"Aku takut tergelincir diatas lapisan es yang tipis. Aku takut terluka dan melukai. Aku takut untuk menjadi jahat. Terkadang itu bisa terjadi. Orang akan memandang dari sisi yang berbeda. Aku yang salah dan orang yang benar. Selalu akan begitu"
Suho bersama kedua adiknya si kembar Chan dan Chen baru saja memasuki Universe Coffee and Bakery tepat pukul 9 pagi. Kafe yang akan buka tiga puluh menit lagi itu sedang mempersiapkan segala sesuatunya. Seperti beberapa pekerjanya sedang merapikan meja dan kursi. Membersihkan kaca juga lantai dan merapikan beberapa dekorasi dan tata letak menu mereka. Disana masih terlihat sangat sepi. Pengunjung pun belum nampak riuh berdatangan kesm Universe. Tapi berbeda dengan sepeda motor yang baru saja memasuki pelataran parkir Universe. Perempuan itu baru saja melepaskan helmnya dan meletakkan disalah satu kaca spion motor. Bonara dengan style casual yang jadi andalannya turun dari motor dan berjalan masuk dengan santai kedalam kafe. Tulisan 'CLOSE' tampak jelas tergantung didepan pintu namun Bonara tetap keras kepala ingin masuk dan menunggu didalam kafe sampai mereka mengatakan bahwa kafe sudah 'OPEN'.
"maaf mbak, kafe nya baru akan bukan tigapuluh menit lagi" kata seorang pekerja perempuan yang menghampiri Bonara setelah Bonara melewati pintu masuk.
"gue tahu, tapi gue mau tunggu didalam. Diluar dingin" jawab Bonara masih santai.
"maaf mbak tapi gak bisa, kita masih membersihkan kafenya mbak. Kalau mbak menunggu didalam kami takut akan membuat mbak merasa tidak nyaman" jelas pekerja perempuan itu lagi.
"lo siapa sih ngatur-ngatur gue. Gue yang mau nunggu didalam dan kalo gue yang ngerasa gak nyaman ya itu urusan gue. Jangan peduliin gue lah" balas Bonara yang hari itu mood nya benar-benar sedang tidak baik. Kejadian semalam membuatnya malas untuk merasakan kenikmatan musim dingin hari itu. Bonara benar-benar ingin meminum minuman yang manis dan juga hangat, Bonara juga ingin memakan makanan yang manis yang bisa membuat mood nya kembali baik. Tapi bukan coklat batang yang bisa Bonara jumpai dan beli di toko atau supermarket.
"maaf mbak, bukan begitu maksud saya" kata pekerja itu menundukkan pandangannya dari Bonara.
"ada apa?" tanya Suho yang berjalan mendekati Bonara dan juga pekerjanya.
"dia nyuruh gue untuk nunggu diluar. Diluar dingin ya gue gak mau lah" kata Bonara langsung pada Suho.
"lalu kenapa kamu harus datang lebih awal disaat kami belum buka" balas Suho santai.
"bukankah setiap tempat makan atau apapun itu akan senang jika melihat salah satu pelanggannya datang lebih awal" jawab Bonara tidak mau kalah.
"itu jika mereka sudah siap dengan tokonya. Semua toko yang belum siap untuk buka, pasti akan meminta pelanggannya menunggu diluar dan lebih sabar. Mereka harus taat akan aturan yg telah dibuat. Itu sudah menjadi hukum bagi mereka yang memiliki toko. Aku rasa pelanggan harusnya mengerti itu" kata Suho lebih tidak mau kalah dari Bonara. "dan, pekerja kami tidak salah. Dia hanya melakukan apa yang seharusnya dia lakukan" lanjut Suho membuat Bonara bergeming sejenak.
"aku tetap akan menunggu didalam" kata Bonara lalu berjalan dengan pasti menuju meja yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri sebelumnya. Suho terlihat kesal, namun dia harus lebih sabar menghadapi satu pelanggannya ini. Mood nya benar-benar sedang diuji pagi itu. Sementara itu, Chan dan Chen sedang mengurus bagian dalam kafe bersama semua pekerja mereka. Mempersipakan semua menu minuman dan makanan untuk disiapkan bagi pelanggan mereka.
Suho berjalan mengikuti langkah Bonara setelah sebelumnya Suho meminta pekerja nya untuk kembali melakukan tugas yang lainnya. Suho yang akan mengurus Bonara yang terlihat kekanakan. Suho terus mengikuti Bonara sampai dia harus duduk berhadapan dengan Bonara. Tiba-tiba mata Suho membulat besar dan sangat terkejut saat melihat kalung yang dikenakan Bonara. Kalung dengan gambar bulan sabit berwarna silver. Kalung yang melekat dileher Bonara. Sangat cantik.
"kamu adiknya Dokter Umin kan? Kita pernah bertemu di Sunset" kata Suho. Bonara terlihar seperti sedang memutar ingatannya tentang hari dimana mereka bertemu tanpa berkenalan. "jangan pura-pura lupa" lanjut Suho.
"gue cuma lagi coba buat mengingat bukan lupa" cetus Bonara pada Suho.
"Sabit : berbentuk seperti lingkaran besar yang dikosongkan dengan lingkaran kecil dan hanya berporos disatu sisi saja" oceh Suho sambil menatap kalung dikenakan Bonara. Bonara terlihat bingung sekaligus terkejut sama seperti Suho yang saat itu juga sangat terkejut.
"Sabit : sama seperti kita. Kita seperti lingkaran yang penuh tapi bisa berubah karena lingkaran kecil yang menutupinya. Salah satu dari kita akan hidup hanya disatu sisi" oceh Bonara melanjutkan perkataan Suho sebelumnya. Suho semakin dikejutkan setelah mendengar ungkapan Bonara yang sama persis seperti perkataannya sepuluh tahun lalu pada seseorang yang sangat disayangnya. Oh tidak, mungkin dicintainya.
"Kamu? Bonara.." kata Suho terbata-bata.
"jangan bilang kalau kamu si maniak coklat hangat" kata Bonara matanya berbinar-binar.
"astagaaa, aku gak nyangka kita ketemu disini" kata Suho dengan perasaan yang cukup senang.
"kamu.. Aku rindu" ucap Bonara lemah. "waktu kita ketemu di Sunset, aku gak sadar kalau kamu sudah kembali. Aku bahkan gak bisa lihat wajah kamu karena badan Bang Umin yang gede banget" lanjut Bonara sambil tertawa kecil. Suho pun ikut tertawa.
"aku senang kamu bisa sebahagia ini" balas Suho pada Bonara dengan raut wajah yang tidak enak menatap Bonara.
"kenapa kamu kembali gak bilang sama aku" tanya Bonara mulai meneteskan airmata ya perlahan-lahan.
"aku terlalu takut untuk bilang apalagi bertemu kamu. Aku merasa bodoh dan sangat menyesal dan bersalah saat itu" kata Suho lemah dan menyesali semua kejadian pada sepuluh tahun silam.
KAMU SEDANG MEMBACA
The First Snow
FanfictionBersama Suho, Baeky, Umin, Chan, Chen, Kai, Sehun, Lay dan Dokyung musim gugur segera berakhir, artinya dia juga harus mengakhiri segala nya untuk melanjutkan musim selanjutnya. Mungkin akan terasa sangat sulit tapi dia begitu antusias menantikannya...
