Lembaran 17
Siang ini mungkin tidak terlalu cerah, namun juga tidak bisa dikatakan mendung. Sama sekali tidak bisa menggambarkan suasana hatiku saat ini. Aku kembali melirik paper bag yang aku peluk sebelah tangan. Didalamnya terdapat dua kotak bekal berisi nasi goreng dingin karena dibuat subuh tadi.
Bangun tidurku dikejutkan dengan dering ponsel berisi pesan dari kak Kegan yang ingin dibuatkan bekal untuk makan di jam istirahat. Ah iya, aku juga dikejutkan dengan paper bag berukuran besar berlogo salah satu brand busana di nakas. Hatiku menghangat disaat rasa kesal masih menumpuk. Kak Tiana membelikan aku sebuah terusan cantik namun sederhana berwarna putih gading dengan bagian roknya cukup pendek untukku.
Hari ini aku memilih berangkat lebih pagi seperti kebiasaanku sebelum kak Kegan mulai mengajakku berangkat sekolah bersama. Naik angkutan umum dan sampai di sekolah lima menit setelah pak satpam membukakan gerbang. Ah iya, uang jajanku juga sudah tidak diambil lagi. Kak Tiana memang orangnya baik, tidak tega meski ia sempat marah. Padahal aku ini adik tirinya.
Aku berusaha membuka tutup botol air mineral dengan kesusahan dan akhirnya berhasil. Meminum nya sambil berjalan melewati lapangan basket indoor, kak Kegan memintaku ke atap untuk menyerahkan bekal. Atap waktu aku bolos latihan debat. Well, tadi sebelum aku kemari, aku mendapat ceramah dari guru pembimbing perihal bolos hari sabtu kemarin. Jadi, sekarang aku tengah gugup dan cemas bersiap di omeli kak Kegan yang pasti sudah menunggu-
Sret
Mataku terpaku pada sosok yang tiba-tiba ada dihadapanku dengan merebut botol air mineral. Jakunnya naik turun dengan cepat menandakan bahwa ia begitu kehausan. Botol air mineralku kandas tak bersisa ketika tangan besar menjulurkan botol itu didepan hidungku.
Aku mengerjap, memperhatikan kak Kegan yang berada di depanku. Seragam sekolahnya tersampir dibahu kiri, sedangkan ia kini hanya memakai kaos oblong berwarna putih yang melekat basah penuh keringat ditubuh atasnya, ia masih memakai celana seragam sekolah.
"Gue udah nunggu di atap lama, ya udah gue kesini main sama anak-anak." Katanya menjelaskan keherananku akan keadaannya sekarang.
Lalu tatapannya turun kearah paper bag yang aku bawa. Tangannya dengan cepat mengambil alih dan memimpin di depan ketika aku mengikuti langkahnya.
🍃🍃🍃
Brak
Sedikit tersentak ketika sebuah novel yang masih rapi terbungkus plastik di lempar tepat ke pangkuanku. Aku yang tengah mengunyah nasi goreng dingin mendongkak.
"Ketinggalan." Katanya lalu kembali makan dengan memandang ke depan. Posisi kami sama seperti saat latihan dihari sabtu. Menikmati pemandangan berupa siswa siswi Mataram yang kini tengah menghabiskan jam istirahat mereka.
"Terima kasih, kak." Tentu saja aku harus mengucapkan itu. Sudah dibelikan dan dibawakan novel. Ternyata kak Kegan baik.
Kami kembali diam, menikmati makanan kami. Semilir angin terkadang menerbangkan helaian kecil rambutku membuat tanganku terangkat untuk merapikannya kembali.
"Lo kapan lombanya?" Tanya kak Kegan yang merasakan kecanggungan diantara kami.
Aku menelan makananku sebelum menjawab.
"Sekitar seminggu lagi." Kataku.
Ia hanya bergumam,
"Riel,"
"Iya kak."
"Nanti siang gak apa-apa gue gak anter lo pulang?"
Dahiku berkerut, ia menoleh kearahku.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Borrow Your Boyfriend [COMPLETED]
Fiksi RemajaAriellea Mahardika yang memiliki gangguan Dissociative Identity Disorder atau kepribadian ganda hanya ingin menjalani kehidupannya dengan normal seperti remaja lainnya dan berusaha untuk tidak membuat ulah yang akan menyebabkan beberapa sosok asing...
![I Borrow Your Boyfriend [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/154423995-64-k903089.jpg)