Beberapa siswi asrama putri menjerit histeris saat satu tubuh manusia terlempar beberapa meter dan menghantam gerbang asrama putri. Mereka meringis ngeri saat melihat satu siswa yang sudah babak belur dan terbujur di ambang gerbang asrama putri. Menatap ngeri pada seorang gadis berperawakan pendek yang berjalan dengan sorot mata setajam singa.
"Sudah menyerah?" Tanya sosok pendek itu sambil menggerakan lehernya sejenak. Menatap jijik pada siswa yang meringis tak berdaya .
"Ampun... Aku... menyesal..." Suara si siswa mencicit kecil sekali. Menahan sakit di sekujur tubuhnya yang hampir tak berbentuk. Seluruh tulangnya serasa remuk. Dia tidak akan pernah meremehkan lagi gadis pendek yang berdiri di depannya dengan tatapan jijik.
Gadis berperawakan pendek itu mendesah kasar. Perlahan memijit keningnya putus asa. Sebelum akhirnya berbalik dan menatap satu siswi yang sudah gemetar ketakutan melihatnya. "Queenra, kau punya hutang setelah ini." Gadis pendek itu mendesis kejam. Menatap tajam siswi yang sudah pias tersebut.
Jam baru menunjukkan pukul sembilan malam. Seharusnya para siswi di asrama putri ini masih belajar dan memang belum tiba jam malam yang membuat mereka tidak boleh keluar kamar. Tapi hari ini situasinya berbeda sekali. Gara-gara seorang penyusup amatir yang tiba-tiba saja nekat masuk ke dalam asrama putri di jam belajar dan membuat heboh hampir seluruh penghuni asrama karena menyaksikan 'pembantaian' yang dilakukan Ketua Ketertiban Asrama pada si penyusup, malam itu -meski dengan perasaan takut- mereka menyaksikan aksi 'pembantaian' tak berperasaan si Ketua Ketertiban pada penyusup tersebut. Sayangnya yang kena getah karena kehadiran penyusup amatir itu bukan hanya si penyusup seorang, salah satu penghuni asrama putri juga kena getahnya. Tinggal menunggu waktu hingga anggota ketertiban lainnya melakukan 'eksekusi' pada si tersangka.
Pintu gerbang asrama terbuka. Tiga orang siswa berperawakan tinggi menjulang berdiri di sana. Menatap miris salah satu siswa asrama mereka yang terkapar tak berdaya dengan wajah penuh lebam dan babak belur. Dari asrama putri, tiga siswi ikut berlarian kearah gerbang setelah menyadari siapa 'tamu' tidak diundang yang baru saja tiba di gerbang asrama mereka.
Karang -nama gadis yang bertanggung jawab atas babak belurnya penyusup itu- mengerutkan kening saat mendapati Ketua Asrama Putri serta salah satu rekan bagian ketertiban menyusulnya ke depan gerbang. Gadis itu sama sekali tidak menyadari kehadiran tiga tamu tak diundang di wilayahnya. Bumi, salah satu rekan bagian ketertiban asrama putri memberi isyarat agar Karang berbalik dan meski dengan tatapan bingung, Karang berbalik. Mengerutkan kening saat mendapati dua sosok familiar yang berdiri dengan tenang di hadapan gerbang asramanya.
"Aku tidak peduli siapa kalian di asrama putra, anggap saja kecoa itu kuberi salam perkenalan karena berani menyusup ke wilayahku." Tanpa merasa perlu menunggu Putih -sang Ketua Asrama Putri- mengatakan sesuatu, gadis mungil itu berkata datar. Wajahnya menatap jijik pada siswa yang sudah dibantu berdiri oleh salah satu tamu tak diundangnya.
Putih mendesah pelan. Sebagai Ketua Asrama Putri, gadis itu tahu siapa yang sedang mereka hadapi. Ketua Asrama Putra serta Wakilnya dan seorang Ketua Ketertiban asrama putra. Gadis berkerudung biru itu berjalan mendekat dan berdiri di hadapan Karang.
"Kami minta maaf sedikit berlebihan, tapi kuharap hal ini tidak perlu terulang lagi." Suara tenang Putih mengalun merdu. Memecah diam yang sejak tadi menusuk. Sementara Bumi mencengkeram tangan Karang. Memaksa gadis itu diam dan membiarkan Ketua asrama mereka yang menyelesaikan sisa perkara.
"Apa aku perlu melakukan hal yang sama jika salah satu siswi menyelinap masuk ke asrama putra?" Suara dingin itu membalas ucapan tenang Putih.
"Put, maafkan dia. Dan maaf juga atas peristiwa malam ini. Kami usahakan hal ini tidak terulang lagi." Samudra bicara cepat. Suaranya mengalun menenangkan. Sama menenangkannya seperti wajah teduh sosok itu. Putih mengangguk sekilas. Dari ekor matanya, gadis itu menatap miris keadaan siswa yang babak belur dan berada di sandaran satu sosok lainnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Asmarandana
Fiksi Remaja---Seri Pupuh--- Dua remaja itu seperti gunung es abadi. Kokoh dan utuh seolah tidak membiarkan siapa pun buat menyentuh mereka. Mereka tahu itu. Tidak ada benci, karena mereka berdua sama-sama terlalu lelah bahkan buat membenci orang lain. Dan tan...
