CHAPTER I

834 21 0
                                    

"Kau boleh pergi dan berganti tapi kenangan ini tidak akan pegi dan berganti. Kau boleh menjadi sesuatu yang baru tapi aku, perasaanku saat ini semuanya sama"

Dia terus melangkahkan kakinya bergerak cepat menembus jalanan yang nampak mulai ramai. Waktu baru saja menunjukkan pukul 6.45 pagi namun Kyonara tidak ingin terlambat diminggu akhirnya sebagai mahasiswa kedokteran di salah satu universitas ternama di negeri gingseng itu.
Kyonara berjalan menuju halte bus yang berada tidak terlalu jauh dari rumah Kyonara. Pakaian berwarna pastel menjadi ciri khas perempuan dengan rambut yang memiliki panjang sebahu dan berwarna dark brown. Rambut asli Kyonara sejak lahir. Sangat cantik. Kulitnya yang putih dan bola matanya yang coklat membuatnya semakin menawan, tidak aneh jika banyak laki-laki yang berada satu kampus bahkan satu kelas dengannya sering kali mendekatinya. Sayang, Kyonara tidak begitu tertarik. Ah Kyonara sebenarnya kamu kenapa?.

Dilihatnya dari kejauhan sepertinya bus panjang warna biru belum juga menampakkan diri. Kyonara mulai gelisah, 'jangan sampai aku telat' dalam hatinya demikian. Ini janji terakhirnya untuk menemui seorang dosen perempuan yang telah membantunya dalam banyak hal, terutama pendidikanya selama ini. Kyonara melirik arlojinya, sudah sepuluh menit dia duduk disana dan bus belum juga datang. Tidak sebentar pun Kyonara melepaskan arah pandangannya dari tempat bus akan datang.

Drrrrtttt...
Ponsel Kyonara berdering dari dalam tas yang dia bawa. Kyonara menyadari itu, segera dia mengambil ponsel dan melihat panggilan masuk yang tertera dilayar ponsel. Sehun batinnya. Kyonara menggeser touch hijau kearah kanan dan mulai menyuarakan suara lembutnya dari balik telepon.

"kenapa?" tanya Kyonara langsung pada Sehun, adik laki-laki paling kecil dikeluarga mereka.
"Kak, lupa bawa payung lagi?" tanya Sehun, laki-laki yang masih duduk dibangku SMA tingkat akhir. Dia begitu perhatian pada kakak perempuan satu-satunya yang dia miliki.
"ah, aku lupa" sesal Kyonara lalu menepuk dahinya pelan.
"ini semua faktor usia ckck" ungkap Sehun menggelengkan kepalanya. "gak punya pacar sih ya makanya gak ada yang ingetin kecuali aku hmm" lanjutnya lagi membuat Kyonara menggurutu dari seberang telepon.
"nanti kalo aku punya pacar kamu aku ajak makan ditempat paling mahal" ungkap Kyonara kesal.
"hahaha. Sekolah sih kelamaan kak" balas Sehun semakin ingin membuat Kyonara memakinya.
"sekolah sana, anak kecil perbanyak belajar. Orang dewasa perbanyak cari uang" balas Kyonara cetus. Sehun tertawa lebar dari balik telepon.

Tuuutt--- sambungan telepon putus, begitu Kyonara mendengar tawa renyah Sehun. Dia memasukkan kembali ponsel kedalam tas dan melirik arlojinya, sekarang sudah pukul 7 tepat dan Kyonara hampir putus asa menunggu bus yang tak kunjung datang. Dia mencoba merubah posisinya menjadi berdiri dan sedikit medekati tepi jalanan, hatinya sungguh tidak sabar lagi. 'ah lama sekali' gerutu Kyonara pelan. Kyonara terus memandang jalanan yang sudah cukup ramai ditambah orang-orang yang semakin banyak memenuhi halte bus yang sama dengan Kyonara. Saat dia melihat situasi didekatnya Kyonara mendapati bus panjang berwarna biru yang sedang melaju kearah halte tempatnya berdiri saat itu. Kyonara tidak menunggu lama lagi, dia langsung mempersiapkan dirinya untuk menaiki bus dan memilih tempat duduk. Kyonara tidak ingin berdiri di dalam bus hari ini, heels yang dipakai hari ini mungkin akan memakan telapak kakinya jika dirinya berdiri selama 15 menit.

Pintu bus terbuka, satu persatu dari mereka menaiki bus itu dengan teratur. Kyonara kesulitan melihat tempat duduk yang masih kosong. Orang-orang yang berada didepannya menutupi pandangan Kyonara untuk mencari tempat duduk disana. Akhirnya Kyonara terpaksa berdiri setelah dirinya tahu bahwa sudah tidak ada lagi tempat duduk yang masih kosong didalam bus. Sekali lagi, Kyonara menggurutu kesal. Harusnya tadi dia lebih baik memesan taksi dan mungkin itu adalah cara paling cepat menuju kampusnya. Kyonara berdiri bersama beberapa orang yang juga berdiri karena kehabisan tempat duduk. Limabelas menit bukanlah waktu yang lama, Kyonara masih bisa menahan selama itu yang terpenting adalah Kyonara sampai dengan selamat dan tepat waktu. Sungguh, dirinya tidak ingin membuat dosen perempuan itu menunggu lebih lama. Itu akan membuat Kyonara merasa tidak enak hati.

The First SnowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang