18 (2)

3.4K 162 0
                                        

Setelah kepulangan Hadi Husna lebih memilih berdiam diri di kamar sambil menunggu waktu isya tiba.
Dia benar-benar butuh waktu untuk menenangkan dirinya, sungguh dia tak ingin menyakiti hati siapapun, termasuk Hadi. Tapi apa boleh buat dia tidak mungkin memaksakan cintanya, jika itu dia lakukan, dia akan semakin di hantui rasa bersalah karena harus berpura-pura mencintai Hadi, dan dia juga tak ingin menjadikan Hadi sebagi pelariannya dari Satrio. Hadi adalah orang yang baik, dia juga Soleh, gelar yang dia miliki juga sangat bagus untuk menunjang masa depan, istilahnya dia terlalu tampan untuk di jadikan pelarian.

Semakin lama tubuh Husna semakin bergetar, isaknya semakin menjadi. Dia tidak bisa lagi meredam suara isakannya, kini dia tidak peduli jika Arkan mendengarnya.

Dan memang, Arkan mendengar itu semua. Bukan hanya mendengar, tapi dia juga melihat bagaimana rapuhnya Husna saat ini.

"Maafkan aku, sungguh aku tak bermaksud menyakitimu, tapi tidak mungkin jika aku masuk dalam lingkup keluargamu, sebab aku, aku mencintai Satrio." Ucap Husna di sela Isak tangisnya.

Arkan yang mendengar perkataan itu langsung berjalan menghampiri Husna, di peluknya Husna dengan erat. Dia tak menyangka jika selama ini adiknya menyukai Satrio, seseorang yang mencintai sahabatnya sendiri. Arkan bisa merasakan betapa sakitnya hati Husna selama ini, setiap kali dia menyaksikan orang yang dia cintai tengah bergandengan tangan, bercanda bahkan merangkul sahabatnya sendiri di depan matanya, dan terkadang Husna pula yang harus menengahi ketika Satrio dan sahabatnya tengah bertengkar. Sungguh itu hal yang sangat menyakitkan bagi Arkan. Tapi kenapa, kenapa Husna melakukan itu semua? Dan kenapa Husna tidak menerima lamaran Hadi? Bukankah dengan menikah Husna bisa melupakan Satrio? Kini berpuluh-puluh pertanyaan muncul di benak Arkan.

"Menangis lah sesukamu, Abang ada disini bersamamu" bisik Arkan di telinga Husna.

Husna yang mendengar suara Arkan begitu lembut menyentuh gendang telinganya membuatnya merasa semakin bersalah, pasalnya Arkan juga berharap bahwa dia dan Hadi akan bersatu, tapi apa dia malah menolak Hadi di depan mata Arkan, Husna tahu bahwa saat ini Arkan kecewa kepadanya, tapi kenapa Arkan masih saja memberikan kekuatan untuk dirinya, kenapa?

"Maafkan Husna" hanya kata itu yang dapat Husna katakan kepada Arkan. Kini tangisnya semakin pecah dalam pelukan Arkan, udara dingin tak lagi terasa, sebab pelukan hangat Arkan menyelimuti tubuhnya.

"Ssttt tak ada yang salah, mungkin ini jalan yang terbaik untuk kamu" jawab Arkan seraya membelai lembut kepala Husna.

"Tapi adek udah ngecewain Abang" ucap Husna di tengah tangisnya.

"Tak ada yang merasa kecewa dan mengecewakan" jelas Arkan lembut.

Kecewaku tak sebanding dengan sakitmu dek.batin Arkan.


Maaf ya part-nya kepanjangan wkwkwk😁
Maklum udah lama gak update.
Dan semoga kalian suka😄

Aku Bukan PilihanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang