^•^
Luna sudah sering mengatakan bila ia adalah salah satu murid yang malas menginjakan kaki di lantai kantin. Alasannya karena Luna benci keramaian, dan juga aroma aneh yang tercampur disana. Tapi lain hal untuk Fani, gadis hyperaktif itu malah mencintai kantin. Bosan di kelas, ke kantin. Mangkir dari pelajaran ke kantin. Tapi, untuk beberapa minggu ini. Gadis itu lebih tenang. Malah katanya ia malas ke kantin. Sebab, mantan kekasihnya Kavi sering berada disana. Sesuatu yang bagus dan buruk sih untuk Luna. Soalnya, saat ada Fani di kelas di saat jam istirahat seperti ini, sangatlah mengganggu kegiatannya. Luna yang biasanya diam di kelas sambil mendengarkan musik dengan earphone dan membaca novel terganggu oleh ocehan random Fani.
"Lun coba deh kamu liat." Fani menunjukan sesuatu di ponselnya, lalu berujar, "Cowoknya biasa aja ya, tapi kok dia mau sih. Ah, aku tau pasti nih cewek mau morotin duitnya doang." Oh, lebih tepatnya, dia bergosip.
Luna memutar bola matanya. Percaya tidak percaya, untuk beberapa jam ini, sedari pagi, sudah lima nama orang yang Fani sebut sebagai topik gosipnya itu. Meski, Luna hanya membalas dengan kata oh atau dengusan kesal. Fani tetap saja melanjutkan.
Ternyata membosankan juga. Luna pun berniat untuk beralibi ke perpustakan pada Fani. Alih-alih ia ingin menemui Gama. Tapi, sebelum niat itu terucap. Luna sudah dikejutkan oleh kedatangan orang yang belakangan ini selalu ia hindari.
"Temenin gue yuk."
Luna mengabaikan ajakan yang entah orang itu ajukan ke siapa. "Fan, aku ke perpus ya."
Lalu orang tadi mencengkalnya. "Gue laper," dia berkata lagi.
Luna menepis. "Ya terus?"
"Temenin gue ke kantin."
"Tapi aku gak mau."
"Jangan buat gue gendong lo lagi. Inget ini di sekolah."
Luna menggigit bibir dalamnya menahan kesal. "Kamu maunya apasih?"
Rama lalu tertawa. Jika dulu tawa itu selalu menghangatkan hati Luna. Entah, sekarang hati Luna bukan lagi menghangat. Tapi terbakar.
"Gue laper. Pengen ke kantin, Luna."
Belum sempat melakukan penolakan. Tangannya sudah keburu ditarik Rama. Luna bahkan tersentak karena tingkah bodoh laki-laki itu. Iya bodoh. Sangat bodoh. Ketika tidak tahu sejak kapan Gama berada di depan kelasnya.
Gama menatap tangan Rama yang masih menggenggam tangan Luna. Lalu dengan sengaja, Rama menarik Luna agar semakin berdekatan dengannya. Kali ini ia menang. Rama seakan bicara lewat senyumnya.
Luna baru saja ingin mengatakan sesuatu pada Gama. Tapi, Rama sudah menariknya kembali dan melewati Gama begitu saja.
Gama menunduk. Tidak, ia sama sekali tidak merasa cemburu ataupun kesal. Yang ia rasa sekarang malah rasa takut. Ia takut sesuatu yang buruk menimpa Luna. Ia takut, Rama melakukan sesuatu untuk membuatnya menderita melewati Luna.
Lalu tanpa ada yang tahu. Di ujung koridor sana, Eliana mengepal tangannya kesal. Senyum culas tercetak di bibirnya. Matanya mengerling menyiratkan sesuatu yang seakan sudah ia rancang sebelumnya.
Seharusnya, ketika Gama merasa takut pada Rama. Ini kesempatan baik untuknya. Eliana harus menjalankan permainannya sebaik mungkin.
^•^
"Ayo dong buka mulutnya. Aaaa...." Rama menyodorkan sesendok siomay ke mulut Luna yang tertutup rapat.
Luna menatapnya dongkol. Laki-laki itu sadar tidak sih sekarang mereka sedang jadi pusat perhatian seisi kantin. Tingkah bodoh Rama yang lagi-lagi kumat membuat Luna memijat pelipisnya menahan malu. Bisa-bisanya, laki-laki pemilik predikat Pangeran es melakukan hal ini. Konyol. Bahkan Luna sempat ingin tertawa sebelum ia ingat betapa kesalnya ia dengan laki-laki ini.
Jika dipikir-pikir. Semua yang Luna hadapai ini seperti deja vu. Ini mengingatkannya dengan Gama. Betapa dulu laki-laki itu sama menyebalkan dan sangat memalukan. Dan betapa Luna juga ingin sekali menghindari laki-laki itu yang malah sekarang sukses membuat Luna tidak ingin jauh-jauh darinya.
Sedikit senyum tampil karena ingatan itu. Ah, bagaimana Luna bisa jatuh cinta dengan Gama secepat ini.
Lalu suara dentingan antara sendok dan piring mengejutkan lamunannya. Ternyata ulah Rama. Kini laki-laki itu menatapnya dengan sorot yang berbeda dengan beberapa detik yang lalu. Mata hitam legam itu menyorotkan kemarahan. Entah apa alasannya. Semua membuat Luna mengerutkan alis.
"Gue udah bilang. Gue gak suka kalo lo sama gue tapi pikiran lo sama cowok lain. Apalagi Gama!"
"Apansih!"
"Lo tadi lagi mikirin Gama kan?!"
Luna sudah kesal dengan tingkah laki-laki itu. Lagian, memang apa salahnya ia memikirkan Gama. Yang punya pikiran kan Luna. Kenapa Rama jadi repot. "Iya. Aku lagi mikirin Gama! Kenapa hah?!"
Rama pun langsung terdiam dan meninggalkan Luna begitu saja. Hal yang bagaimanapun mampu membuat Luna merasa sakit hati. Bagaimana bisa laki-laki itu melakukan Luna semena-mena seperti ini. Bahkan saat Luna sudah tidak punya hubungan dengannya laki-laki itu masih berani membentaknya lalu mengacuhkannya seperti ini.
Suara dentingan ponsel mengalihkan rasa kesal Luna. Saat mengeceknya, ia kembali menautkan alisnya heran.
0857687733**:
Aku Gama Lun. Aku mau ngomong soal yang tadi aku liat sama kamu. Temuin aku sekarang di gudang belakang deket lab sebelum jam istirahat selesai.
Luna sempat berpikir ini dari nomer iseng. Karena mana mungkin Gama ganti nomer telepon tanpa bilang dengannya. Lalu, untuk apa ia mengiriminya SMS seperti sekolahnya tidak menyediakan wifi saja.
Tapi, setelah kembali ia berpikir. Semuanya terasa masuk akal. Bisa saja ini memang Gama yang mungkin tadi sedang kesal jadi ia memilih SMS daripada Line atau WhatsApp. Mm... ini lebih terlihat maksa untuk dimasuki akal. Tapi, ya sudahlah. Jika pun ini orang iseng Luna akan mengabaikannya. Yang penting ia cek dulu ada apa memang di gudang sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Altair & Aquila
Teen FictionLuna berpikir, hidupnya tak jauh beda seperti bulan sabit. Redup, sendiri, dan tak utuh. Padahal, jauh dari kehidupannya masih ada yang memiliki kekelaman yang lebih kejam darinya. Luna tidak tahu, ia hanya berpikir. Hanya dirinyalah yang paling me...
