^•^
"Aku mau nanya deh sama kamu."
Gama menoleh sambil terus mengaduk bubur ayamnya. Ia tersenyum ketika melihat Luna sibuk memisahkan daun bawang dari atas bubur ayamnya. "Sini kasih ke aku aja."
Luna mendongak. "Daun bawangnya?"
Gama mengangguk. "Mau nanya apa?"
"Oh iya." Luna menelan isian dalam mulutnya agar tak terlalu penuh. "Kenapa harus jam tiga pagi?Maksud aku, sekarang hari minggu. Kamu bisa datang jam segini untuk sekedar ngajak aku main skateboard. Kalo orang normal sih pasti mikir gitu. Dan sekarang aku baru ingat. Kamu jauh dari kategori orang normal. So, that makes sense."
Gama terkekeh, "Kamu nanya untuk kamu jawab sendiri ya?"
"Tapi serius deh, kenapa sih harus jam tiga?"
Gama melirik jam tangannya. "Karena jam delapan nanti aku harus ke rumah sakit."
"Nemenin Bunda check up lagi?"
"Iya."
"Sebentar ya. Aku mau ke warung sebelah, mau beli minum."
"Biar aku aja." Gama menyela.
Luna menggeleng. "Gak usah."
Gama hanya menghembuskan napasnya pelan lantas kembali menyantap sarapannya. Tak lama ia mulai terdiam. Setetes cairan yang selalu saja membuatnya khawatir kembali hadir. Gama terus menunduk, menunggu tetesan selanjutnya. Rasanya ini sudah cukup banyak. Dengan tangan berkeringat dingin. Gama mengaduk buburnya dengan bergetar. Menyatukan darah merah itu tercampur ke dalam kaldu bubur yang ia harap tidak ada satu orang pun yang akan menyadari ini.
Ia lalu bergegas merogoh saku celananya, mengambil sapu tangan yang selalu ia antisipasi untuk hal-hal semacam ini. Ia mendongak, berharap darah itu cepat berhenti.
"Pak, tolong jemput saya sekarang ya pak." Gama menelpon supirnya. Ia rasa semesta mulai memperkenalkan kuasa-Nya. Ia memperpangkas waktu disaat Gama ingin sesuatu yang lebih lama. Sebuah waktu yang ia coba keras akan lebih bermakna. Meski singkat, Gama harap semua tidak sia-sia.
Luna.
Nama itu yang selalu meyakinkan Gama. Ia akan hidup lebih lama. Bahagia. Tanpa perlu memikirkan waktu singkat yang hanya membuatnya sesak.
Gama membayar semua pesanannya dan pesanan milik Luna sebelum pergi. Ia juga sempat menitipkan pesan pada penjual buburnya, bila nanti Luna mencarinya, tolong katakan bahwa ada urusan mendadak yang harus Gama datangi.
Gama berjalan dengan tubuh lemas. Pak Tono ia perintahkan untuk menjemputnya di depan Gapura. Sebenarnya, pak Tono masih dalam perjalanan. Namun, karena Gama tidak bisa terlalu lama berada dekat Luna. Jadi ia memutuskan untuk menunggu pak Tono di dekat pos satpam.
Gama merasakan seluruh tubuhnya nyeri. Beberapa bagian tubuhnya pun mulai menampakan bintik merah. Ia tahu keadaannya mulai memburuk sekarang. Jadi ia kembali menelpon pak Tono. Beliau bilang ia sudah dekat dan kira-kira lima menit lagi akan sampai.
Saat melihat mobilnya sudah dekat. Gama langsung berdiri dan memasuki mobilnya. "Kerumah sakit sekarang ya pak!"
"Iya den! sabar ya den!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Altair & Aquila
Teen FictionLuna berpikir, hidupnya tak jauh beda seperti bulan sabit. Redup, sendiri, dan tak utuh. Padahal, jauh dari kehidupannya masih ada yang memiliki kekelaman yang lebih kejam darinya. Luna tidak tahu, ia hanya berpikir. Hanya dirinyalah yang paling me...
