16. Samudra, Karang Dan Sagara

111 11 5
                                        

Hujan jatuh membasahi bumi. Tanpa ampun mengguyur apa pun yang di lewatinya. Tidak ada yang terlewati. Semua yang ia lewati basah seketika. Angin berembus pelan membuat hujan yang berjatuhan tertiup embusan angin. Ini masih pagi, tapi hujan sudah mengguyur tanpa ampun. Membuat siapa pun malas buat beranjak dari tempat tidur. Memilih buat kembali bergelung pada dekapan hangat selimut yang membungkus tubuh. Karang mendesah kasar. Seharusnya hari ini dia bisa pergi jika saja hujan tidak terus turun tanpa henti bahkan selepas subuh hujan masih terus mengguyur kota. Seperti tidak mau sekali meninggalkan bumi tanpa membuatnya basah kuyup. Dia masih berdiri di hadapan jendela kamar asramanya. Menatap lurus pada rintik-rintik hujan yang terus berjatuhan tiada henti. Matanya menerawang jauh. Sangat jauh sekali. Beruntung hari ini akhir pekan dan jumlah siswi yang bertahan di asrama hanya beberapa saja. Sisanya sudah pergi sejak tadi diantarkan bus sekolah.

Ah tiba-tiba saja tubuh Karang membeku kala matanya kembali melihat kejadian itu. Kejadian yang selalu menghantui hidupnya. Tangannya mengalami tremor luar biasa tatkala kilasan kejadian itu kembali mencuat dari dalam kepalanya. Berputar seperti film yang ditayangkan ulang di hadapannya. Karang dapat merasakan lututnya lemas seketika kala kilas balik itu terpampang jelas dalam kepalanya. Sepeda, mobil, juga... jeritan yang seolah membuat jantungnya berhenti.

"Jangan mulai!" Seru sebuah suara di dalam kepalanya. Karang menelan ludah susah payah. Kali ini dia menggunakan tangan buat menompang berat tubuhnya pada tembok di depannya. Berusaha keras mempertahankan diri. napasnya memburu. Menyesakkan. Membuatnya kian tersiksa. Suara-suara itu berdengung berisik di telinganya. Kepalanya pening luar biasa. Karang menyerah. Dia nyaris menyerah sebelum suara yang lebih seperti sebuah hardikan di kepalanya melengking keras.


"Hentikan bodoh! Kau kira di mana sekarang?! Kau mau memperlihatkan kegilaanmu ?!" Diam. Karang tidak bisa menjawab. Suara di kepalanya benar. Tapi... kenapa napasnya terasa begitu sakit? Seperti dia bisa saja kehilangan semuanya... mimpi yang menghantui nyaris seumur hidup...

.

.

.

Dua bersaudara itu duduk berjongkok di hadapan satu batu nisan. Tanah masih basah sisa-sisa hujan yang tidak berhenti sampai siang tadi. Tapi dua remaja itu tetap datang. Mengabaikan sepatu mereka yang dikotori tanah basah sisa hujan tadi. Hujan sudah berhenti sejak beberapa jam lalu, tapi daun daun pohon masih basah. Beberapa tetes embun sisa hujan masih silih bergantungan pada dedaunan sebelum akhirnya jatuh dibawa gravitasi. Tidak ada yang bersuara. Dua remaja itu tetap diam menatap nisan di hadapan mereka. Satu tangan terus mengusap lembut nisan di hadapannya. Seolah dia tengah mengusap kepala milik sosok yang terkubur di dalam sana. Tidak ada yang bersuara. Mereka hanya menikmati sepi yang menggantung di udara. Tidak ada juga yang berniat mengakhiri keheningan itu. Setelah sebelumnya mereka mengaji dan memanjatkan doa buat si pemilik nisan, dua remaja itu tak ada yang membuka suara. Terlalu larut oleh pikiran mereka masing-masing, atau... mereka terlalu kalut buat sekedar mengucapkan sepatah kata saja?

"Ra, kita pulang?" Untuk pertama kalinya Samudra membuka suara. Memecah keheningan yang sudah berlangsung nyaris setengah jam sejak mereka selesai mengaji dan berdoa.

Karang menghela napas panjang. Dia memejamkan mata perlahan sebelum akhirnya membalas ucapan sang kakak. "Hm. Ayo pulang." Katanya nyaris seperti sebuah bisikan.

Samudra bangkit pertama kali. Diulurkannya sebelah tangan saat Karang hendak bangkit. Karang dengan pelan meraih uluran tangannya. Ikut bangkit dan berdiri. Bola mata hitam itu kembali menoleh menatap nisan di hadapannya sebelum akhirnya mengikuti langkah kaki Samudra yang membawanya pergi.

AsmarandanaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang