CHAPTER V

124 15 0
                                    

"Seperti matahari, sinarnya menghangatkan alam ini. Mendamaikan cinta ini. Dan menyinari hati ini. Mungkin, aku terperangkap, terbelenggu dalam sinarnya"

From : Umin Kang Bedah
Gue lapeerr!!!
Tulis Umin dalam pesannya pada Kivano yang sedang bertugas siang itu. Kivano sedang mengunjungi satu persatu pasien-pasien yang sedang berada dalam pengawasan dan perawatannya. Kivano begitu detail dalam pekerjaan istimewa ini. Kivano tidak ingin posisinya sebagai dokter anak disalah artikan oleh semua orang terlebih orang-orang yang mungkin akan menganggap dirinya sebagai anak dari direktur rumah sakit dan bekerja atas posisi itu. Kivano ingin menunjukkan bahwa dirinya bukan bekerja atas posisi sebagai seorang anak direktur rumah sakit, tapi dia ingin dan akan bekerja sebagai dokter yang ahli dibidangnya dan sebagai dokter yang memiliki jiwa dokter yang sejati. Sampai saat ini Kivano telah menunjukkan pada semua orang akan hal itu. Suatu hal yang sangat membanggakan.

Kivano mendengar getaran ponsel dari dalam saku celananya. Dia menslide keatas screen layar ponsel, ternyata seseorang baru saja mengirimnya sebuah pesan. Salah satu laki-laki yang dijulukinya sebagai, "Tukang Bedah" yang sangat dia kenal dirumah sakit baru saja mengatakan keluhan terbesarnya akan hidup ini. Kivano tahu betul bagaimana sosok yang sangat dia kenal ini. Begitu Umin dilanda kelaparan, dapat dipastikan dia akan memberikan notifikasi pada Kivano. Terkadang Umin terlihat lebih manja di usia sepertinya. Kivano pernah kesal tapi dia menyukai itu.

To : Umin Kang Bedah
Lo kayak bocah. Makan sana!
Balas Kivano pada Umin yang sedang beristirahat setelah melangsungkan tugasnya sebagai dokter bedah. Sebelumnya, Umin bersama asisten barunya Kyonara baru saja keluar dari ruang operasi. Jalannya operasi yang cukup lama, hampir empat jam membuat keduanya sedikit kelelahan namun itu adalah hal yang sangat mereka cintai. Umin dan Kyonara terlihat mengunjungi Dokyung yang sedang duduk diruangan menghadap komputer. Dokyung sedang menganalisa mengenai penyakit dari seseorang pasien.Umin bersama Kyonara berjalan lebih dekat kearah Dokyung yang terlihat sangat serius.

"sedang apa?" tanya Kyonara sambil merenggangkan tubuhnya dan duduk pada sofa yang berada disudut kanan ruangan. Letaknya tidak terlalu jauh dari tempat duduk Dokyung.
"nonton" katanya singkat. Kyonara mengerutkan dahinya dan menatap Umin yang secara bersamaan juga menatap Kyonara. Umin memilih duduk tepat disebelah Dokyung.
"sebuah benjolan. Apakah itu sangat istimewa sampai kamu mengabaikan senior tampan disampingmu ini?" tanya Umin menatapa Dokyung. Dokyung menarik nafasnya pelan dan beralih menatap Umin.
"Dokter adalah dokter favorit ku jadi bagaimana mungkin akan mengabaikan orang hebat sepertimu" balas Dokyung sambil bergaya imut seperti anak perempuan. Sayangnya kepala plontos itu tidak terlihat menarik dimata Umin. Rasanya Umin ingin sekali mendekap kepala plontos itu dan merasakan sensasinya.
"Hernia" sambung Kyonara yang sudah berada diantara Dokyung dan Umin.
"menurutku juga begitu. Ini bisa terjadi pada bayi dan orang dewasa. Pada orang dewasa bisa disebabkan karena mereka terlalu sering mengangkat barang yang sangat berat" balas Dokyung kembali menatap layar monitor komputer didepannya.
"benar sekali. Ini pasienmu? Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Umin mulai serius.
"aku akan mengoperasinya dua hari lagi" kata Dokyung penuh percaya dari.
"apakah aku bisa jadi asistenmu" tanya Umin lagi. Sontak hal itu membuat Dokyung dengan hitungan detik langsung menatap Umin. Dokyung begitu senang mendengar Umin akan menjadi bagian dari operasi yang akan dilakukannya dua hari lagi. Ini bukan mimpi. Selama ini Dokyung sangat menginginkan berada dalam ruang operasi yang sama dengan Umin sebagai dokter yang sangat pintar juga hebat. Umin menjadi panutan Dokyung selama masa studinya sebagai Dokter Bedah.
"apakah aku bermimpi?" tanya Dokyung pada Kyonara yang melipatkan kedua tangannya didadanya. Kyonara tersenyum dan mengangkat kedua alis matanya. "cubit aku" lanjut Dokyung pada Kyonara.
Alih-alih mencubit, Kyonara malah memberikan tamparan keras pada pundak Dokyung. "awwww.. Sakittt oyyy.. Gue minta dicubit. Saraf lo mulai rusak ya, oh telinga lo budek?" omel Dokyung pada Kyonara. Umin tertawa mendengar ocehan dari juniornya itu.
"gak makasih ish" kata Kyonara sok kesal.
"mau gak nih" tanya Umin pada Dokyung lagi.
"DENGAN SENANG HATI" balas Dokyung sambil menyodorkan tangannya pada Umin. Mereka nampak bersalaman, tanda kerja sama segera dimulai. Umin sangat senang bisa menjadi penyemangat untuk juniornya yang dia ketahui bahwa Dokyung akan menjadi dokter bedah yang hebat juga. Umin akan mendukung semua keputusan juniornya, terkadang dia juga akan memberikan masukan dan membenarkan hal-hal yang dianggapnya kurang tepat sebagai seorang dokter bedah. Umin dokter yang bijaksana.

The First SnowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang