Lembaran 22

675 85 13
                                        

Manik matanya terus menatap Kegan dengan was-was. Tangan kanannya dipegang dengan erat seakan tahu cewek itu akan kabur. Mungkin seharusnya ia senang ketika Kegan memegang tangannya erat seperti ini. Namun tidak dengan alasan cowok itu menarik tangannya.

Apa dia bilang tadi? Menyemangati dan mendukung?

Masa bodo dengan perhatian itu. Sesenang apapun dirinya mendengar Kegan yang mendukungnya tidak akan membuat otak Ariel-Jessy menjadi pandai mengemukakan pendapat dengan instan. Ia harus memikirkan cara agar bisa lepas sebelum mereka sampai diruangan yang Ariel-Jessy pun tidak tahu letaknya dimana.

Oh ayolah, tidak ada orang yang ingin tertangkap basah dalam menyembunyikan sesuatu dari orang lain.

Langkah kaki Kegan membawanya ke pinggir lapangan tenis yang diisi oleh beberapa siswa yang menonton latihan anggota lainnya-

Duk!

"Aw!"

Seketika perhatian mereka teralih, bahkan langkah Kegan pun berhenti.

Ariel-Jessy merutuki seseorang yang baru saja memukul bola dengan semabarang hingga mengenai kepalanya. Ia harus tahan merasa pening di kepalanya.

"Lo gak apa-apa?" Tanya Kegan, cowok itu lalu berbalik untuk menatap pemain tenis yang baru saja memukul bola kearah Ariel-Jessy.

"Woy siapa yang mukul bola gak pake mikir?!" Teriaknya.

Cewek itu mengerjap, teringat sesuatu. Ia lalu menatap Kegan takut-takut dan ternyata cowok itu tengah memunggunginya membuat Ariel-Jessy bersorak dalam hati.

"Aduuh pusing..." Lirihnya lalu dengan terpaksa menjatuhkan tubuhnya di lantai semen yang panas.

Sejenak ia meringis ketika kulitnya menyentuh lantai semen yang cukup panas terpapar sinar matahari seharian.

Kegan langsung menoleh dan terkejut sudah mendapati Ariel-Jessy terlentang. Ia segera berjongkok.

"Riel, Ariel!" Kegan mencoba menyadarkan cewek itu dengan menepuk pelan pipinya.

"Ah sial." Rutuknya lalu menggendong tubuh Ariel-Jessy. Berjalan dengan tergesa menuju UKS.

🍃🍃🍃

Mengerjap, merasa linglung dan silau. Tubuhku terasa melayang dan dibawa setengah berlari. Lalu ketika mataku terbuka dan mendapati dada bidang seseorang berkaos biru. Aku langsung tersentak mencoba mendorong dada itu menjauh hingga terdengar suara.

"Ck, lo pura-pura pingsan!?"

Deg.

Apa?

Aku pura-pura pingsan?

Segera kepalaku mendongkak dan melongo melihat wajah kak Karel begitu dekat dengan wajahku dan dia tengah menatapku dengan tatapan kesal.

Apa? Aku salah apa sekarang? Apa yang sudah dilakukan aku yang lain hingga sampai membuat kak Kegan menggendongku!?

Langkah kak Kegan semakin cepat hingga kami memasuki sebuah ruangan dengan bau yang khas. Ia lalu setengah melemparku di ranjang UKS. Membuatku meringis karena bokongku mendarat dengan tidak lembut.

"Udah berani ya, lo ngadalin gue!" Seru kak Kegan.

Aku hanya menunduk, meremas rok yang aku pakai.

"Maaf..." Kataku pelan.

"Maaf!? Lo bilang maaf!?" Serunya benar benar kesal.

I Borrow Your Boyfriend [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang