A&A- 16

268 13 1
                                        

Saat aku siap menjatuhkan hati, tandanya aku juga siap untuk patah hati

°•°

Gama berlari kencang. Tak peduli raut wajah orang-orang yang memandangnya sinis di sekitar koridor. Namun ada pula yang memandangnya heran. Karena sedikit darah kering tercetak jelas di sudut bibir laki-laki itu. Setelah insiden di dalam toilet tadi. Gama yakin hidupnya sedang dalam ancaman. Satu-satunya ancaman yang membuatnya ketir hanyalah satu nama.

Luna.

Gama akhirnya berhasil berdiri di ambang kelas Luna. Matanya segera melucuti tempat dimana Luna berada. Namun sialnya gadis itu tidak ada, kecuali teman dekatnya. "Fani! Luna dimana??" tanya Gama dengan nada ofensif.

Fani sedikit kaget. Tapi alih-alih menjawab. Sepertinya gadis itu lebih prihatin oleh luka di sudut bibir Gama. "Lo... lo kenapa??"

Gama menggeleng. "Gua gapapa. Luna dimana Fan?"

"Luna... Luna di kantin."

Gama menghela napas lega.

"Lo kenapa deh? bibir lo kenapa? lo abis berantem?"

Gama lagi-lagi menggeleng. "Ngga." Dia tidak berbohong. Dia memang tidak berantem tetapi dia ditonjok.

"Terus bibir lo?" ternyata Fani masih terus bertanya.

"Kejedot," jawab Gama asal.

"Kejedot kok di bibir."

"Emang kejedotnya di bibir," jawab Gama final, "gue ke kantin dulu ya."

"Eeh... mau ngapain!?"

Gama menoleh dengan raut heran. "Nyamperin Luna lah. Di kantin kan dia?"

"Ya tapi...."

"Tapi?"

Tak lama dari kata terakhir Gama terucap. Luna datang. Namun ia tidak sendiri. Dan hal itu benar-benar membuat Gama merasa sakit hati.

Luna menatapnya. Namun setidaknya dari tatapan bersalah Luna sedikit membuatnya bahagia.

Luna menoleh ke arah laki-laki yang datang bersamanya, di kedua tangan laki-laki itu terdapat dua piring siomay. Yang Gama yakini itu milik Luna dan milik laki-laki itu. Luna memang terbiasa membawa makanan kantin ke dalam kelas. Alasannya karena gadis itu tidak suka suasana kantin yang ramai.

"Kita makan di meja kamu aja ya Ram?" Luna bicara pada laki-laki itu. Ia lalu tersenyum pada Fani dan mengabaikan kehadiran Gama.

Gama diam. Ini terlalu menyakitkan.

Gama lalu tersenyum pada Fani. "Gue balik ke kelas ya."

Fani ikut tersenyum dengan raut wajah yang menyatakan tak enak hati. Sedang Gama membalasnya hanya dengan anggukan seakan mengatakan ia tak apa-apa. Nyatanya hatinya sedang ada apa-apa.

^•^

Di jam pelajaran terakhir ini. Luna dan Fani kebagian untuk menaruh buku paket pinjaman kembali ke perpustakan sebelum bel bubaran sekolah. Mereka saling sibuk. Luna sibuk menaruh paket pinjaman tadi ke tataan rak. Sedang Fani sibuk dengan ponselnya.

"Mm... Luna."

Luna hanya berdalih sebentar, tanpa menghiraukan Fani benar-benar.

"Kamu... gak ngerasa aneh?"

"Aneh? aneh apanya?"

"Ya aneh aja."

"Yang kamu maksud aneh itu siapa sih?" tanya Luna sambil menaruh lima buku terakhir ke dalam rak.

"Siapa lagi yang hari ini sikapnya aneh?"

Luna sempat terdiam. Ia lalu menghampiri temannya yang sedari tadi hanya duduk tanpa membantunya. "Rama?"

Fani mengangguk. Dan hal itu malah membuat Luna tertawa pelan. "Kenapa? kamu merasa sikap Rama yang berubah tiba-tiba gini punya maksud lain gitu?"

"Itu kamu tau."

Luna menggeleng. "Fani... aku gak yakin sih kalo Rama sampe kaya gitu. Gini deh, aku sama Rama itu gak punya masalah besar sampe Rama punya niat 'buruk' sama aku. Mungkin aja Rama luluh gara-gara perjuangan aku selama ini."

"Tapi aku nangkepnya gak kaya gitu...."

Luna lalu merangkul temannya. Sepertinya Fani sedang salah tangkap. Luna yakin, Rama bukanlah orang yang kurang kerjaan sehingga melakukan hal yang seperti Fani pikirkan. Bisa sajakan tanggapan Luna lah yang benar. "Fani yakin deh sama aku. Lagian ini kebahagian aku."

Fani terdiam cukup lama sebelum ia menghembuskan napasnya. Mungkin memang benar apa yang dikatakan Luna. Mungkin juga ini hanya ketakutan Fani saja. Apalagi tentang banyaknya opini milik Fani tentang hal negatif yang dimiliki Rama.

Fani mengangguk. "Maaf kalo pikiran aku terlalu negatif."

"Ih apaan banget sih segala minta maaf. Udah yuk ke kelas bentar lagi kayanya bel pulang deh."

^•^

Eliana menatap kembali ponselnya setelah ia selesai memasukan seluruh alat tulisnya ke dalam tas. Alisnya menaut seiring guru yang baru saja mengajar di kelasnya pergi meninggalkan kelas. "Kenapa deh nih anak tumbenan gak bales chat gue," ia bermonolog.

Lalu satu tepukan pada bahunya membuatnya sedikit terlonjak. "Duluan ya!" ternyata Frenka. Teman sebangkunya.

Eliana mengangguk. "Hati-hati Fren!" ia lalu kembali menatap ponselnya, masih berada pada room chat yang sama dengan kondisi yang sama pula. "Kayanya harus gue samperin ke kelasnya deh," ia kembali bermonolog, "sekalian balikin kunci juga deh."

Seraya memakai tas ranselnya dengan sempurna Eliana segera menuju kelas Luna yang memang cukup berjarak jauh dari letak kelasnya. Namun tak payah banyak waktu, paling hanya kurang dari lima menit Eliana sudah berada di depan kelas itu. Dan untung saja Eliana datang di waktu yang sangat tepat. Karena Luna baru saja keluar dari kelasnya.

"Luna," panggil Eliana.

Luna diam namun matanya seakan mengatakan ada apa. Tanpa basa-basi lagi Eliana langsung memberikan kunci motor Luna yang memang masih berada padanya. "Aku kayanya gak bisa pulang bareng kamu. Soalnya...."

Ucapannya menggantung ketika orang yang memang sedari tadi ia cari-cari baru saja muncul. Eliana baru saja ingin menyapa sebelum ucapan laki-laki itu membuatnya bungkam.

"Luna, pulang bareng gue ya."

Terlihat wajah terkejut nampak di wajah Luna. Bahkan dari gesturnya memperjelas bahwa Luna sedang salah tingkah.

Dahi Eliana mengkerut heran. Lho... lho, kenapa jadi Luna. Bukannya tadi pagi Rama berjanji mentraktirnya sepulang sekolah. "What??" ucapan itu reflek keluar dari bibirnya. Dan hal itu juga yang sepertinya membuat Luna kembali ke alam sadarnya. Karena setelah itu, gadis itu kembali memberikan kunci motornya pada Eliana, sambil berkata dengan wajah cemooh. "Kayanya kamu deh yang lebih butuh motor ini." setelah itu Luna beranjak pergi dengan Rama yang melangkah beriringan dengannya.

Eliana masih berdiri di tempat. Nalarnya masih tak menyangka. Mana mungkin Rama bisa suka dengan Luna?!

^•^

Altair & Aquila Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang