“Mengawali hal asing itu sulit. Ku harap kau mengerti”
°•°
Tidak seperti biasanya, Papa mengunjungi kamar Luna. Kini sudah pukul sembilan malam. Sebetulnya Papa terkejut saat mendapat panggilan telepon dari Akash dan laki-laki itu mengatakan bahwa Luna sudah kembali ke rumah. Kini ia menghampiri Luna, gadis itu sudah tertidur sejak pukul lima tadi.
Sentuhan pada dahinya menyentak Luna hingga ia terbangun. Ia sempat terkejut saat melihat papanya sudah berada di sampingnya. Dan tanpa berkata apa-apa lagi, Luna memeluk pria itu. “Maafin Luna....”
Luna sangat sadar bahwa apa yang ia lakukan hari itu sangatlah salah. Benar kata Zoya, bagaimanapun dirinya tak suka pada wanita yang Papa nikahi. Setidaknya ia menghargai papa. Bukan berlagak layaknya anak tak tahu diri seperti ini. “Luna salah... maaf Pa... jangan benci Luna....”
Papa tertawa, tangannya dengan lembut mengusap puncak kepala Luna. “Kenapa papa harus membenci kamu. Kamu anak papa, mana ada seorang ayah yang akan membenci putrinya.”
“Tapi kak Zoya bilang gitu...”
“Bilang apa?”
“Papa benci aku...”
Papa lagi-lagi tertawa. Terkadang, sikap papa yang seperti ini yang membuat Luna semakin takut kehilangan. Ini termasuk salah satu alasan mengapa Luna sangat tidak menyutujui papanya menikah. Ia hanya takut kehilangan kasih dari papanya. Hanya itu.
“Papa gak benci sama Luna. Gak sama sekali. Hanya saja, yang kamu lakukan kemarin tidak benar. Kamu tau apa yang kamu lakukan salah Luna?”
Luna mengangguk. “Luna tau, dan Luna menyesal.”
Papa tersenyum lalu merengkuh wajah putrinya yang kini nampak berantakan, rambut terurai tak jelas, belum lagi ingus dan air mata yang belepotan kemana-mana. “Sekarang kamu cuci muka, ganti seragam kamu juga. Setelah itu keluar, papa tunggu untuk makan malam bersama.”
Luna mengkerutkan dahi. “Bukannya papa sudah makan malam?”
“Kata siapa?”
“Tadi papa pergi.”
“Papa hanya mengurus pekerjaan yang memang harus diselesaikan sekarang.”
Luna mengangguk dan bertanya lagi dengan suara pelan, “Lalu mereka kemana?”
Papa menghela napasnya, ia paham betul dengan maskud Luna tentang ‘Mereka’. Ia lalu bangkit berdiri sambil menjawab, “Tadi tante Maura dan Eliana harus pulang dulu ke rumahnya yang lama. Ia harus mengambil surat-surat penting yang masih tertinggal.”
Luna mengangguk mengerti.
“Sudah, ganti pakaian mu. Papa tunggu.”
Tidak butuh waktu lama bagi Luna untuk sekedar mengganti pakaian dan membasuh wajah. Ia segera pergi ke meja makan, sesuai permintaan papanya tadi. Di tempat makan sudah benar-benar lengkap. Lengkap dalam arti, ya mereka semua ada disini. Papa, kak Zoya, tante Maura —istri Papa— dan Eliana —Anak tante Maura— Luna merasa canggung berada di antara mereka. Apa mungkin ia canggung karna merasa bersalah.
Luna lalu duduk sambil menyendok nasi ke dalam piring untuknya sendiri. “Tadi Akash kemari. Kembaliin motor kamu.” Papa mulai berbicara lagi.
Luna menoleh. “Oh iya? Terus, papa taruh mana kuncinya?”
“Tadi papa taruh di nakas mu.” Luna hanya menangguk. Ia kembali sibuk memilah lauk yang ingin ia makan.
“Jadi... kita bisa berangkat bareng dong ke sekolah. Kamu bawa motor ya?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Altair & Aquila
Teen FictionLuna berpikir, hidupnya tak jauh beda seperti bulan sabit. Redup, sendiri, dan tak utuh. Padahal, jauh dari kehidupannya masih ada yang memiliki kekelaman yang lebih kejam darinya. Luna tidak tahu, ia hanya berpikir. Hanya dirinyalah yang paling me...
