Lembaran 14

673 90 10
                                        

Kak Kegan bilang; Maksud gue, lo harus terbuka. Mereka jadi berpikir yang lo lakuin itu gak penting.

Jika aku mulai terbuka, semuanya akan mudah bagiku?

🌸Ariellea Mahardika🌸

Lembaran 14

Mereka kini meninggalkan aku menuju tasnya masing masing, yah setelah memberiku beberapa pertanyaan. Mungkin mereka ingin sedikit mengenal dengan adik kak Karel yang satu ini. Aku kembali fokus pada secarik kertas, membaca salah satu soal permasalahan yang akan didebatkan nanti. Otakku berputar untuk mencari latar belakang permasalahan lalu mencoba berpikir dari sudut pandang orang yang kontra terhadapnya.

"Istirahat sampe kapan?"

Aku mendongkak, dan mendapati kak Kegan berdiri menjulang dihadapanku dengan jaket tersampir dibahunya. Nafasnya masih ngos-ngosan namun tidak separah tadi. Lalu aku memalingkan perhatianku pada sebrang lapangan. Kak Tiana sudah bergabung dengan timnya.

Sret

"Eh?" Kak Kegan menarik tanganku hingga aku berdiri, hendak menggiringku keluar lapangan namun aku menahannya.

"Kemana kak?"

"Kantin, gue istirahat."

"A-aku udah bawa camilan, dan air buat kakak." Kataku cepat.

Ia menoleh, dengan salah satu alis terangkat.

"Perasaan gue gak nyuruh." Celetuknya membuatku meringis malu. Lalu tatapannya menunduk, selang beberapa detik, tubuhnya juga ikut menunduk mengambil kantung keresek.

"Ini?" Tanyanya memastikan, aku mengangguk. Ia lalu kembali menarikku keluar, sebelum melewati pintu aku melirik kak Tiana yang ternyata tengah menatap kearah kami.

"Kakak, mau kemana?" Tanyaku ketika langkah kami menuju parkiran bukan lagi kantin.

"Jalan." Katanya.

Mulai lagi dia bicara ngirit.

"Anu... Aku harus udah ada disekolah sebelum jam satu siang." Kataku.

Kak Kegan menghentikan langkahnya, lalu meliriknya yang menunjukkan pukul 11.30 .

"Masih ada waktu sejam lebih." Katanya, kembali melanjutkan langkahnya.

Aku berhenti ketika ia menaiki motornya, bersiap mengenakan helm.

"Kak, naik angkot aja yuk." Ajakku yang membuatnya mengerutkan dahi.

"Maksud lo?"

Maksud aku tuh, aku gak mau diboncengin sama kakak pake motor gituan, apalagi kakak kalo udah ngejalanin motor udah kayak gak inget umur.

Geramku, dan hanya didalam hati. Jika aku mengatakannya mungkin ia akan mencekiku?

"Na-naik angkot aja yuk kak. Emang mau kemana? Sayang bengsin." Kataku mencoba membujuk.

"Naik angkot emang gak sayang ongkos?" Tanyanya balik membuatku bungkam.

Ia lalu mendengus, meletakkan kembali helmnya. "Lo gak mau naik motor gue?" Tanyanya membuatku hanya mengangguk.

Ia lalu turun dari motornya dan berjalan mendahuluiku.

"Atap." Katanya.

🍃🍃🍃

Semilir angin menyapaku ketika aku keluar dari pintu penghubung. Matahari kali ini tidak terlalu terik, namun masih memancarkan sinarnya memenuhi lantai semen atap sekolah. Tidak menyisakan sedikitpun tempat yang teduh. Langkah kakiku mengikuti langkah kak Kegan yang berada di pinggir atap yang tanpa pagar pembatas.

I Borrow Your Boyfriend [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang