Karang mendesah kasar. Di hadapannya Hujan tengah serius dengan novel di tangan. Sejak semalam memang tidak banyak yang berubah selain hampir semua pengurus asrama putri yang dengan kompak menegurnya. Semuanya. Tanpa terkecuali. Bahkan Bumi pun yang biasanya mengejek lebam di kulit Karang setelah Karang selesai latihan tidak mengucapkan sepatah kata ejekan pun padanya meski melihat dengan jelas bibir karang yang sobek. Bahkan sejak di sekolah pun Karang selalu menghindari Samudra dan Sangkala. Benar-benar mengurung diri di dalam kelas. Oh catat. Karang bahkan sengaja meminta Ketua kelasnya -siswa yang masih berani bertegur sapa dengan Karang- untuk mengunci pintu kelas saat istirahat tadi dan setidaknya ia berhasil karena baik Samudra maupun Sangkala tidak ada yang mendatangi kelasnya, atau... dua orang itu terlalu sibuk mengurusi asrama putra hingga tidak sempat istitahat? Entahlah. Karang tidak terlalu peduli meski banyak bisik-bisik yang ia dengar di kelas bahwa pengurus asrama putra baru saja mendapatkan 'tangkapan besar' dari senior kelas XII.
Omong-omong soal teman satu kelas, anak laki-laki yang semalam Karang tolong sepertinya tidak masuk hari ini. Oh tentu saja. Dia terluka parah. Kakinya juga sepertinya patah. Dan semoga setelah semua yang menimpanya si Ketua asrama masih mau berbaik hati buat tidak memberikan hukuman atas kepergiannya tanpa izin meninggalkan asrama. Meski Karang sudah jadi penjamin sih. Tapi tunggu dulu, Kenapa si Ketua Asrama Putra itu belum juga mendatanginya dan memberikan hukuman padanya sebagai ganti hukuman Ardhan? Oh. Karang sudah ingat nama si anak laki-laki yang ia tolong.
"Jan?"
"Hm?" Hujan menyahuti tanpa memalingkan matanya dari novel yang sedang ia baca dengan begitu serius. Sebuah novel dengan ketebalan yang luar biasa. Karang bahkan yakin jika novel yang sedang di baca Hujan kali ini tidak akan terlihat seperti novel jika di sejajarkan dengan kamus. Sama-sama tebal sekali.
"Ketua Asrama Putra," Karang mengembuskan napas pelan. Semalam dia tidak sempat bertanya kenapa Badai bisa datang dengan Hujan. "Bagaimana kamu memberitahunya?"
Hujan mendesah pelan. Sebelah tangannya menutup novel yang ia baca. Wajahnya terangkat. Kedua bola mata itu menatap wajah Karang dengan sudut bibir yang masih terluka. Ada rasa miris saat melihat wajah Karang terluka. Walau bagaimanapun, ini pertama kalinya ia dan semua pengurus asrama mendapati luka di wajah Karang, terlebih karena sebuah pukulan yang bisa diprediksi merupakan pukulan yang teramat kuat. Pantas saja sejak berangkat ke sekolah, Karang berjalan tergesa. Bahkan dia berangkat pagi-pagi sekali. Karang juga tidak mau Samudra sampai tahu luka di wajahnya.
"Ponsel." Hujan menghela napas pelan "Karya yang bilang kalau salah satu siswa asrama putra sedang dikeroyok." Jawab Hujan, jelas.
Karang mengangguk sekilas. "Oh." sahutnya datar dan sepertinya pembicaraan mereka berakhir sampai di sana. Hujan membuka novelnya. Kembali hanyut ke dalam bacaan yang tersuguhkan dalam novel tersebut. Karang menghela napas pelan, bangkit dari kursinya dan berjalan keluar. Ia belum melihat keadaan siswi yang semalam ia tolong. Semoga saja setelah kejadian semalam siswi itu tidak mendapatkan trauma berlebih terlebih karena melihat dengan jelas kekerasan yang dilakukan pada kakaknya.
.
.
.
Kantin yang terletak di antara dua asrama itu seperti biasa penuh saat sore hari. Tentu saja. Selain sekolah, kantin asrama merupakan salah satu titik temu para siswa siswi Swargaloka, karena bertemu di asrama merupakan sesuatu yang akan sangat merepotkan. Harus melalui izin wali asrama juga Ketua asrama. Dan bisa ditebak jika hanya masalah sepele mereka tidak akan diberikan izin buat berkunjung ke asrama lain. Karang mendesah pelan. Gadis remaja itu berjalan menuju lapangan basket. Tempat yang harus ia datangi buat menerima hukuman. Kejadian dua hari lalu nyatanya memang tidak sampai ke telinga Samudra dan Sangkala. Sepertinya Badai juga menyembunyikan informasi tersebut dari mereka berdua. Keputusan yang bijak, karena jika mereka berdua tahu, Karang yakin jika saat ini Samudra akan terus mengekorinya ke mana pun ia pergi. Menyebalkan. Badai berlari di tengah lapangan basket dengan bola di tangannya. Sesekali ia mendrible dan melempar bola ke dalam ring. Entahlah apa istilahnya dalam basket, Karang tidak peduli. Lagipula selain bela diri, Karang memang sangat payah dalam olahraga. Payah sekali, meski ayahnya seorang guru olahraga. Menyadari kehadiran Karang tak jauh dari lapangan basket, Badai menghentikan permainannya. Mengoperkan bola pada siswa lain yang ikut bermain dengannya, lalu pergi begitu saja hanya dengan melambaikan satu tangan sebagai isyarat berpamitan. Lagipula tidak ada yang memprotes Badai. Badai selalu pergi sesuka hati meski di tengah-tengah permainan sekali pun. Tapi siapa pun tahu. Setidaknya Badai akan bersikap biasa saja saat ia bermain basket. Remaja itu berjalan menuju arah Karang sebelum akhirnya mereka berjalan menuju tepi lapangan lain yang lebih sunyi. Ada yang harus mereka selesaikan.
"Jadi, apa hukumannya?" Tanya Karang tanpa basa-basi saat mereka berdua sudah berhenti.
Badai mengembuskan napas pelan. Matanya menatap Karang sekilas sebelum akhirnya melemparkan tatapan matanya pada langit sore. "Carikan aku informasi tentang Deri." Kata Badai tanpa menoleh.
Karang terdiam beberapa saat. Tanpa sadar, Karang ikut menatap langit sore. Entah bagaimana. Tapi dia juga harus menyelesaikan hutangnya sekarang juga. "Akan kulakukan." Sahutnya datar. Ia menghela napas pelan sebelum mengembuskannya dengan tenang lalu kembali membuka suara. "Aku ingin membayar utang." Katanya tenang.
Badai mengerutkan kening. Remaja laki-laki itu masih bergeming. Menatap langit sore. Sama sekali tidak berminat buat berbalik untuk melihat ekspresi sosok di sampingnya. Tak ada yang bicara. Keduanya seolah hanyut oleh pikiran mereka masing-masing, atau hanya Badai saja? Karena Karang sungguh sedang menunggu anak laki-laki itu menanggapi ucapannya beberapa menit lalu.
"Ketua," Ada sebuah nada peringatan pada suara Karang saat ia memanggil Badai. "Aku tidak tahu kalau telingamu bermasalah." Badai bergeming. Sama sekali tidak menanggapi sindiran yang baru saja diucapkan Karang. Meski jujur saja, gadis itu sangat berani mengatakan jika telinganya bermasalah.
"Kau berhutang padaku?" Badai balik bertanya, datar. Wajahnya bahkan sama sekali tidak menunjukkan sedikit pun ekspresi.
Karang mendesah kasar. "Kejadian di dekat gedung arsip sekolah." Suara Karang terdengar luar biasa sabar meski dia sedang menahan diri buat segera berbalik dan pergi ke asrama secepat mungkin.
"Oh." Hanya itu tanggapan yang diberikan Badai. Sungguh. Karang rasanya benar-benar ingin segera pergi ke asrama. Dia tidak mengira jika Badai akan semenyebalkan ini.
"Ketua," Panggilnya, penuh peringatan. "Aku tidak suka basa-basi."
Badai menoleh. Bergerak perlahan hingga mereka berdua saling berhadapan. Tidak ada ekspresi yang ditunjukkan Badai. Wajahnya datar. Tidak bisa diterka. "Bukan kau yang berhutang padaku." Tukasnya datar, namun entah bagaimana suara itu terdengar ganjil di telinga Karang. Ada sesuatu pada suara Badai. Seperti... sebuah ancaman?
Untuk sesaat Karang terdiam. Otaknya mulai mencerna ucapan Badai barusan. Lalu tanpa bisa ia kendalikan, tubuhnya membeku seketika. Matanya menatap Badai penuh pertimbangan. Ada yang ia lupakan... sesuatu yang... menyebalkan.
Sudut bibir Badai terangkat hingga menciptakan sebuah senyum miring. Dan entah bagaimana, Karang menyetujui jika senyum miring di wajah sosok itu bagaikan mimpi buruk yang siap mengintainya. Bahkan dalam sadarnya sekali pun. "Jadi," Karang tahu jika sekarang Badai sedang berkata tenang, tapi entah bagaimana tubuhnya seolah meneriakkan alarm tanda bahaya. Berdenging memperingatkan seluruh anggota tubuhnya, sayangnya dia tidak bisa kabur saat ini. Tidak juga mengelak. "Aku akan meminta bayarannya saat itu tiba." Putus Badai datar.
Karang masih membeku. Gadis remaja itu shock luar biasa. Sebelah tangannya mengepal kuat. Sialan! Dia ketahuan! Badai berbalik. Sebuah seringai menghiasi wajahnya sebelum ia melangkahkan kaki berbalik. Jelas. Itu sesuatu yang bukan main-main. Dan Karang hanya bisa bertaruh pada keberuntungannya kali ini. Dia tidak bisa kabur dari Ketua Asrama Putra itu.
"Omong-omong, Ardhan bilang kau menggendongnya sampai kami tiba," Ucap Badai tanpa berbalik. Berkata dengan memunggungi lawan bicaranya. Karang masih diam. Dia sama sekali tidak peduli pada ucapan yang dikatakan Badai detik itu. Otaknya masih berpikir keras. Menerka apa yang sudah ia lakukan hingga membuat kesalahan fatal. "Terima kasih." Sambungnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan Karang yang masih terpaku di tempatnya.
Telinga Karang berdenging keras saat sosok itu mengucapkan kata yang sama sekali tidak pernah ia perkirakan sebelumnya. Seorang Badai berterima kasih? Tapi gadis remaja itu segera menggelengkan kepala. Mengenyahkan apa pun yang ada di dalam otaknya saat ini. Ada yang lebih mendesak. Tangannya bergetar saat ia mengambil ponsel dari saku celana gunungnya.
'Aku ketahuan' Send.
Pesan terkirim. Dan tubuh Karang luruh seketika seolah ia kehilangan pijakannya. Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, seseorang mengetahui rahasaianya.
.
.
.
Repost Juni, 12, 2020
16 Feb 2018
KAMU SEDANG MEMBACA
Asmarandana
Novela Juvenil---Seri Pupuh--- Dua remaja itu seperti gunung es abadi. Kokoh dan utuh seolah tidak membiarkan siapa pun buat menyentuh mereka. Mereka tahu itu. Tidak ada benci, karena mereka berdua sama-sama terlalu lelah bahkan buat membenci orang lain. Dan tan...
