Part 41 - Mulai beraksi?

62 4 18
                                    


-----

"Bagaimana bisa?" Tanya Alif baru datang sambil terengah-engah, dia baru saja berlari dari tempat parkir rumah sakit ke ruangan Malka di rawat.

"Gue gak tau, gue cuman dapat telpon dari rumah sakit. Ngasih tahu kalau Malka di temukan tergelak di lantai dengan darah terus keluar di hidungnya." Jawab Samudra sesekali melihat ke ruangan Malka, di mana para dokter sedang memeriksa sahabatnya.

"Lo udah ngasih tau keluarganya?" Tanya Alif duduk di samping Samudra. Walau dia masih marah sama Malka, tapi rasa khawatir nya pada sahabat barunya itu lebih besar di banding rasa marahnya.

Samudra menggeleng, "kemarin saat Malka hanya babak beluk dipukuli yang namanya boss itu, dia sempat bilang jangan ada yang tahu dia di rawat kecuali gue."

"Dipukuli?" Bingung Alif.

"Sebelum Malka kritis hari ini, dia kemarin hanya mendapat patah tulang rusuk juga hidung. Gue sempat jenguk dia tadi sepulang sekolah, dan dia baik-baik aja."

"Tapi pas gue pulang buat ganti baju tiba-tiba ada yang nelpon gue, ngasih tau keadaan Malka yang sekarang."

"Kok kedengaran nya aneh?" Bingung Alif.

"Aneh?"

Alif mengangguk, "lo bilang dia hanya mengalami patah tulang di rusuknya juga hidung nya kan? Terus kenapa Malka sampai jatuh di lantai, seperti kakinya juga ikutan patah?"

Samudra menyengitkan dahinya, tidak paham dengan pembicaraan Alif.

"Maksud lo?"

Alif berdecak, "maksud gue, kalau hanya rusuk nya yang patah. Ngapain Malka harus jatuh coba? Kakinya gak patah, kenapa bisa jatuh sampai ngeluar in darah gitu di hidungnya?"

"Jadi?"

"Lo dodol banget sih, Sam! Makanya gue bilang aneh."

"Hah?"

"Yang terjadi sama Malka tuh aneh, Samudra!!!" Jawab Alif mulai kesal dengan keterlambatan pola pikir Samudra.

Wajah Samudra mulai cerah, "nah iya. Kok gue gak sadar yah?"

Alif hanya bisa menepuk dahinya lelah dengan Samudra, "kita tunggu hasil pemeriksaan dokter. Baru kita bisa menyimpulkan apa yang terjadi sama Malka,"

Samudra hendak menanyakan sesuatu pada Alif, namun sudah terlebih dahulu di tahan Alif.

"Bertanya sekali lagi gue sunat lo, Sam." Ancam Alif membuat Samudra mengerucut kan bibirnya.

"Gue kan cuman bingung."

"Bingung lo tuh bikin gue mau sunat lo tau gak!"

-----

"Bagaimana keadaan teman kami, dok?" Tanya Alif berdiri menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan rawat Malka.

"Keadaan pasien masih kritis. Kami tidak menemukan gejala lain selain banyak nya darah keluar dari hidung pasien, dan juga detak jantung pasien yang terus melemah."

[LSS 1] Pacar Bohongan Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang