A&A-22

227 14 0
                                        

^•^

Luna menatap kotak berukuran 7x9 yang ada di pangkuannya dengan ragu. Bel bubaran sekolah baru saja berbunyi. Kelas pun sudah sepi. Kecuali dirinya dan Fani yang kini juga tengah menatapnya. Luna menoleh. "Ayo buruan," Fani bicara tanpa suara.

Luna menggeleng. "Aku takut," jawabnya juga tanpa suara.

Fani yang tadi sudah berdiri kembali duduk di sampingnya. "Kamu kan pacarnya. Kenapa takut?" Ia berbisik. Luna hanya menghedikan bahunya. Lalu menoleh ke belakang. Rama masih di kursinya mendengarkan musik lewat earphonenya seperti biasa. Tingkahnya juga seperti biasa, masa bodoh padahal hari ini adalah hari jadian mereka yang ke-dua bulan. Luna kembali menatap kotak hadiah yang akan ia berikan pada Rama hari ini. Namun ia tidak cukup berani untuk memberikannya. Ia hanya masih takut dengankejadian bulan lalu. Rama marah karena Luna memberinya kado hari jadinya di depan banyak orang, di lihat oleh satu kelas. Rama bilang, itu norak dan memalukan. Lantas setelahnya Rama mendiami Luna selama satu minggu.

Makanya hari ini Luna akan memberikannya sesudah bubaran kelas. Luna masih takut Rama masih akan marah. Tapi, Fani bilang gak perlu takut soalnya kan udah sepi. Benar juga. Lalu Luna menyuruh Fani untuk cepat-cepat pulang.

Luna berdeham, melemaskan semua persendiannya agar rileks. Ia menghembuskan napasnya. Lalu mendekati Rama yang malah berdiri dan menyelempangkan tasnya. Luna sontak berlari menghentikannya. "Rama!!"

Rama menoleh sambil melepas earphonenya. Alisnya naik sebelah seakan bertanya maksud Luna meneriaki namanya. Ia juga sempat melirik kotak kado dipelukan Luna.

"Ka... kamu... lupa ya hari ini hari apa?"

Ia lalu melirik seragam yang Luna kenakan hari ini. "Kamis."

"Bukan Rama."

"Emang sekarang hari apa? hari ini kita pake batik, berarti kamis bukan senen."

"Rama! hari ini hari jadi kita yang kedua bulan."

Luna kira Rama akan mengatakan, "Oh ya aku lupa sayang." atau setidaknya ia menepuk jidatnya. Bukan malah melengos dan mengatakan, "Oh."

Luna masih mencoba untuk menegarkan hatinya. Ia tersenyum sambil mendekati Rama. "Happy mensiversary. Gak kerasa ya kita udah dua bulan. Semoga kita lang—"

Rama mengangguk dan menerima kado pemberian Luna.

Luna langsung terdiam. Lagi-lagi bulan ini ia tak dapat kado dari Rama. Semoga bulan besok Rama akan ingat dengan hari jadinya.

Luna lalu ikut melangkah beriringan di samping Rama. Meski tidak ada obrolan. Bahkan hingga mereka sampai di parkiran. Rama belum juga mengeluarkan suara. Sebelum saat Luna ingin naik ke atas jok motornya. Rama menoleh. "Eh lo mau ngapain?"

Luna sedikit bingung dengan pertanyaan Rama. Maksudnya, mau ngapain lagi memang. Ya, Luna ingin pulang. Atau mungkin, Rama mau mengajak mampir ke suatu tempat. Ah, tidak mungkin.

"Lo... lo pulang naik motor yang Eliana bawa aja."

"Ha?"

"Gue ada urusan sama Eliana, " setelah Rama mengatakan itu. Tak lama kemudian Eliana datang dari arah belakang Luna. Memberinya kunci motor dengan wajah angkuhnya. Luna kesal ia lalu menatap Rama seakan minta penjelasan. Namun Rama malah seolah tak peduli dan mengenakan helmnya. "Pegangan El, takut jatoh," dan mengatakan itu di saat Luna masih berdiri di dekatnya. Eliana mengangguk sambil melingkarkan tangannya di pinggang Rama ia lantas tersenyum penuh arti ke arah Luna.

Luna membuang wajahnya. Ia menahan rasa sesaknya sampai Rama benar-benar pergi dari hadapannya. Tak lama air matanya jatuh. Seharusnya Luna sudah terbiasa bukan melihat hal ini. Selama dua bulan berpacaran dengan Rama yang Luna sadari adalah bahwa sikap Rama tak pernah berubah. Ia masih menganggap Luna hanyalah penganggumnya. Rama tidak pernah memperlakukan Luna spesial. Status mereka memang berubah. Namun, yang Luna rasakan sama saja. Bahkan ini lebih menyakitkan.

Luna terkejut ketika bahunya tiba-tiba disentuh seseorang. Ia menoleh kebelakang dan mendapati Gama. Tanpa pikir panjang Luna langsung memeluk laki-laki itu. Yang Luna butuhkan sekarang adalah pondasi atas keruntuhan hatinya. Dan Gama hadir di waktu yang sangat tepat.

"I'm okey," Luna bicara tanpa ditanya.

"You're not."

^•^

Gama yakin ini terdengar jahat. Namun, jujur saja Gama senang melihat Luna seperti ini. Ia senang ketika Luna menangis karena Rama. Ia senang ketika ia dapat menghabiskan waktunya bersama Luna lebih lama. Ia senang kini Luna dapat menjadikannya tempat bersandar. Ia senang bisa bermanfaat untuk Luna.

"Motor kamu udah aman. Supir aku udah sampai di rumah kamu." Gama memperlihatkan isi pesan supirnya. Luna hanya mengangguk.

Jadi, hari ini Gama memang sedang tidak membawa motor. Ia diantar oleh supirnya. Karena memang ia ingin mengajak Luna ke suatu tempat. Ia meminta supirnya mengembalikan motor Luna dan mobil Gama yang bawa.

Kini mereka sedang berada di sebuah dermaga. Tempat yang akan Gama dedikasikan sebagai tempat favoritenya bersama Luna. Ia suka melihat angin yang meliuk-liuk memainkan rambut Luna yang tergerai hingga Gama dapat mencium aroma shampoo yang digunakan gadis itu. Ia juga suka ketika pantulan cahaya matahari sore yang mengenai wajah Luna. Semua terlihat indah, dan semua itu adalah favoritenya.

"Kamu hebat."

Luna menoleh dengan mata sembabnya lalu kembali menatap laut. Ya, Gama memang senang ketika Luna menangis karena Rama maka karena itu Gama dapat hadir untuk Luna. Namun, melihat mata indah itu bengkak karena hal yang percuma membuat Gama kesal. Luna tidak layak sedih, Rama tidak layak membuat Luna sedih.

"Hebat dapat bertahan," Gama kembali bicara.

"Karena aku sayang dia."

"Dia gak menghargai kamu. Rasa sayangnya dia perlu pertanyaakan."

"Aku tetap ingin berjuang."

"Meski rasa dia gak selaras dengan perasaan kamu."

"Aku gak mau kalah."

"Dari siapa?"

"Eliana."

"Berarti kamu gak benar-benar sayang."

Luna kembali menatap Gama, kini lebih lama. "Kamu tau apa soal perasaan aku. Aku sayang Rama. Sangat."

Luna keras kepala.

Gama mengangguk. "Maaf. Aku cuma gak mau liat kamu kayak gini terus. Hanya karena kamu takut kalah oleh Eliana kamu mempertahankan laki-laki yang tidak benar-benar kamu cinta."

"Kamu tahu soal apa sih Gama!?"

"Kamu bisa tanyakan sama hati kamu."

Luna terdiam. Gama mengusap sisa air mata di ujung mata gadis itu. "Aku sayang sama kamu."

Luna menggeleng. "Aku sudah punya Rama."

"Aku akan menunggu."

Luna mundur selangkah. Wajahnya terlihat bingung. Ia lalu kembali menatap laut. Dan hal itu sedikit membuat Gama merasa sakit hati. Tapi, tekad Gama akan tetap sama. Ia akan menunggu Luna. Sampai gadis itu menyadari bahwa perasaanya pada Rama bukanlah rasa yang ia kirakan selama ini.

Altair & Aquila Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang