#22

2.2K 247 13
                                        

Lagi-lagi Seokmin terbangun lebih dahulu. Ia melihat ke seklilingnya yang sudah gelap. Sepertinya tadi habis hujan sehingga tidak ada cahaya bulan sekarang. Dan juga lilin di dekat mejanya belum dinyalakan.

Ia kemudian sadar kalau ia sedang di peluk dari dua sisi setelah ada pergerakan di bagian pinggangnya. Ia kemudian menepuk pipi mereka berdua agar terbangun.

Untuk kali ini Jihoon langsung terbangun dan merenggangkan otot kakunya sebelum kemudian menguap lebar. Ia menatap kakaknya yang masih sibuk menggoyangkan Bahu Mingyu agar terbangun. Namun bukannya terbangun, Mingyu malah semakin menyamankan kepalanya di perut Seokmin. Lama kelamaan Jihoon kesal sendiri melihatnya. Hanya dirinya yang boleh bermanja-manja sama hyungnya ini.

"Hyung, biar aku saja yang membangunkannya." Setelah mengucapkan itu, Jihoon duduk didekat kepalanya Mingyu, sebelum kemudian menarik rambut Mingyu dengan keras.

"Argh!" Mingyu terbangun dan terduduk. Ia kemudian berteriak lagi karena perut bekas tusukannya tiba-tiba saja sakit. Mungkin karena ia tiba-tiba terduduk. Seokmin yang melihat Mingyu memegang perutnya langsung khawatir dan kembali menyandarkan badan Mingyu ke tempat tidur. Ia melihat ada sebercak darah yang merembes di perban yang sedang mmebalut perut Mingyu.

Mingyu yang berhasil menahan sakit di perutnya, kemudian menoleh ke arah seseorang yang menjambaknya tadi. Dengan jelas ia tahu kalau yang menjambaknya tadi bukan Seokmin. Karena Seokmin membangunkannya dengan lembut dan ia menikmatinya sebelum kemudian ada suara yang lain yang akhirnya menarik rambutnya.

"Jihoon..." Jihoon yang kaget dengan apa yang terjadi, menatap Mingyu dengan takut. Ia padahal bermaksud untuk membangunkannya bukan malah berakhir membuat luka Tusuk Mingyu terbuka lagi. Ia melihat kakaknya segera turun dari tempat tidur dan menyalakan lilin agar bisa menerangi ruangan ini.

"Hy-hyung, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu." Ucap Jihoon perlahan. Ia ingin sekali memeluk hyungnya itu sekarang sebelum kemudian cahaya lilin menerangi wajah Mingyu. Mingyu sedang menatapnya dengan tajam dan dingin. Ia pun mengurungkan niatnya.

Jihoon memeluk lengan Seokmin dan bersembunyi di balik punggung kakaknya itu. Ia tahu bahwa Mingyu benar-benar marah sekarang dan ini pertama kalinya ia melihatnya.

Seokmin yang sedang membuka perban di perut Mingyu pun merasa sedikit terganggu karena Jihoon memeluk lengannya dengan erat. Ia menoleh kearah adiknya yang bersembunyi dibalik punggungnya, lalu melihat Mingyu yang sedang menatap Jihoon dengan tajam. Seokmin tahu bahwa adiknya takut sekarang, jujur saja dirinya juga takut karena mata Mingyu kembali menjadi gelap dan dingin, seperti Wonwoo.

"Jihoon-ah,  bisakah kau keluar sebentar? Aku ingin mengganti perban Mingyu sekarang. Dan aku takut kau akan berteriak ngeri ketika melihat lukanya." Ucap Seokmin dengan lembut. Setidaknya ia membebaskan adiknya dari tatapan intimidasi dari Mingyu. Jihoon hanya mengangguk kaku sebelum kemudian berlari kecil untuk keluar kamar.

Tidak ada yang berbicara di antara mereka. Terakhir kali ada yang membuka suara ketika Seokmin meminta Mingyu untuk terduduk agar ia bisa melingkarkan perban baru disekeliling perut Mingyu. Tangannya kini masih sibuk melingkarkan perban baru yang sudah disiapkan oleh tabib dan Seokmin sudah melihat bagaimana cara memakaikan perban itu tadi.

Setelah mengikat ujung perban itu, tangan Seokmin kembali di pegang oleh Mingyu. Ia berpikir jika Mingyu ingin berbicara sesuatu melalui pikirannya, tapi tidak ada. Mingyu hanya menatap Seokmin dengan datar. Sepertinya ia masih kesal karena tadi.

"Dia hanya membantuku membangunkanmu,Mingyu." Ucap Seokmin yang akhirnya membuka percakapan. Ia tidak ingin ada terjadi perselisihan antara Mingyu dengan Jihoon nantinya.

"Tapi tidak harus dengan menjambakku juga. Begini-begini aku lebih tua darinya." Jawab Minggu lagi,  sekarang ia memajukan bibirnya sedikit. Seokmin melihatnya hanya terkekeh kecil.

"Kalau tidak dengan begitu, kamu tidak akan bangun. Padahal aku sudah berusaha membangunkanmu tadi, tapi kamu juga masih tidak bangun. Aku sebenarnya juga berencana ingin menjambakmu, tapi sudah didahului oleh Jihoon." Balas Seokmin yang ikut tertawa pelan setelah melihat Mingyu melebarkan matanya.

"Aku tahu kamu tidak mungkin melakukan itu,sayang." Ucap Mingyu yang membuat Seokmin terdiam karena panggilan baru dari Mingyu.

"Ja-jadi aku harus membangunkanmu dengan cara apa, huh? Lalu, jangan memanggilku dengan panggilan itu. Aku tidak terbiasa tahu." Ucap Seokmin dengan terbata-bata. Ia menundukan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.

Mingyu hanya terkekeh pelan sebelum kemudian memegang dagu Seokmin sehingga mata mereka bertemu.

"Mulai sekarang aku akan memanggilmu sayang agar kamu terbiasa mendengarnya. Dan mulai sekarang kalau ingin membangunkanku, pakai cara ini." Mingyu langsung menarik Seokmin dan menempelkan bibirnya. Meski ini kesekian kalinya mereka berciuman, tetap saja Seokmin kaget karena perlakuan tiba-tiba oleh Mingyu.

Mereka masih mempautkan bibirnya sampai suara nyaring yang berasal dari salah satu perut mereka menghentikan aktivitas mereka. Seokmin tahu kalau itu berasal dari perutnya. Sekarang ia malu setengah mati.

"A-aku akan pergi makan dulu. Kamu istirahat saja dulu, aku akan membawakanmu makanan." Ucap Seokmin yang bangkit berdiri dan mendorong bahu Mingyu perlahan agar kembali tertidur. Namun Mingyu menahan tangannya.

"Aku ingin makan bersamamu." Ucap Mingyu.

"Tapi kamu masih belum boleh banyak bergerak, Mingyu. Lukamu belum sepenuhnya sembuh. Dan kamu tahu sendiri bahwa jarak ruang makan dengan kamar ini cukup jauh." Balas Seokmin lagi. Namun di tangannya masih tidak dilepaskan oleh Mingyu.

"Tidak, aku tetap ingin makan bersamamu. Lukaku akan semakin sakit jika kamu menjauh dariku." Ucap Mingyu yang sekarang memasang ekspresi takut sambil menggelengkan kepalanya dengan kuat.

Baiklah, kali ini Seokmin sedikit jengkel dengan tingkah kekanakan Mingyu. Meski raut wajah Mingyu sangat imut sekarang, perut laparnya seakan membuatnya menjadi menjengkelkan. Benar kata orang, rasa lapar dapat membuat orang menjadi pemarah.

"Cukup Kim Mingyu, beritahu aku satu alasan kenapa kamu bersikap seperti padahal aku hanya ingin makan sebentar." Ucap Seokmin dengan dingin. Mingyu menatap Seokmin tanpa mengatakan apapun. Dan itu semakin membuat Seokmin kesal.

Seokmin langsung menghempaskan tangan yang dipegang Mingyu dengan kasar. Namun Mingyu malah mencengkram selimutnya sambil menatap Seokmin. Seokmin kaget karena melihat setetes air mata yang keluar dari mata Mingyu. Ini pertama kalinya ia melihat Mingyu menangis.

"Ka-karena aku tahu... Aku tahu kalau kamu akan meninggalkanku nanti."
.
.
.
Bosen gak guys 3 chapther berturut-turut romantis terus? Btw kok aku rada kecewa ya dengan 3 chapther yang kubuat ini 😂

Untouchable (Seokgyu/gyuseok) CompletedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang