Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•●•
Seseorang sedang berdiri diluar sana. biar diperjelas, seseorang dengan rambut panjang berwarna hitam pekat, dengan wajah yang pucat dengan luka diseluruh bagian wajahnya, dengan pakaian panjang berwarna putih dengan semu semu warna merah darah. Sedang menatap mereka.
Perlahan orang itu mengetuk jendela lagi.
Tapi apa yang bisa empat gadis itu lakukan, mereka benar benar ketakutan sekarang.
Hanya diam, membuat seseorang diluar sana itu kesal terhadap mereka.
Dia menempelkan sesuatu di balik jendela.
Setelah orang itu menghilang, mereka mengeceknya.
"What is that?". Tanya Irene penasaran, ingin meraihnya tapi takut.
"Surat?". Ucap Seulgi tidak yakin.
"Ambil ". Perintah sang member termuda, namun tidak ada yang berani.
"Ntar tangan gue disamber gimana". Protes wendy karna teman temannya yang menatapnya seakan menyuruhnya mengambil surat itu.
"Ambil aja udah". Suruh seulgi lagi.
Dengan sedikit keberanian yang tersisa, tangannya tergerak untuk mengambil surat itu, baru saja jendela mau dibuka, surat itu sudah tertempel di permukaan dalam jendela, yang artinya surat itu sudah ada di satu ruangan dengan mereka.
Wendy hanya bisa bergidik ngeri dan mencabut surat itu.
"Apa tulisannya?". Tanya Irene tidak sabaran, wendy hanya berdecak sebal, "baru aja dibuka".
Kalian pasti bingung kenapa kalian tidak ada di rekaman cctv itu,kami sengaja membuat kalian tidak terlihat, karna kami hanya ingin membunuh kalian dengan cara yang lebih sadis.
"Maksutnya?". Tanya Yeri heran, "Lemot lo, maksutnya kalo mereka liat kita di cctv itu, bisa aja kita jadi tersangkanya, jadi mereka ngilangin kita biar mereka bisa bunuh kita dengan lebih sadis". Jelas Wendy.
"Yang terakhir gausah dijelasin juga".
•●• DAY 8 AT 00.00
"Seulgi".
"Seulgi".
"Seulgi".
Suara asing terdengar pada pergantian hari itu.
Seorang yang merasa disebut namanya pun terbangun mulai mencari asal suara tersebut.
"Seulgi".
"Seulgi".
Berisik, pikir Seulgi kesal, namun namanya terus saja dipanggil.
"Seulgi".
Suaranya terdengar lembut dan tinggi, membuatnya berpikir dua kali untuk keluar.
"Seulgi ayo keluar".
Siapa dia, batin Seulgi , kenapa temannya yang lain tidak terbangun?
"Seulgi".
"Keluar dari kamarmu, aku menunggumu".
Seulgi yang masih mengantuk tanpa berpikir panjang langsung keluar dan mencari asal suara, karna pikirannya yang masih belum sepenuhnya sadar.