Puti ingin sekali berteriak “akhirnyaaa...” di depan wajah Daniel. Dari sekian lamanya, akhirnya jam menunjukkan pukul 17.00 WITA. Itu tandanya, Daniel akan segera menutup kantornya dan akan segera pulang kerumah.
Setelah Daniel bersiap-siap, Puti dan Daniel akhirnya menuju parkiran untuk mengambil mobil Daniel. Dan, disaat udah tiba di parkiran, ada saja hantu datang tanpa diundang.
“Pak Daniel?”
Andai saja negara ini tidak memiliki undang-undang, tidak memiliki penjara, polisi, dan berbagai macamnya, Puti mungkin sudah menonjok wajah sok polos si Mina Mina itu. Berhubung Puti taat dengan aturan yang ada, ya Puti tidak bisa menonjok wajah si Mina itu.
“iya Mina? Ada apa?”
“ah, tidak ada apa-apa pak. Saya cuma mau mengatakan hati-hati di jalan pak.” ucap Mina malu-malu.
“oh begitu. Iya terima kasih Mina.”
Bete bete bete! Kenapa sih Daniel selalu bersikap baik pada si Mina Mina itu? Sikapnya selalu saja berbanding terbalik kalau dengannya. Apa gara-gara dia adalah pegawainya? Apa perlu Puti menjadi bagian dari pegawainya Daniel agar diperlakukan baik juga? Tidak adil ini namanya.
“kalau begitu, saya permisi ya pak.” ucap Mina hendak meninggalkan Daniel. Dan sialnya, dia berpura-pura keseleo pada kakinya.
“Mina? Kamu gak kenapa-napa?” tanya Daniel panik.
“enggak kenapa-napa kok pak. Aduh saya jadi malu.”
Prett.. Pemandangan apa ini yang Puti lihat? Ah, panas sekali dadanya melihat ini semua. Matanya yang suci menjadi tidak suci lagi.
“saya antarkan kamu pulang ya? Kasihan kamu pulang sendirian dengan kaki yang sakit seperti ini.”
Hah?!! Mengantarkan Mina pulang?! Ayolah.. Puti dari tadi sudah menunggu berjam-jam agar segera pulang kerumah. Dan sekarang, apa lagi ini? Puti harus ikut dengan Daniel agar mengantarkan si Mina Mina itu pulang kerumahnya?
Antarkan saja dia kerumah Tuhan sekarang! Kesal banget Puti rasanya.
Walaupun Puti kesal dengan Daniel yang lebih peduli pada Mina ketimbang dirinya, ya Puti hanya bisa memendam rasa amarahnya dalam hati. Toh percuma kalau dia marah-marah, Daniel juga tidak akan pernah peduli padanya. Huh.. Kenapa mata Puti rasanya panas ya? Jangan katakan kalau Puti ingin menangis hanya gara-gara hal seperti ini? Idih. Norak.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Pak Daniel, terima kasih banyak ya. Maaf kalau ngerepotin.”
“memang ngerepotin keles!” batin Puti.
“sama-sama Mina. Saya permisi.”
Gara-gara ada si Mina tadi, Puti jadinya duduk di belakang memandangi keasikan mereka berdua tadi. Puti tidak bisa menutup wajahnya lagi. Wajahnya benar-benar terlihat cemberut layaknya anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh orang tuanya.
“duduk lo di depan! Emang gue supir lo apa?!” pinta Daniel.
Puti hanya diam memandangi ke arah luar jendela. Tak ada respon yang Puti berikan sama sekali, bahkan sampai gelengan atau anggukkan kepala pun tidak ada.
“Woy Put!”
Lagi, Puti tidak memberikan respon apapun. Daniel menghela napasnya dengan kasar.
“TULI YA LO?!” teriak Daniel.
“gak.” balas Puti.
Daniel tidak bisa menahan rasa emosinya lagi. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba saja Puti mencuekin dirinya seperti ini. Siapa sih yang tidak kesal kalau dicuekin tanpa sebab?
Bukan Daniel namanya kalau tidak pakai emosi menghadapi adik tirinya tersebut. Toh, memang yang Daniel harapkan adalah membuat adiknya tidak betah tinggal bersamanya lagi kan?
“dasar jalang ga tau diri! Turun lo dari mobil gue! Sana pulang jalan kaki! Kalau perlu, gausah pulang lagi kerumah!”
Hatinya seperti ditusuk-tusuk dengan puluhan pisau. Sakit sekali mendendengar ucapan Daniel. Entah Puti yang bodoh atau Daniel yang suka PHP, yang jelas Puti serasa seperti perempuan bodoh yang mengharapkan sesuatu yang tidak pasti. Tetapi perlu diingat, wanita tidak akan berharap kalau tidak ada yang memberi kesempatan.
Jadi, salah siapa?
“Memang!! Memang aku wanita jalang!! Terus kenapa kakak gak jual aja aku ke om om buntel? Toh kakak pengen dapat uang yang banyak kan?! Mama sama kakak emang cuma ngincer harta papa aja kan?! Terus kenapa kakak gak sekalian jadi gigolo?!”
Daniel menatap Puti dengan sangat tajam. Berani sekali Puti berkata seperti itu kepadanya. Siapa yang mengajarinya untuk berkata kasar seperti itu? Laknat sekali ucapannya.
“JAGA OMONGAN LO!”
“KENAPA?! GAK SUKA?! MEMANG DASAR KAKAK MANUSIA PEDO---”
PLAK 💢
Daniel memberikan tamparan yang keras pada pipi kiri Puti. Walaupun harus memutar badannya kebelakang, Daniel tetap menampar pipi adiknya karena sudah dianggap melebihi batas kesopanan.
“GUE UDAH BILANG, JAGA OMONGAN LO! TAU SOPAN SANTUN GAK?!”
“sopan santun ya? Heh.. Lalu bagaimana dengan kakak yang sudah mengambil kehormatanku?! Apa itu namanya sopan santun?! Dasar laki-laki kerdus tidak tau malu! Potong aja adiknya kakak!” ucap Puti lalu meninggalkan mobil Daniel.
Sudah cukup sakit hati Puti dengan ucapan Daniel. Apa yang Daniel lakukan padanya benar-benar sudah kelewat batas. Lebih baik, Puti pergi selamanya dari pada harus bertemu dengan kakak tirinya yang laknat itu.
Sementara Daniel mengacak rambutnya dengan frustasi. Jujur, ia benar-benar kesal dengan ucapan Puti. Namun di lain sisi, entah mengapa ia juga merasa bersalah kepada Puti karena sudah menampar, menghina, bahkan sudah merebut kehormatannya. Hatinya sakit sekali ketika Puti memarahinya seperti itu.
“Put.. Maaf..” gumam Daniel dengan tanpa sadar meneteskan air mata.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.