hanya bisa mengangguk, mengiyakan perkataan Bulan. Meski sebenarnya aku tak pernah melakukan seperti apa yang ia sarankan. Aku tahu, niat Bulan baik. Ia sudah lelah melihatku menanti Musafir yang tak kunjung datang itu. Hanya saja ia tak tahu, bahwa sekali aku jatuh cinta maka aku akan jatuh terlalu dalam. Barang kali pepatah itu benar, bahwa apabila seorang wanita jatuh cinta, maka ia akan jatuh sedalam-dalamnya, pun saat ia patah hati, maka ia akan patah hati sepatah-patahnya.
Aku masih percaya, bahwa penantian selalu sepaket dengan keyakinan dan kesabaran. Maka biarkanlah aku yang penuh keyakinan menantinya hingga batas sabarku benar-benar berakhir.
Pip! Pip!
Suara klakson mobil berbunyi.
Aku segera menutup laptopku memasukkannya ke dalam tas. Tak lama kemudian, Mama datang ke kamarku.
"Ra, kau sudah siap, Nak? Mobilnya sudah ada di depan."
"Iya, Ma," jawabku. Berjalan mengikuti beliau yang sudah ke depan lebih dulu.
"Kamu baik-baik ya, Nak. Semoga semuanya berjalan dengan lancar, tetap berdoa minta perlindungan kepada Allah," pesan Mama padaku.
"Iya, Ma. Kejora pamit dulu. Assalamualaikum," ucapku mencium punggung tangan beliau.
"Waalaikumussalam."
Aku berjalan ke arah mobil yang sudah terparkir di depan rumah—masuk. Sesaat mobil pun melaju, membawaku pada orang-orang yang menanti sepatah kata dariku. Selama perjalanan, aku hanya tidur. Menyiapkan energi untuk esok hari. Beruntung, sebab ada Pak Mamang yang bersedia menjadi sopir pribadiku. Setidaknya aku tidak kesusahan mencari sopir untuk mengatarkanku menghadiri undangan-undangan kepenulisan.
♥♥♥
KAMU SEDANG MEMBACA
Filosofi Penantian || TERBIT
Teen Fiction[AWAS!! CERITA INI MENGANDUNG KENYESEKAN, HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!] Apalah arti penantian, bila yang ditunggu tanpa kepastian? Apalah arti penantian, bila yang ditunggu tak jua datang? Namaku Kejora. Gadis yang bodoh, sebab menanti sosok yang ta...
