Aku menghirup udara pagi ini, merentangkan kedua tanganku dan merasakan udara yang masuk dalam tubuhku. Sungguh, udara yang sangat menyegarkan. Mendamaikan dalam diriku. Tak salah aku memilih desa ini. Di dalam sana kulihat mereka semua pada sibuk.
Perlahan aku menarik koperku, berjalan memasuki gerbang yang berdiri kokoh. Pagi ini, aku sudah memantapkan dalam hati untuk tinggal di sini sementara waktu. Berusaha untuk memperbaiki diri dalam menggapai cinta-Nya.
Perihal Musafir itu? Ah! Aku sudah mengikhlaskannya, barangkali penantianku selama ini menuntunku untuk dekat dengan-Nya bukan dirinya.
Terima kasih telah membuatku keras kepala dalam menantimu, meski kenyataannya kita benar-benar tak bersama.
♥♥♥
KAMU SEDANG MEMBACA
Filosofi Penantian || TERBIT
Ficção Adolescente[AWAS!! CERITA INI MENGANDUNG KENYESEKAN, HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!] Apalah arti penantian, bila yang ditunggu tanpa kepastian? Apalah arti penantian, bila yang ditunggu tak jua datang? Namaku Kejora. Gadis yang bodoh, sebab menanti sosok yang ta...
