CHAPTER X

146 17 73
                                    

"Kita mungkin dijalan yang berbeda. Mungkin ini tidak sama seperti yang diharapkan. Aku tidak akan memaksa kemana kamu ingin berjalan. Aku akan senang jika kamu memilih jalan yang membuat kamu bahagia sekalipun itu bukan jalan menuju ke istana kita"

Malam itu Kivano bersama Kyonara berjalan ditengah salju yang terus turun. Mereka baru saja keluar dari Universe Coffee and Bakery setelah sebelumnya Kivano dan Kyonara menikmati coklat panas yang menghangatkan badan. Kivano berjalan bersama Kyonara menyusuri taman kota yang terlihat sangat cantik dimalam hari. Ditengah salju yang turun, masih ada orang yang keluar dan menikmati malam bersama. Beberapa orang bahkan mengajak pasangan mereka untuk sekedar duduk dan membicarakan beberapa hal ditaman itu. Begitu juga dengan Kivano dan Kyonara. Mereka duduk diayunan yang tersedia disana. Kyonara mengayun ayunanan dan Kivano juga. Mereka menikmati malam yang dingin bersama.

"kamu tahu kenapa aku bawa kamu keluar malam ini disaat salju lagi turun dan udara dingin banget gini?" tanya Kivano menatap Kyonara disampingnya.
"mungkin kamu mau kita mati beku bersama. Jadi ceritanya kita hidup bersama dan mati bersama. Kayak cerita fairytale gitu" jawab Kyonara mengada-ngada. Kivano tertawa geli mendengar jawaban dari Kyonara.
"kamu harusnya jadi guru TK pinter banget ngarang cerita" jawab Kivano membuat Kyonara tertawa membayangkan bagaimana dirinya menjadi seorang guru TK.
"jadi kenapa?" tanya Kyonara akhirnya setelah dia selesai tertawa.
"kamu tahu gimana semua orang bertahan ditengah-tengah musim dingin. Kalo kamu salah pakai baju kamu akan mati kedinginan. Musim dingin memang indah sekaligus berat. Aku bawa hubungan kita kemusim dingin supaya kita tahu bagaimana rasanya bertahan ditengah-tengah kesulitan. Supaya kita gak cuma tahu caranya untuk tertawa dimusim semi. Tapi kita juga tahu caranya tertawa dimusim dingin" jawab Kivano serius.
"aku gak tahu kalau kamu sampai memikirkan hal itu" balas Kyonara lalu tersenyum. "pertama kali aku memikirkan kita bersama itu adalah hal yang menakutkan. Aku khawatir ini akan terasa sulit. Belum banyak hal yang kita tahu tentang diri kita dan kita sudah berani untuk bersama. Ditengah-tengah kita bersama kita masih harus belajar banyak hal dari diri kita masing-masing dan itu memerlukan waktu untuk penyesuaian yang lebih baik. Memikirkannya aja aku takut. Apalagi waktu menjalaninya. Tapi saat aku bersama kamu aku gak takut. Aku gak takut kita berada dijalan yang berbeda. Walaupun suatu saat nanti kita mungkin dijalan yang berbeda dan mungkin ini tidak sama seperti yang diharapkan. Aku tidak akan memaksa kemana kamu ingin berjalan. Aku akan senang jika kamu memilih jalan yang membuat kamu bahagia sekalipun itu bukan jalan menuju ke istana kita" kata Kyonara. "mungkin akan terasa menyedihkan buat aku. Tapi aku gak apa. Kamu tahu setiap kita bersama seperti sekarang bukan cuma bahagia yang aku bayangkan tapi satu detik kemudian mungkin aku bisa menangis atau kita bisa bersedih. Tapi aku gak apa, karena aku bersama kamu. Nanti waktu kita lagi bisa bersama seperti sekarang, aku pikir aku akan takut dan akan menangis. Aku gak seberani kayak diruang operasi. Hehe" tawa kecil Kyonara membuat Kivano tersenyum. Kivano berdiri dan berjalan mendekati Kyonara yang sedang duduk diayunannya. Kivano duduk tepat didepan Kyonara. Menatap Kyonara lebih dekat.
"aku harus bilang apa sekarang. Sampai detik ini aku masih mencintaimu kamu dan aku takut kalau aku semakin mencintai kamu maka aku akan semakin banyak menanam benih kesedihan untuk kamu. Aku gak mau itu terjadi. Aku akan mencintai kamu sesuai kadarnya. Saat kamu menangis nantinya aku gak tahu apakah aku berhak untuk hapus airmata kamu. Tapi harus aku jangan orang lain. Sekalipun kamu pukul aku dengan keras aku mau aku yang ada untuk kamu jangan orang lain. Kamu mau? "tanya Kivano pada Kyonara.
"Kivano" untuk pertama kalinya Kyonara memanggil Kivano dengan tegas namun penuh kasih. Hal itu membuat jantung Kivano berdetak semakin tidak karuan. "sekalipun nanti aku minta kamu untuk pergi dan jangan temuin aku. Kamu harus tetep datang dan temuin aku. Sekalipun nanti aku keras kepala untuk gak mau lihat kamu, kamu harus lebih keras kepala untuk ketemu aku. Kamu harus paksa aku lebih keras" jawab Kyonara membuat Kivano langsung memeluknya dengan erat. Kivano mengelus pelan rambut Kyonara. Didekapnya tubuh perempuan itu. Kivano membuat suasana menjadi sedikit lebih hangat. Kivano membiarkan dingin hancur berkeping-keping dengan kehangatan yang dibuatnya.
"Suho pernah berpisah dengan Bonara karena sakit yang dia alami dulu. Suho gak mau Bonara tahu tentang itu karena dia gak mau Bonara khawatir dan merasa kasihan atas hubungan mereka. Suho meminta Bonara untuk gak menemui dia, terus Suho pergi keluar negeri untuk menjalani pengobatan untuk waktu yang cukup lama. Bagaimana kalo itu terjadi sama kita?" tanya Kyonara setelah Kivano dan Kyonara melepas pelukan mereka.
" kita bukan Suho ataupun Bonara. Kamu Kyonara dan aku Kivano. Kita berdua bukan mereka. Kita gak akan mengambil langkah yang sama. Kita gak berada diposisi mereka dimana keduanya terlalu takut untuk berjalan bersama. Aku tahu dan aku yakin, kamu adalah perempuan yang sangat berani. Aku juga akan lebih berani. Kita sama-sama berani untuk segala hal yang kita rasa itu sulit. Walaupun ada kemungkinan kecil dimana kita akan memilih langkah yang sama dengan mereka pasti ada sesuatu yang berbeda setelahnya. Kamu tahu koin memiliki dua sisi yang berbeda walaupun ditempat yang sama. Pada saat nanti kamu atau aku minta untuk kita gak ketemu untuk selama. Kita harus berlari kearah yang sama dan bertemu" ucap Kivano dengan sangat yakin.
"Bagaiman kalo kita ingkar. Bagaimana kamu tahu kita seberani itu. Bagaimana kalo kita lebih menyedihkan dari pada Suho dan Bonara?" tanya Kyonara lagi.
"kamu terlalu takut?" tanya Kivano balik.
"Aku gak takut. Aku akan takut kalo aku lima menit berada jauh dari kamu. Bahkan kalo kita lagi kerja dilantai yang berbeda sesuatu hal bisa terjadi. Apapun itu. Walaupun kita saling memaki satu sama lain, aku gak akan takut karena aku masih bisa lihat kamu. Sekalipun kita ingkar nantinya aku gak perlu takut karena kita masih bisa bertemu untuk mengingkari janji yang lainnya. Tapi saat kita mencapai titik dimana kita sama-sama lelah dan kita menjauh aku akan mati ketakutan" jelas Kyonara memegang kedua bahu Kivano.
"Bonara dan Suho gak akan bertemu lagi tanpa suatu alasan yang lebih baik. Kita berdua gak akan bersama malam ini tanpa suatu alasan yang paling baik. Aku percaya banyak hal yang terjadi pada semua yang hidup karena suatu alasan. Garisan takdir itu ada dan gak bisa kita ingkari. Kita gak bisa berlari menjauhi garisan takdir. Seburuk apapun kita berdua kalo takdir kita untuk bersama maka kita kembali menuju jalan yang sama juga. Kamu tahu malam dimana salju pertama kali turun, aku berdoa supaya kamu menjadi dermaga dimana aku selalu ingin dan akan berlabuh untuk waktu yang sangat lama sampai perahu itu karam. Aku hanya berdoa. Bukan  berharap. Kenapa? Karena kalo aku berharap aku akan melupakan doa ku pada Tuhan bahwa aku menginginkan kamu dari dalam hati kecilku. Kamu tahu harapan lebih condong kepada obsesi dimana kamu akan berpikiran mengenai sesuatu hal dengan level yang sangat tinggi dan kalo itu gak menjadi nyata kamu akan merasa kalo kamu sudah dibohongi dunia" jelas Kivano membuat Kyonara meneteskan airmata haru dan bahagianya.
"ahh kenapa kamu cengeng banget sih ya" kata Kyonara yang akan menyeka air mata. Baru saja Kyonara akan menyeka airmatanya tangan Kivano buru-buru menghapus airmara Kyonara dengan pelan. Kivano membiarkan tangannya basah karena air mata Kyonara.
"sudah aku bilang, yang boleh hapus airmata kamu cuma aku" jelas Kivano memberikan senyuman terbaiknya pada Kyonara.
"kenapa kamu ganteng banget sih. Aku yakin perawat dirumah sakit tiap hari liatin kamu" balas Kyonara mencoba untuk mencairkan suasana.
"udah softskill dari lahir sih jadi ya gak bisa dipungkiri lagi kalo aku ganteng" jawab Kivano lalu terkekeh. "kamu beruntung punya pacar ganteng" lanjut Kivano.
"yatuhan aku menyesal bilang gitu hmm" canda Kyonara yang ternyata mendapat kecupan hangat di bibirnya dari Kivano. Kecupan singkat yang terasa sangat manis. Kyonara terkejut dan memuluk pelan bahu Kivano. Mereka terlihat sangat manis ketika melalukan hal-hal kecil yang lucu.

The First SnowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang