23. Mendekat dan Menjauh

59.2K 2.9K 323
                                        

Daniel menatap stir mobilnya dengan tatapan kosong. Apa dengan menangis, Puti akan kembali masuk ke dalam mobilnya? Apa dengan menangis, Puti akan memaafkannya? Tidak. Semua itu tidak akan terjadi jika Daniel tidak pergi mengejarnya dan meminta maaf langsung kepada Puti. Semua itu butuh perjuangan. Yang modal diam dan berdoa saja ya tidak akan bisa terjadi.

“apa gue harus kejar Puti?”

“apa gue harus minta maaf juga?”

“sadar Daniel! Dia bukan siapa-siapa! Kenapa gue harus merasa bersalah gini?!”

Daniel mengacak rambutnya frustasi. Masih besar sekali rasa egonya dari pada perasaan hatinya. Memang cukup susah untuk menghilangkan rasa ego. Tapi, kalau sudah ada keinginan dari diri sendiri, kenapa tidak bisa?

“astaga Tuhan...”

“...Gue sayang sama Puti?!”

Ya. Daniel jatuh cinta pada adik tirinya sendiri. Daniel jatuh cinta kepada orang yang seharusnya ia benci. Daniel mulai jatuh cinta karena kejadian waktu itu. Kejadian dimana ia sudah mengambil kehormatan  adik tirinya sendiri. Ini namanya, jatuh cinta karena insiden satu malam.

Awalnya, Daniel berpikir bahwa ia hanya menyukai tubuh Puti saja. Nyatanya, ia malah menyukai seluruh apa yang dimiliki Puti, terutama hatinya yang kuat. Sudah berapa kali Daniel menyakiti hati kecilnya, namun Puti masih tetap saja menyukai dirinya. Puti masih tetap saja berharap kepadanya. Bukankah, itu salah satu wanita yang tangguh? Sudah tau tidak pasti mendapatkannya, tapi tetap saja berjuang untuk mendapatkannya? Inilah sosok wanita yang Daniel suka dari dulu.

Tapi, gadis yang ia cintai sudah mulai muak dengannya. Sudah mulai marah dengannya. Sudah mulai menjauhi dirinya. Mungkin kah ini yang disebut karma? Argh... Bodoh sekali Daniel! Kenapa tidak dari dulu saja ia meyakinkan perasaannya? Kenapa baru sekarang sadarnya?

Sudah tidak ada waktu lagi untuk Daniel. Dari pada ia hanya diam dan menyalahkan dirinya sendiri, lebih baik ia mengejar Puti dan segera meminta maaf kepadanya sebelum terlambat. Ia harus menunjukka jati diri seorang laki-laki yang sesungguhnya. Toh memang dia laki-laki tulen kan? Percuma bahu besar kalau nyali minta maafnya ciut seperti buah busuk.

Itulah laki-laki sejati. Bertindak dan bukan hanya banyak berbicara saja. Apa dengan banyak berbicara, kita akan kenyang dengan hasilnya? Tidak. Makan tuh omongan semata.

Daniel menyalakan mesin mobilnya dan mulai mencari Puti dengan melihat di sekelilingnya. Ia yakin, bahwa Puti masih belum jauh dari sekitar sini. Puti kan hanya berjalan kaki, mana mungkin ia sudah jauh dari sekitar sini. Kecuali, ia sudah pergi dengan ojek. Itu sih, lain lagi ceritanya.

“Put... Lo dimana sih?!”

Puti berteduh di bawah pohon agar hujan tidak terlalu membasahi dirinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Puti berteduh di bawah pohon agar hujan tidak terlalu membasahi dirinya. Tiba-tiba sekali hujan turun dengan begitu derasnya. Mau tidak mau Puti harus berteduh terlebih dahulu sebelum ia melanjutkan perjalanan pulangnya.

“hujan! jangan teduh di bawah pohon!”

Tiba-tiba seseorang memayungi dirinya dari belakang. Puti membalikkan badannya untuk melihat seseorang yang baik hati telah memayungi dirinya. Nampaknya, ia harus banyak berterima kasih dengan orang itu karena sudah memayungi dirinya dari hujan. Kalau tidak, lambat laun dirinya juga akan basah sepenuhnya karena air hujan. Toh dibawah pohon ia juga masih terkena air hujan.

“w-woojin?”

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“w-woojin?”

“gue tau gue ganteng. Gausah kaget gitu napa?”

Yaudahlah ya, orang ganteng mah bebas. Yang terpenting adalah, kenapa ia bisa ada disini?

“kok lo ada disini Jin?”

“habis belanja bulanan. Harusnya, gue yang nanya, kenapa lo bisa ada disini? Mana si cowok brengsek itu? Bukannya tadi dia sama lo ya? Gila, anak cewek belum dipulangi jam segini! Mana ditinggal sendirian pula! Biar gue hajar tu cowok kalau gue ketemu lagi!”

“oh. Yaudah lo pulang sana. Lo hati-hati dijalan. Btw, lo naik apa?” Puti mengalihkan pembicaraan.

“naik mobil dong. Hujan-hujan masa naik motor. Ntar ketampanan gue luntur gimana? Oh iya, Lo mau bareng gue gak?” tawar Woojin.

Puti diam. Apa sebaiknya memang ia ikut saja dengan Woojin? Toh, ini rejeki. Tidak baik jika di tolak.

“boleh. Tapi jangan anterin gue pulang kerumah. Gue ikut kerumah lo aja gimana?”

Woojin terkejut. Itu tandanya, ia sedang berusaha kabur dari rumah kan?

“lo mau kabur ceritanya?”

“bukan kabur, cuma ngungsi sementara aja. Boleh gak?”

Demi kebaikan Puti, ya Woojin mau-mau saja. Toh ia juga selalu kesepian dirumah. Orang tuanya selalu sibuk bekerja hingga pulang larut pagi.

“ya kali gak boleh. Yaudah buruan masuk mobil!”

Mungkin sudah waktunya sekarang untuk Puti melupakan Daniel. Memang selama ini Daniel tidak akan pernah mengerti perasaannya kan?

“selamat tinggal Kak Daniel.”

”

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
StepBrother [√]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang