Empat Belas

230 23 0
                                        

Aku membereskan tugas-tugas dari dosen, merapikan tiap lembaran berkas tersebut jangan sampai kehilangan barang selembar saja. Hari ini, dosen yang mengampu salah satu mata kuliah berhalangan masuk sebab masih berada di luar kota. Sebagai gantinya, beliau memberi kami tugas dan dikumpul di ruangan beliau hari ini juga.

Aku berjalan keluar ruangan yang sudah sepi beberapa menit yang lalu, sebagian besar teman seangkatanku sudah pulang begitu selesai mengumpulkannya padaku. Aku bukan ketua tingkat, namun khusus mata kuliah yang satu ini, dosen pengampunya mempercayakan padaku perihal kumpul-mengumpul tugas.

Usai meletakkan lembaran tugas di atas meja dosen yang bersangkutan, aku keluar dari ruangan. Berjalan menuju halte depan kampus menunggu angkutan umum. Aku menengadah, melihat langit di atas sana. Cerah. Syukurlah, semoga tetap seperti ini hingga sore nanti.

Beberapa saat, sebuah angkutan berhenti di depanku. Segera aku masuk dan menyebutkan tujuanku. Kali ini aku ingin ke perpustakaan kota sebelum ke taman, mengembalikan sebuah buku yang hampir sebulan aku pinjam. Ah! Lama sekali. Kemungkinan besar aku kena denda atas keterlambatan mengembalikan buku ini.

"Ra, Kejora!"

Langkahku terhenti mendegar namaku dipanggil seseorang, aku mencari-cari sumber suara itu ke segala arah. Anehnya, aku tak melihat sosok yang memanggil namaku.

"Ra!" Kali ini suara itu seakan semakin jelas kudengar.

"Kejora sekarang udah sombong ya?!" Seseorang menepuk bahuku. Aku terperanjat, refleks menoleh kebelakang.

Sosok wanita muda dengan rambut sebahu melukiskan senyum ke arahku.

"Udah lupa ya sama aku?" tanyanya menunjuk dirinya sendiri.

Aku mencoba mengingat-ingat sosok yang berdiri di depanku, terlihat tidak asing memang.

"Aku April."

"April?"

"Teman SMP kamu, Ra. Dulu kita sekelas, waktu kelas satu," jelasnya.

"Masyaallah, Apriliah? Kamu apa kabar?" tanyaku seakan tak percaya. Sekilas info, April ini teman sekelasku waktu kelas satu SMP. Lantas pisah kelas ketika naik kelas dua, dikarenakan aku masuk kelas unggulan. Aku cukup dekat dengannya, namun sejak naik kelas kami jarang bertemu. Mungkin karena sudah tak sekelas. Kabar terakhir yang aku dengar adalah dia menikah dengan seorang PNS setelah lulus SMA.

"Alhamdulillah, baik, Ra. Kamu sendiri?"

"Ya seperti yang kamu lihat sekarang."

"Kamu mau ke mana?"

"Mau ke taman kota rencananya, barusan habis ngembaliin buku di perpus."

"Ke taman? Ngapain, Ra? Hari ini tuh, akses daerah sana di tutup, ada kegiatan atau apalah itu." April memberi tahu.

"Ah! Masa sih?"

"Iya, suami aku ngasih tahu tadi."

"Oh. Makasih infonya, Pril. Kalau gitu, langsung ke rumah deh jadinya."

"Iya, sama-sama, Ra. Aku seneng ketemu sama kamu, kamu tambah cantik aja."

Aku tertawa pelan, "Kamu bisa aja, Pril. Kamu tuh yang cantik, anak kamu udah berapa?"

"Ra mah sukanya rendahin diri. Alhamdulillah, baru satu, Ra."

"Wah, aku turut bahagia dengarnya. Kayaknya aku harus balik deh, Pril. Takut kesorean."

"Iya, Ra. Sampai ketemu."

"Assalamualaikum."

"Waalaikumussalam."

Aku merogoh gawaiku di dalam tas, memberitahu Kak Hafiz perihal akses yang ditutup di sekitar taman kota barang kali ia belum tahu. Diluar dugaan, ternyata Kak Hafiz sudah tahu lebih dulu.

Kak Hafiz:

Assalamualaikum, Dik! Akses di sekitar taman ditutup, pertemuannya kita tunda saja. Kalau ada waktu, biar Kakak yang datang ke rumah Adik.

Wassalam.

Bahkan perihal tentang keadaan taman pun Kak Hafiz memberitahuku, apalagi perihal dunia dan akhirat. Sepertinya setiap hari, aku akan selalu dihujani dengan berbagai nasihat agar selalu mengingat Allah jika menikah kelak. Benar-benar calon suami idaman. Namun, entah kenapa aku masih ragu dengan Kak Hafiz. Mungkin, karena aku telah terpikat dengan sosok Musafir yang entah sampai mana pengembaraannya sekarang. Kuharap dia cepat mengakhiri itu dan memilih untuk berakhir di sini. Di depan rumahku.

Usai membaca pesan Kak Hafiz, aku mengirim pesan ke Bulan menyatakan bahwa rencana pertemuan aku dengan Kak Hafiz batal.

♥♥♥

Filosofi Penantian || TERBITCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang