11. Tragedi

103 9 4
                                        

Biasanya meski ada Ketua asrama di asrama putra, siswa penghuni asrama putra tetap bebas berbuat onar. Tapi berbanding tiga ratus enam puluh derajat saat justru orang paling ditakuti di seluruh Swargaloka yang menjabat menjadi Ketua asrama. Mereka sudah ngeri sebelum berhadapan dengan Badai. Bahkan senior sekalipun. Maka dari itu, tidak heran jika setelah Badai menjadi seorang Ketua Asrama Putra, jumlah siswa pelanggar peraturan asrama menurun drastis meski masih menyisakan beberapa. Anggaraka masih diam di samping Badai. Menunggu instruksi yang akan Badai berikan padanya.

Malam ini giliran mereka berdua yang berjaga. Mengamati keadaan asrama. Dan di sanalah mereka berdua. Berdiri di balik dinding pagar belakang asrama putra bagai dua predator yang sedang mengamati mangsanya. Tiga siswa asrama putra mengendap keluar kamar tengah malam setelah tahu mengenai kabar yang menyebutkan bahwa tidak akan ada pemeriksaan rutin yang dilakukan pengurus asrama -padahal itu perangkap- mereka keluar setelah malam semakin larut dan suasana hening luar biasa. Berjongkok di halaman belakang asrama beralaskan tikar yang entah bagaimana sudah ada di sana, ketiga siswa itu sama sekali tidak menyadari jika mereka sudah menjadi mangsa. Mangsa dari Badai dan Anggaraka. Badai menganggukkan kepala sekilas. Memberi tanda pada Anggaraka agar melakukan tugasnya. Anggaraka mengangguk kecil. Segera berjalan tanpa menimbulkan suara. Mendekati ketiga siswa asrama tersebut. Tidak ada yang menyadari keberadaan Anggaraka. Bahkan Anggaraka duduk sangat dekat dengan mereka bertiga. Hawa keberadaannya sama sekali tidak terasa. Badai menunggu dengan tak sabar. Menunggu kode yang harusnya segera diberikan Anggaraka padanya. Tak beberapa lama setelahnya, sebelah tangan Anggaraka terangkat sedikit, tapi hal itu lebih dari cukup buat Badai mulai bergerak. Berjalan tenang bagai seorang predator yang siap memangsa buruannya. Suara langkah kaki Badai terdengar konstan. Badai sengaja membuat suara saat kakinya melangkah. Ketiga sosok itu bahkan sudah merasakan hawa mencekam sebelum mereka menyerah dan berbalik.

Mimpi buruk! Mereka menelan ludah susah payah. Menatap ngeri pada sosok yang sedang berjalan tak ubahnya seekor predator yang siap memangsa mereka. Tangan-tangan gemetar saat menggapai majalah yang mereka bawa. Badai semakin dekat. Sebuah seringai menghiasi wajah tampannya. Dia benar-benar seperti jelmaan iblis yang siap menelan mereka bulat-bulat. Mereka bertiga semakin gemetar saat menyadari majalah yang mereka bawa lenyap begitu saja. Entah ke mana dan siapa yang mengambilnya. Dan sialnya Badai sudah berada di hadapan mereka. Memasang wajah dingin yang mencekam tak lupa seringai iblis yang menghiasi wajah Entah sejak kapan Anggaraka sudah berada di samping Badai. Menyerahkan beberapa majalah dewasa yang baru ia sita.

Badai mendengkus kasar saat menerima majalah tersebut dari tangan Anggaraka. Matanya berpendar tajam menatap wajah ketiga siswa yang sudah gemetar ketakutan di hadapannya. Pasrah. Tanpa siapa pun kira, Badai bersiul saat membuka halaman majalah dewasa tersebut. Wajahnya masih sama. Beku. Mengirimkan udara dingin yang membuat mereka merinding ngeri.

"Tidak kusangka selera seniorku adalah jalang." Celanya datar sambil menyobek salah majalah ditangannya. Tidak ada yang berani bersuara. Semuanya bungkam. Bisu. Ludah mereka mengering. Lidah mereka seperti tidak bisa di gerakkan buat sekedar mengucapkan sepatah kata pun.

"Senior," Panggil Badai dengan suara nyaris tanpa emosi. "Aku malas berurusan dengan Pak Erlangga hanya karena majalah sialan ini," Badai menjeda ucapannya. Tatapan matanya menyorot pada tiga senior di hadapannya. Dia sama sekali tidak takut sedang berhadapan dengan siapa. Sungguh. Sepertinya tidak satu pun siswa yang berani mencari masalah dengannya. Oh tentu saja. Bara pengecualiannya.

"Jadi, daripada berurusan dengan Pak Erlangga, kenapa kita tidak bekerja sama saja, Senior?" Tawarnya, datar. "Memberi tahu kami bagaimana majalah sialan itu bisa sampai ke tangan kalian, mungkin? Atau... memberitahu dalang dari kebocoran soal ujian harian kalian?"

.

.

.

Karang mendesah kasar. Angin malam menerpa wajahnya dengan keras. Menyengatkan rasa dingin yang bahkan terasa menembus hingga tulang belulangnya meski ia sudah mengenakan jaket yang membungkus tubuhnya. Motor milik asrama itu masih melaju tenang dengan Karya yang mengendarainya, sementara Karang duduk di belakang. Mereka berdua terpaksa pergi tengah malam begini buat mencari salah satu siswi asrama putri yang belum juga sampai di asrama. Siswi kelas X yang izin ke luar asrama untuk membeli obat yang tidak ada di klinik asrama. Sebenarnya Karang akan mencarinya seorang diri jika Karya tidak tiba-tiba saja membawa kunci motor asrama dan menariknya tanpa ampun. Karang tidak bisa mengendarai motor dan Karya juga semua pengurus asrama putri tentu saja tidak akan pernah membiarkan Karang mencari siswi asrama tengah malam dengan berjalan kaki karena Karang tidak bisa mengendarai motor maupun sepeda.

AsmarandanaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang