Badai terpaku. Tanpa sadar degup jantungnya bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya. Napas menyesak. Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa nyeri. Mata ia kerjapkan. Dengan sengaja menggigit kuat bagian dalam bibir agar kesadaran masih dapat ia gapai. Tidak. Tidak boleh terjadi sekarang. Kedua tangan yang memegang ponsel itu mendadak mengalami tremor. Berkeras hati, si remaja menggenggam erat ponsel hingga nyaris hancur. Kepalanya serasa ditusuk ribuan jarum, dan sebelum Badai mulai kehilangan kendali.
'Kenapa memanggilku?' Sebuah suara bernada hangat terdengar dalam kepalanya.
Badai bergeming. Berusaha keras mengusir suara menyenangkan itu dari dalam kepalanya.
'Dai, kau kelelahan. Bukankah sudah saatnya beristirahat?' Suara itu kembali terdengar. Bagai bisikan pengantar tidur. Menenangkan dan begitu membuai. 'Kenapa, Dai? Apa akhirnya kau sudah sadar bagian apa yang kau lupakan?"
Mata terpejam erat. Badai mengembuskan napas yang terasa memburu. Kenapa... justru disaat seperti ini suara itu muncul? Kenapa justru disaat seperti ini ingatan sialan itu kembali menghantuinya?!
'Dai, menyerahlah. Lepaskan semuanya... ingat apa yang beliau katakan saat itu? Semuanya bukan salahmu. Kau tidak bersalah.'
Menggeram tertahan. Amarah mengoyak diri. Kesedihan yang sudah ia kubur paksa seolah kembali mencuat ke permukaan. Sial. Kenapa disaat seperti ini semuanya terulang?
“Diam dan enyahkan semua ingatan sialan itu dari kepalaku.”
Suara dalam kepalanya menghela napas berat. 'Dai, apa seumur hidup kau berniat melarikan diri? Bukankah baru saja kau melihat anak perempuan itu? Bagaimana dia tersiksa karena beban masa lalu. Kau ingin seperti itu?'
“Diam Biru! Cepat lakukan seperti biasanya.”
'Kali ini aku menolaknya. Setelah melihat anak perempuan itu aku menyadari satu hal. Dibandingkan dia, luka yang kau punya tidak ada apa-apanya. Dai, bahkan dia tidak bisa mengontrol dirinya seperti kau mengontrol dirimu. Kau lihat sosok yang dia ciptakan? Licik. Dan bisa kupastikan dia tidak akan mudah pergi. Berbeda denganku. Kau menciptakanku hanya dalam kepalamu saja. Sedangkan anak perempuan itu tidak sadar jika dia menciptakan tameng yang bisa membuatnya lenyap.'
“Biru, hentikan sekarang juga. Aku. Tidak. Mau. Membahas. Bocah. Itu.” Hela napas terdengar. Badai memejamkan mata. Membiarkan sebelah punggung tangannya menutupi kedua bola mata. Ingatannya berkelana jauh. Jauh sekali hingga rasanya cukup buat mencabut paksa sembilu yang sudah lama tertancap dalam dirinya. Badai diam. Tetap bergeming. Ponsel ditangan sudah terlepas. Jatuh membentur lantai. Dia tidak peduli. Tak apa. Setidaknya dia bisa membuat seseorang itu sedikit berguna.
.
.
.
Bara mengerutkan kening tatkala mendapati sebuah pesan singkat dari nomor yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan menghubunginya saat berada di sekolah. Hujan. Entah untuk alasan apa gadis itu menghubunginya dan memintanya datang. Segera. Bara memejamkan mata sebelum akhirnya membuang napas pelan. Dia tahu satu hal. Hujan tidak akan memintanya bertemu jika bukan karena alasan yang mendesak atau sesuatu yang justru.... tidak mau Bara bayangkan sama sekali. Berjalan tergesa. Bara melangkahkan kaki menuju perpustakaan. Tempat yang bisa dipastikan hanya diisi oleh segelintir siswa saja karena nyaris semua siswa sudah kembali ke asrama masing-masing. Hanya beberapa saja yang memilih bertahan di sekolah. Hujan duduk tenang di ujung perpustakaan. Meja paling ujung dan kebetulan tertutupi rak buku yang tinggi. Bara kembali melangkah. Dapat dilihatnya raut wajah Hujan yang datar sambil sesekali gadis itu membuka lembar buku yang tengah dibacanya. Tanpa sadar Bara terkekeh dibuatnya. Ah, Hujan tetap saja sama. Tidak akan terusik saat fokusnya sudah milik buku. Katakan saja gadis itu suka menganalisa keadaan, teliti sekali, tapi bukan hal itu yang membuat Bara betah bertahan lama berteman dengan Hujan. Bisa dikatakan jika Hujan satu-satunya anak perempuan yang pernah ia kenal yang sama sekali tidak pernah bisa ia tipu. Bahkan Hujan tidak pernah bisa ia provokasi. Gadis itu terus berdiri kukuh tanpa terusik bahkan saat Bara bisa dengan mudah memanipulasi seseorang. Sama seperti Badai, tapi mereka jelas punya 'rasa' yang berbeda. Anak perempuan bahkan tak jarang perempuan yang lebih tua darinya tidak akan pernah bisa membedakan mana Bara yang sedang mengatakan omong kosong atau berkata kebenaran, tapi berbeda dengan Hujan. Hujan sama sekali tidak pernah salah menebaknya. Dia... tidak pernah bisa Bara pengaruhi. Tidak mempan dengan 'wajah malaikat tanpa dosa' yang sering kali Bara tunjukkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Asmarandana
Teen Fiction---Seri Pupuh--- Dua remaja itu seperti gunung es abadi. Kokoh dan utuh seolah tidak membiarkan siapa pun buat menyentuh mereka. Mereka tahu itu. Tidak ada benci, karena mereka berdua sama-sama terlalu lelah bahkan buat membenci orang lain. Dan tan...
