Daniel dan Mama Jeje akhirnya tiba di rumah dengan selamat. Dilihat dari ekspresi Mama Jeje, terlihat moodnya sedang sangat baik.
“Mama lapar. Si Puti masak kan?” tanya Mama Jeje kepada Daniel.
“tadi Daniel udah suruh Puti buat masak sih ma.” balas Daniel.
Mama Jeje dan Daniel melangkahkan kakinya menuju dalam rumah. Dan ruangan yang Mama Jeje datangi pertama kali adalah ruang makan. Sayangnya, tidak ada satu pun makanan yang tersedia di atas meja. Bukannya tadi Daniel bilang kalau dia udah suruh Puti buat masak kan?
“mana? Katanya kamu udah nyuruh Puti buat masak?” tanya Mama Jeje.
“Puti males kali ma! Biar Daniel kasih pelajaran buat dia!” ucap Daniel lalu pergi menuju kamar Puti.
Brak !
Daniel membuka pintu kamar Puti dengan cukup keras. Sayangnya, ia tidak melihat Puti di dalam kamarnya. Maka dari itu, ia menghampiri kamar mandi dan menggedor-gedornya dengan sangat keras.
“PUTI!”
Hening. Tak ada respon sama sekali.
“PUTI KELUAR LO!”
Lagi-lagi tidak ada respon yang diberikan untuk Daniel. Akhirnya, Daniel mau tidak mau membuka pintu kamar mandinya. Toh yang ada dipikiran Daniel, ia sudah pernah melihat seluruh tubuh Puti. Bahkan lebih dari itu.
Ceklek..
“PUTI?!”
Betapa terkejutnya Daniel mendapati Puti tengah tidak sadarkan diri di dalam bathub. Ingin sekali Daniel menggendong dan mengeringkan tubuh Puti. Hanya saja, ia takut khilaf tuk kedua kalinya. Akhirnya, ia meminta bantuan kepada mamanya.
“MAMA!! PUTI PINGSAN MA!!”
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Puti perlahan membuka kedua matanya. Pusing, haus, lapar, dan mata yang sakit dapat Puti rasakan sekarang. Tapi, rasanya ada yang aneh bagi Puti. Seingatnya, ia sedang di kamar mandi kan? Kenapa sekarang ia ada di atas kasurnya? Bahkan, ia sudah mengenakan pakaian.
“ini mimpi atau gimana sih?” ucap Puti sambil berusaha untuk merubah posisinya menjadi duduk.
Ceklek..
Daniel masuk ke dalam kamar Puti sambil membawakan bubur untuk Puti. Wajahnya datar dan tak ada senyum sedikit pun. Puti takut bertemu dengan Daniel lagi. Maka dari itu, ia kembali pada posisi tidur dan menutup seluruh badan dan kepalanya dengan selimut. Daniel hanya terkekeh melihat tingkah laku adik tirinya tersebut. Jujur, Puti sedikit menggemaskan di mata Daniel.
“lo takut ngeliat gue? Ck alay!” ucap Daniel.
“buruan lo makan! Gue udah capek-capek buatin bubur dan lo gak mau makan? Mati aja lo!”
Kenapa Daniel tidak bisa bersikap baik kepada Puti? Kenapa ia begitu benci pada Puti? Dan kenapa ia tega juga melakukan semua itu pada Puti? Itulah yang ada di benak Puti saat ini. Sedih, marah, kecewa campur menjadi satu. Namun, diantara ketiga rasa tersebut, ada satu rasa yang menyakitkan bagi Puti. Rasa dimana ia sangat mencintai Daniel, kakak tirinya. Rasa yang seharusnya tidak tumbuh diantara adik dan kakak tiri tersebut.
“Lo mau makan gak?!” tanya Daniel sekali lagi.
Akhirnya, Puti pun membuka seluruh selimut yang menutupi badannya. Ia pun menatap Daniel dengan sangat tajam. Walaupun sejujurnya Puti sangat lemah untuk menatap kedua mata Daniel.
“gak! Biarin aja aku mati kelaparan! Toh itu kan yang kakak mau?!”
“oke kalau itu yang lo mau!”
“Tapi jangan menyesal kalau janin yang ada di rahim lo itu kenapa-napa!”
HAH?!!!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Terima kasih kepada tim kreatif saiamir yang telah menyumbangkan ide buat saya hahaha.
Jadi tim kreatif itu sahabat-sahabat saya di sekolah hehehe :3 #yahcurhat