^•^
Malam sudah cukup larut. Luna yang tengah sibuk dengan tugas pada laptopnya terusik atensinya, ketika telinganya tanpa sengaja mendengar deru motor yang sudah ia hafal luar kepala. Lantas ia buru-buru menyerbak selimutnya. Dari jendela kamarnya Luna mencoba melihat orang di luar gerbang rumahnya itu. Namun karena letak kamarnya yang bersampingan dengan taman samping, dan saat melihat lewat jendela banyak tumbuhan yang menutupi penglihatannya. Luna sampai membuka jendelanya, sambil menjenjangkan lehernya. Tapi, tetap saja Luna tidak adapat melihatnya dengan jelas. Akhirnya, Luna memilih melihat langsung ke depan.
Dan betapa terkejutnya ketika ia melihat Eliana bersama Rama. Sebentar, bagaimana bisa mereka... Mereka bertemu!?
"Rama..."
Rama menoleh, tanpa ekpresi yang sedari tadi Luna harapkan. Ia kira Rama akan ketakutan. Namun, laki-laki itu malah membuang muka padanya. Hei! Disini ia yang ke tangkap basah mengantar gadis lain. Dan kenapa masih Luna yang dianggap salah. Luna mendekati gadis itu. Menyenggol Eliana sedikit, seakan memberitahunya bahwa sebaiknya gadis itu pergi.
"Kamu... mau masuk dulu?"
Rama hanya menghembuskan napasnya. "Pulang diantar siapa?" lantas ia bertanya.
Luna menjawab sedikit ragu. "Gama."
Rama mengangguk. "Gue pulang dulu." Luna hanya dapat diam. Melihat Rama yang sibuk menyalakan mesin motornya lantas pergi begitu saja.
Luna mendengar suara tawa tertahan di belakangnya. Ia menoleh. Alisnya menaut tak suka ketika Eliana lah yang tertawa. Sudah pasti Luna yang ia tertawakan.
Luna mencoba untuk tidak peduli. Karena jika ia bereaksi, bisa jadi si medusa itu semakin gencar menertawakannya. Luna menarik knop pintu namun tertahan saat ia mendengar Eliana berbicara yang mana lagi-lagi memancing emosinya.
"Omongon gue yang waktu itu gak main-main lho Lun." Eliana tersenyum padanya, Luna membuang muka. "Gue, bakal dapetin Rama secepatnya."
^•^
Merelakan orang yang kita sayang bahagia dengan orang lain itu memang tidak main-main rasa perihnya. Mungkin terucap mudah. Atau kalimat lain. Akan bahagia bila melihat orang yang kita sayangi juga bahagia. Memang iya, namun dalam beberapa kasus. Seperti mengikhlaskan atau merelakan itu terdengar terlalu fiksi. Sebahagia apapun diri kita. Tanpa bisa di pungkiri rasa ingin memiliki atau merebut kembali pasti ada. Dan kini, Gama merasakannya.
Gama tidak bisa munafik. Ia kesal ketika Luna malah memilih Rama. Oh ayolah, Gama tak kalah keren dari laki-laki itu. Jika hanya karena Luna sudah naksir Rama dari lama. Itu bukan sebuah alasan. Gama yakin, Luna hanya terlalu excited karena seseorang yang ia inginkan sejak dulu sudah menjadi miliknya. Luna hanya ingin menyempurnkan hasratnya tanpa benar-benar mencintai. Jangan bilang Gama sok tahu. Ini sudah ia observasi. Dari perilaku Luna pada Rama, dan respond balik Rama pada Luna yang malah biasa saja. Jatuhnya terlihat Luna sang fans yang sedang memuja idolnya yang bahkan tidak peduli.
Bahkan tadi, saat Bunda menyuruhnya untuk menemui Bunda dengan Luna. Dan bagaimana Luna yang takut akan Rama yang tak mengizinkannya. Dan sikap Rama yang marah pada Luna karena akhirnya Luna pergi dengannya. Pasti sekarang Luna sedang merasa bersalah, karena ia berpikir Rama sedang cemburu. Padahal Gama tahu, laki-laki itu hanya sedang merasa kalah.
Pintu tiba-tiba terketuk. Bunda hadir setelahnya. Senyum hangatnya menular pada Gama. Lantas ia segera membalik iPadnya. Karena ia takut Bunda melihat apa yang sedang ia lihat.
Bunda ternyata membawa satu mug susu coklat hangat untuknya. Sambil memberikannya pada Gama ia bertanya, "Bagaimana hasilnya tadi?"
"Bagus semua Bunda. Ada peningkatan juga. Semuanya semakin baik."
Bunda duduk menyamping di sisi kasur. Melirik iPad yang masih di genggaman Gama. Ia lalu kembali tersenyum. "Bunda optimis. Sejak dulu. Bahwa kamu pasti sembuh." Bunda mengusap lembut rambut putranya. Gama mengangguk. Hal ini yang membuatnya selalu merasa lebih baik daripada Rama sekaligus merasa bersalah. Ia memiliki Bunda. Saat ia sakit, saat ia sedih, kecewa, sakit hati. Ia memiliki Bunda. Walau Bunda bukanlah seorang ibu yang akan selalu hadir. Bunda harus bekerja, Gama memahami itu. Tapi setidaknya Bunda akan hadir di waktu yang memang sedang dibutuhkan.
"Kamu sudah tahu?"
"Tahu apa bunda?" Gama meminum susunya hingga setengah lalu menaruhnya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya.
"Luna... pacaran ya sama Rama."
Gama hanya mengangguk.
"Kamu gak sakit hati?"
Gama tertawa. Jangan ditanya soal sakit hati. Tapi, Bunda gak boleh tahu. "Nggak. Sedikit sih."
"Nggak apa sedikit?"
"Sedikit."
"Bener?"
"Rama, perlu bahagia juga kan Bunda?"
"Kalian. Bukan hanya Rama."
"Tapi Gama sudah cukup bahagia."
Bunda lalu terdiam. Terlihat jelas raut rindu dari matanya. Tiba-tiba bunda menangis. Dan ini sudah sering terjadi. "Bagaimana dia sekarang?"
"Baik Bun. Cuma saja... dia kelihatan lebih sedikit hitam." Gama terkekeh alih-alih mencairkan suasana. "Anak laki-laki, biasa." Sambungnya.
"Bunda kangen."
"Dia masih sulit untuk diajak bicara."
"Bunda ngerti."
Bunda lalu berdiri setelah mengucapkan selamat tidur pada Gama. Sebelum kembali menutup pintu Bunda lagi-lagi berbicara, "Bunda yakin. Kalian bisa bersaing dengan sportive untuk mendapatkan Luna. Jangan cuma diliatin aja fotonya. Besok bawa dia lagi temui Bunda. Kayanya besok Bunda masih libur."
Gama tertawa. Ia lalu membalik kembali iPadnya. Terpampang jelas disana foto Luna yang Gama screenshot dari feed Instagram Luna. Ia lalu kembali tertawa menyadari kelakuannya yang konyol. Oh cinta, benar-benar bikin gila dan itu bukan hoax.
KAMU SEDANG MEMBACA
Altair & Aquila
Novela JuvenilLuna berpikir, hidupnya tak jauh beda seperti bulan sabit. Redup, sendiri, dan tak utuh. Padahal, jauh dari kehidupannya masih ada yang memiliki kekelaman yang lebih kejam darinya. Luna tidak tahu, ia hanya berpikir. Hanya dirinyalah yang paling me...
